Seorang laki-laki berkumis, berjenggot tipis tampil dengan pose setengah badan, tanpa baju percaya diri (pede) memamerkan tatto jantung merah tertembus panah terrajah di kulit dada kanan.
Penampilan cukup meyakinkan, kedua tangan dilipat di depan dada. Ditambah dengan ikat kepala udeng putih dan keris terselip di pinggang, terselimut kain saputpoleng diikat kain merah yang mengingatkan dengan tampilan sosok Pecalang, penjaga keamanan tradisional Bali.
Wajah tenang, bibir terkatup dengan pandangan lurus ke depan, menyiratkan wibawa. Sosok ini berpose di depan latar tembok putih berbingkai ornamen Bali yang berisi sketsa candi bentar dan pelinggih simbol kesucian, namun penuh dengan coretan dan celoteh kasar dan spontan berbahasa Bali.
Arya Palguna, Selfie, 60x50cm, Collage and acrylic on canvas, 2018
Itulah salah satu karya I Made Arya Palguna yang dengan lugas menyandingkan tanda-tanda religius, suci, sakral dengan tanda-tanda profan, populer dan kasar dalam satu bidang kanvas. Seperti ingin mengungkapkan nuansa paradok dalam wajah Bali masa kini. Karya yang diberi judul “Selfie” ini, secara visual juga juga dapat menjadi petunjuk jika Palguna kini ada di Bali.
Setelah lebih dari 20 tahun berpetualang di Yogyakarta, kini saatnya Palguna berlabuh, berpijak kembali di tanah Dewata, merasakan tatapan matahari Bali.
Kembali memulai menata hidup di Bali, menjadi moment yang sangat istimewa. Suatu fase menyambung kembali jejak ingatan yang tertinggal dan bersanding dengan realitas yang telah berubah. Fase yang penuh dengan getaran emosi yang mengalir memenuhi rasa, meletupkan energi yang kemudian mampu disalurkan dan ditransformasikan dengan elok ke dalam media kanvas atau kayu menjadi karya seni lukis dan patung yang mengesankan.
Palguna lahir dan dibesarkan di desa Ubud, desa dengan sejarah seni yang gemilang, tempat terjadinya percumbuan dan pergulatan para revolusioner di bidang seni yang berhasil menumbuhkan gerakan seni rupa modern Pita Maha. Di desa ini Palguna menikmati masa kecil hingga remaja.
Pada tahun 1996 Palguna melanjutkan studi seni ke ISI Yogyakarta. Yogyakarta menjadi rumah ke dua bagi Palguna. Kota ini tidak hanya mengajarkan ilmu di bidang seni, tetapi juga merupakan tempat mematangkan diri, menumbuhkan tunas hati yang memekarkan keluarga kecil. Angan-angan dan harapan akan masa depan telah tergantung tinggi di kota ini, namun sebagai orang Bali, “Sejauh-jauhnya melangkah menyeberangi lautan, terbang melintasi pulau, pada saatnya pasti akan kembali ke Bali”.
Kembali ke Bali ibaratnya laku spiritual, kembali ke tanah di mana ari-ari tertanam, dipupuk setiap hari dengan sesaji, tentu meniupkan aura tersendiri. Memori tanah kelahiran tersimpan dengan rapi di pekarangan rumah. Menyambung Ingatan lama yang hadir kembali dengan gegas. Bermain di pematang sawah sambil menikmati hembusan angin bukit Campuhan menjadi kesehariannya dulu, kini terbayang jelas. Butiran embun pagi di ujung ilalang, berkilau memantulkan cahaya sang fajar membangunkan angannya. Lembut cahaya sang fajar tidak selembut masa itu. Kicauan burung menyambut datangnya hari tidak semerdu masa itu. Tanah yang dulu basah kini keras menantang matahari.
Ke Bali sebagai orang Bali, tentu berbeda halnya ke Bali sebagai wisatawan atau pengunjung asing. Palguna pulang ke tanah kelahiran kini harus berhadapan dengan realitas yang sudah berubah. Teman-teman masa kecil kini sudah dewasa, pulang dengan tanggung jawab sebagai seorang kepala keluarga dan banyak lagi hal-hal yang sudah berbeda, menimbul kesan ganjil dan aneh yang memancing kegundahan dan pertanyaan dalam diri seorang Palguna. Tidak untuk disesali, dan tidak untuk dibungkam, tetapi di sinilah keistimewaan Palguna. Dia mampu meramu riak-riak dalam dirinya menjadi ide yang menjiwai karya-karyanya yang dihasilkan setelah kembali di Bali. [T]
SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada teknik memasak rumit, tak ada permainan api sp...
DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari Gresik, Surabaya, dan Sidoarjo itu mendomi...
BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan berantai menyebar di grup WhatsApp,...
PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang bukan hanya untuk berkuliner ria, tapi juga mendeng...
LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui jaringan. Literasi digita...
Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid?
Begitu erat, cara kita mengaitkan ke...
Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para sporter sepak bola ya...
LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam kerangka teori komunikasi dan budaya, Af...
Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah setelah hujan itu menjadi saksi tumbuhnya semangat...
SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang di depan loket, tidak ada aroma popcorn yang ter...