Michel Platini Menuai Karma di Stade de France
Menjelang kick-off, sambil sesekali menatap langit-langit Stade de France, Antoine Griezmann khidmat menyanyikan La Marseillaise, ekspresi Christiano Ronaldo datar-datar saja melaf...
Seorang laki-laki berkumis, berjenggot tipis tampil dengan pose setengah badan, tanpa baju percaya diri (pede) memamerkan tatto jantung merah tertembus panah terrajah di kulit dada kanan.
Penampilan cukup meyakinkan, kedua tangan dilipat di depan dada. Ditambah dengan ikat kepala udeng putih dan keris terselip di pinggang, terselimut kain saput poleng diikat kain merah yang mengingatkan dengan tampilan sosok Pecalang, penjaga keamanan tradisional Bali.
Wajah tenang, bibir terkatup dengan pandangan lurus ke depan, menyiratkan wibawa. Sosok ini berpose di depan latar tembok putih berbingkai ornamen Bali yang berisi sketsa candi bentar dan pelinggih simbol kesucian, namun penuh dengan coretan dan celoteh kasar dan spontan berbahasa Bali.

Itulah salah satu karya I Made Arya Palguna yang dengan lugas menyandingkan tanda-tanda religius, suci, sakral dengan tanda-tanda profan, populer dan kasar dalam satu bidang kanvas. Seperti ingin mengungkapkan nuansa paradok dalam wajah Bali masa kini. Karya yang diberi judul “Selfie” ini, secara visual juga juga dapat menjadi petunjuk jika Palguna kini ada di Bali.
Setelah lebih dari 20 tahun berpetualang di Yogyakarta, kini saatnya Palguna berlabuh, berpijak kembali di tanah Dewata, merasakan tatapan matahari Bali.
Kembali memulai menata hidup di Bali, menjadi moment yang sangat istimewa. Suatu fase menyambung kembali jejak ingatan yang tertinggal dan bersanding dengan realitas yang telah berubah. Fase yang penuh dengan getaran emosi yang mengalir memenuhi rasa, meletupkan energi yang kemudian mampu disalurkan dan ditransformasikan dengan elok ke dalam media kanvas atau kayu menjadi karya seni lukis dan patung yang mengesankan.
Palguna lahir dan dibesarkan di desa Ubud, desa dengan sejarah seni yang gemilang, tempat terjadinya percumbuan dan pergulatan para revolusioner di bidang seni yang berhasil menumbuhkan gerakan seni rupa modern Pita Maha. Di desa ini Palguna menikmati masa kecil hingga remaja.
Pada tahun 1996 Palguna melanjutkan studi seni ke ISI Yogyakarta. Yogyakarta menjadi rumah ke dua bagi Palguna. Kota ini tidak hanya mengajarkan ilmu di bidang seni, tetapi juga merupakan tempat mematangkan diri, menumbuhkan tunas hati yang memekarkan keluarga kecil. Angan-angan dan harapan akan masa depan telah tergantung tinggi di kota ini, namun sebagai orang Bali, “Sejauh-jauhnya melangkah menyeberangi lautan, terbang melintasi pulau, pada saatnya pasti akan kembali ke Bali”.
Kembali ke Bali ibaratnya laku spiritual, kembali ke tanah di mana ari-ari tertanam, dipupuk setiap hari dengan sesaji, tentu meniupkan aura tersendiri. Memori tanah kelahiran tersimpan dengan rapi di pekarangan rumah. Menyambung Ingatan lama yang hadir kembali dengan gegas. Bermain di pematang sawah sambil menikmati hembusan angin bukit Campuhan menjadi kesehariannya dulu, kini terbayang jelas. Butiran embun pagi di ujung ilalang, berkilau memantulkan cahaya sang fajar membangunkan angannya. Lembut cahaya sang fajar tidak selembut masa itu. Kicauan burung menyambut datangnya hari tidak semerdu masa itu. Tanah yang dulu basah kini keras menantang matahari.
Ke Bali sebagai orang Bali, tentu berbeda halnya ke Bali sebagai wisatawan atau pengunjung asing. Palguna pulang ke tanah kelahiran kini harus berhadapan dengan realitas yang sudah berubah. Teman-teman masa kecil kini sudah dewasa, pulang dengan tanggung jawab sebagai seorang kepala keluarga dan banyak lagi hal-hal yang sudah berbeda, menimbul kesan ganjil dan aneh yang memancing kegundahan dan pertanyaan dalam diri seorang Palguna. Tidak untuk disesali, dan tidak untuk dibungkam, tetapi di sinilah keistimewaan Palguna. Dia mampu meramu riak-riak dalam dirinya menjadi ide yang menjiwai karya-karyanya yang dihasilkan setelah kembali di Bali. [T]
Menjelang kick-off, sambil sesekali menatap langit-langit Stade de France, Antoine Griezmann khidmat menyanyikan La Marseillaise, ekspresi Christiano Ronaldo datar-datar saja melaf...
MASIH ingat dulu orang tua kita sering menasehati dan melarang agar tidak duduk di bantal yang ada di tempat tidur. Jika hal itu dilakukan konon bisa membuat bisulan atau dalam ba...
Judul Film: Petani Terakhir # Sutradara: Dwitra J. Ariana # Produser: Maria Ekaristi & Agung Bawantara # Produksi: Sanggar Siap Selem, 2016. PERMASALAHAN kehidupan petani di In...
DI Bali, selama berabad-abad, seni-seni yang berakar pada tradisi, terus lahir. Dan tentu saja sangat beragam. Jaman dulu seni tak hanya lahir dari tangan seniman karawitan seperti...
Pelawak drama gong, I Wayan Tarma (62) yang terkenal dengan nama Dolar, meninggal Sabtu (9/7) sekitar pukul 05.30 Wita. Ia meninggal ketika seni drama gong yang melambungkan namany...
DNA literasi berbangsa terbentuk sungguh unik sejak dulu kala. Nenek moyang bangsa Indonesia merupakan penutur andal di dunia. Ini dibuktikan dengan adanya beragam cerita rakyat da...
TRADISI adalah perayaan kebersamaan. Juga di Bali. Untuk menjaga kebersamaan nyama Bali mempertahankan sekaligus tetap merayakan tradisi di era digital ini. Sebut saja tradisi magi...
GELIAT seni di Bangkalan, Pulau Madura, Jawa Timur, kembali semarak. Di bulan ramadhan ini gaung kegiatannya sampai merambah ke Desa Arosbaya. Seperti yang terjadi Minggu (3/7). Se...
PERADABAN dunia mengenal sedikit orang hebat. Einstein, Newton, Galileo, adalah manusia-manusia hebat, seperti juga Napoleon, Socrates, Machiavelli, Karl Marx, Adam Smith, Shakespe...
UNGKAPAN “apalah artinya sebuah nama”, bagi saya memiliki makna kebalikannya. Dalam realitas budaya dan adat, nama memiliki banyak arti dan makna, mulai dari yang sederhana hingg...