Bulan Juni Milik Empat Presiden
“Tulislah tentang aku dengan tinta hitam atau tinta putihmu. Biarlah sejarah membaca dan menjawabnya” (Ir. Soekarno). PEMERINTAH Provinsi Bali sejak Gubernur Wayan Koster meray...
Fenomena colabs McD+BTS bikin banyak reaksi. Terkagum-kagum. Histeris. Terbelalak. Heboh banget. Banyak juga yg berpikir ini konyol. Tidak masuk akal. Ngapain sih ikut-ikutan kayak gitu.
Buat para ukm-ers, heboh colabs BTS+McD Meal bisa menjadi bahan pelajaran bagaimana melakukan marketing di era digital. Bahasa jaman now disebut marketing 4.0 atau “inbound marketing”.
Jangan sampai kita salah sangka ya. BTS itu bukan menjadi endorsernya McD. Bukan influensernya McD. Bukan juga Ambasadornya McD.
Colabs McD+BTS itu adalah sebuah cara marketing memanfaatkan ARMY sebagai promotornya McD. Si ARMY ini adalah kumpulan “die hard”-nya BTS. ARMY mau melakukan apa aja buat BTS. Atau disebut sebut tribes-nya BTS. Sekumpulan pembela BTS.
ARMY inilah yang "dimanfaatkan" McD jadi pembeli sekaligus promotor McD. Udah beli, promosiin lagi. Enak benar McD-nya. Iya. Itulah marketing jaman now. Strategi ini bisa jadi pelajaran para UKM-ers. Bisa dicontoh semua orang.
Pertanyannya, kenapa fenomena colabs McD + BTS bisa mendunia?
K-pop adalah salah satu bagian dari strategi branding Korea Selatan, sejak presiden pertama mereka, yaitu Syngman RHee, memimpin pada 15 Agustus 1948.
Korea Selatan punya keinginan untuk menguasai dunia. Menggantikan Amerika atau Eropa. Mereka ingin menjadi pusat kreatif dunia menggantikan negara tadi. Melalui apa, salah satunya melalui budaya pop-nya.
Sejak itu Korea Selatan mulai merancang strategi. Hal pertama yang dilakukan adalah mereka mencoba menemukan DNA-nya. Jati diri rakyat Korea Selatan. Karena DNA ini jadi tolak ukur mutlak membangun branding.
Proses branding Korea Selatan dimulai dari “Value Creation”, yang mereka ciptakan adalah “Korea Menjadi Pusat Industri Kreatif Dunia”.
Jati diri rakyat Korea Selatan adalah mencintai negaranya, sangat giat bekerja, serta disiplin yang tinggi. Dari potensi itu, Korea memutuskan mengambil DNA, yaitu “Korean Waves”. Sebuah gelombang korea yang akan melanda dunia. Upaya yang tak pernah lelah untuk menghadirkan dan menyebarkan hal baru ke seluruh dunia.
Dari DNA inilah Korea bergerak. Jadi kompas untuk mewujudkan misinya menguasai dunia lewat budaya popnya. Negara hadir. Seluruh aktivitas kreatif warganya di-support. Kebijakannya dibuatkan. Difasilitasi. Bahkan dibiayai.
Sejak itulah, Korea Selatan mulai memproduksi drama Korea (drakor), K-Pop, dan memproduksi film berstandar Oscar Hollywood. Ketiga produksi itu disebut sebagai “Core Valuenya” Korea.
Gelombang ini dihembuskan ke seluruh dunia. Tanpa henti. Tidak peduli awalnya diabaikan. Drakor msh belum ada apa-apanya dibanding telenovela atau drama Eropa. K-Pop masih kalah sama boyband, “New Kids on The Block” misalnya. Mereka ga peduli. Gelombang Korea itu tetap disebarluaskan sampai suatu saat mampu menguasai dunia.
Core value sudah kuat. Korea melakukan tambahan lagi atau disebut “Added Value”. Lewat apa? Memperkaya drakornya, kpop-nya, film-nya dengan value tambahan. Yaitu, membangun industri make up dengan value “Korean Glowing Make Up” dan “cheek fashion”.
Value creation, DNA, Core Value, Added Value tadi berhasil menempatkan Korea sebagai negara yang branding positioningnya menjadi beda, unik, bahkan mampu mendisrupsi negara lain. Positiongnya menjadi satu-satunya di dunia, yaitu Korea sebagai negara yang menjadi pusat industri kreatif dunia, yang dengan Korean Waves-nya menggunakan Kpop, drakor, film berstandar Hollywood yang menduniakan Korea ke seluruh penjuru dunia.
Hasilnya bisa kita lihat sekarang. Semua itu tidak Instan. ARMY-nya BTS adalah bukti sahih “Korean Waves” telah berhasil menggulung semua warga dunia. Drakor mampu membuat emak-emak dan mamah muda (mahmud) seluruh dunia meleleh.
ARMY BTS tidak muncul tiba-tiba. ARMY dan BLINK (hie hardnya Blackpink) atau semacamnya, adalah hasil dari “Korean Waves”.
Bahasa brandingnya, ARMY sudah menjadi tribes-nya BTS. BLINK jadi “die hard”-nya Blackpink. Merekalah yang dengan sukarela membela BTS. Membela Blackpink jika ada yang mencela.
Jika sekarang semua mata terbelalak menyaksikan para ARMY menggungah semua hal yang berbau kolaborasi McD+BTS maka jangan ikut kaget. Karena semua sudah disiapkan sejak Korea Selatan merdeka. “Korean Waves” telah berhasil menggulung seluruh dunia. [T]
____
Baca Juga:
Mau Ajum, Ikut Ngantri BTS Meal | Eh, Akhirnya Beli Bakso Tepi Jalan
“Tulislah tentang aku dengan tinta hitam atau tinta putihmu. Biarlah sejarah membaca dan menjawabnya” (Ir. Soekarno). PEMERINTAH Provinsi Bali sejak Gubernur Wayan Koster meray...
īśāvāsyam idaṁ sarvaṁ yat kiñca jagatyāṁ jagat |tena tyaktena bhuñjīthā mā gṛdhaḥ kasyasvid dhanam || "Seluruh alam semesta ini, apa pun yang bergerak di dunia yang bergerak in...
ADA satu pemandangan yang hingga kini selalu mengusik. Seorang barista selesai meracik secangkir kopi, lalu menyadari ada kesalahan kecil. Mungkin ukuran gelasnya keliru, jenis su...
PADA tanggal 14 Juni 2026, saya mengikuti acara kolaborasi Grab Bali Nusra dengan Bali Book Party. Museum Pasifika Nusa Dua adalah lokasi acara diselenggarakan. Siang hari, ...
Kenapa jagat sosmed Bali semakin dijangkiti fenomena: Ngandang Nganjuh. Secara harfiah, istilah ini menggambarkan tindakan yang melintang (ngandang) dan mendorong atau memaksak...
PAGI saat Hari Suci Kuningan, sebagian keluarga sudah mengenakan pakaian adat sebelum fajar menyingsing. Sebagian lagi masih sibuk menata banten, memasak, atau menunggu anggota ke...
DI Desa Kembang Asri hiduplah seekor babi betina bernama Ica. Ia adalah babi kesayangan Made Subur. Ica tumbuh sehat dan jinak. Ia juga sangat menyayangi majikannya. Selain Ica...
KUCING aku seekor kucing yang memanjat jendelamukau penghuni yang selalu menutupnya,bersantai menenteng cangkir teh yang pekat. aku mengeong dan mengamuk, mendesis,mencakar-...
"Gemerlap lampu Manhattan tidak pernah mampu menggantikan cahaya seekor kunang-kunang." KALIMAT itu memang tidak pernah ditulis secara harfiah oleh Umar Kayam dalam cerpennya S...
DALAM sejarah musik populer abad ke-20, sedikit lagu yang mampu merangkum pengalaman eksistensial manusia dalam lirik sesederhana “Knockin’ on Heaven’s Door.” Ditulis oleh Bob Dyl...