Estetika dalam ranah seni tradisional memiliki asosiasi dengan kenormatifan yang telah ditegakkan. Meski setiap daerah di Bali memiliki persepsi dan perlakuan berbeda tentang suatu norma, akan tetapi secara keseluruhan telah diatur oleh suatu patron, baik itu penguasa, maupun daerah-daerah yang memiliki relasi atau berada dalam kawasan tempat suci utama, di mana kenormatifan itu dapat dilihat melalui narasi yang dibangun dengan memilih fragmen tertentu atas sebuah cerita epos pada kakawin atau geguritan, diwujudkan dalam bentuk relief, patung, lukisan.
Indikatornya adalah kesesuaian ikonografi figur wayang yang ketat sebagaimana tradisi wayang Kamasan, kehalusan sebuah ukiran, kesimetrisan bentuk, kepadatan komposisi, ketepatan proporsi, dll. Sebagaimana telah disepakati bersama bahwa estetika adalan suatu filsafat tentang keindahan.
Keindahan hari-hari ini justru menghadirkan realitasnya, ia tidak selalu perkara kesesuaian proporsional, susunan harmoni warna, keseimbangan komposisi dan lainnya. Sudah sepantasnya keindahan tidak lagi dipandang secara kolektif sebagaimana wujud normatif tradisi atau sebagaimana kolektivitas kehidupan orang Bali itu sendiri. Keindahan hari-hari ini justru seharusnya beragam, dipandang berbeda-beda sesuai dengan konteks kehadirannya, keindahan yang sesuai dengan lingkungannya, nilai estetika di tempat seni tersebut hadir.
Pendek kata, filsafat keindahan dalam konteks estetika Bali hari-hari ini adalah nilai yang merepresentasikan Bali itu sendiri, kekacauan tatanan tata ruang, dualitas tarik-menarik antara keberlangsungan tradisi dan pergerakan budaya yang dinamis, kerusakan ekosistem lingkungan akibat limbah dan sampah dari hulu ke hilir, kepadatan komposisi penduduk, dan tereduksinya sisi humanis.
Oleh sebabnya berbicara nilai estetika Bali di masa kini idealnya tentu berdasar pada konsep ruang dan waktu ala Bali yang disebut dengan Bhuta-Kala, merefleksikan kekinian yang sifatnya sangat temporer dan dinamis. Jika ditilik, bahwa Bhuta adalah ruang hulu-teben atau utara-selatan sedangkan kala adalah waktu yang garis edarnya dari timur ke barat.
Seri Plasticology karya Bayak
Lantas apa hubungannya antara Bhuta Kala Plastik Poleng Made Muliana Bayak Bayak dengan konsep ruang dan waktu? Semua jawaban menjadi mungkin. Yang dapat diketengahkan di sini adalah wacana tentang hubungan antara alam, manusia, dan seni terbingkai dalam satu wacana artistik hari-hari ini.
Secara sederhana karya-karya Made Muliana Bayak menyajikan karya seni berupa olahan sampah plastik yang dipergunakan sebagai medium datar dua dimensi, kasus pertama adalah kolase olahan sampah plastik kemudian ditimpakan stensil yang menggambarkan figur.
Kasus kedua adalah kantong plastik yang telah diolah sehingga berbentuk sangat pipih ditempelkan pada medium datar kemudian diberikan sentuhan drawing baik pada objek plastik itu sendiri berupa semacam gambar dengan genre magis yang dikenal dengan rerajahan dan objek plastik yang direspon bentuknya menjadi sebuah figur mistik nan hibrid.
Kasus ketiga, menurut saya yang paling baru yaitu seri alien dengan merespon kertas atau plastik yang secara khusus menyajikan bentuk yang bukan merujuk kepada bentuk-figur Bali yang kita kenal namun lebih kepada menyerupai makhluk aneh, dikatakan hibrid juga bukan, sesuai judulnya itu adalah alien.
Seri Karya Alien Made Muliana Bayak
Pada kasus pertama, unsur-unsur rupa dalam karya Made Muliana Bayak Bayak menghadirkan kolase sampah plastik, kolase ini dibentuk dari berbagai kemasan baik makanan dan juga brand market yang secara langsung warna dalam keseluruhan karya-karya edisi ini dibentuk melalui warna medium yang disusun, sebuah plastik kemasan berwarna merah misalkan dengan tulisan branding ataupun tagline tertentu hadir begitu saja, berpadu padan dengan kemasan lainnya, dalam hal ini, Muliana Bayak mengganti peranan pigmen cat yang pada genre lukisan lain sangat dominan menjadi tidak begitu memiliki peran, yang berperan adalah warna kemasan itu sendiri.
Kemasan dipergunakan sebagai latar belakang yang justru sangat kuat dibandingkan figur-figur siluet stensilnya. Susunan kemasan tersebut yang kemudian memberi kesan ruang dan tentu tekstur optikal. Saya rasa pointnya estetiknya ada pada kolase kemasan plastik, sedangkan figur stensil berperan sebagai figuran, sebagai sekedar penanda bahwa wacana kritis yang ia hadirkan ke publik adalah Bali.
Kasus kedua adalah merespon kemasan tas plastik, terkesan agak sedikit dipaksakan secara visual, apa yang terlihat secara gamblang adalah pelebaran medium. Sebagai orang Bali sudah sangat lumrah sekali bahwa rerajahan berhubungan dengan segala sesuatu yang bersifat magis juga kosmik. Mediumnya dapat dimana saja, dari kertas, kain, batu, kayu, tipe-tipe logam tertentu, tanah, daun, hingga tubuh hewan juga manusia. Karya ini lebih kuat kepada wacana tentang dominasi plastik hari-hari ini. Tiga karya dengan medium sama dengan perlakuan yang lebih berbeda pada seri potret yang diberi judul Bhuta Kala Plastik Poleng, tas belanja yang bentuk menjadi sebuah potret seram nan lucu, disini Bayak menghadirkan parodi itu sendiri.
Kasus ketiga juga mirip dengan keparodian meski agak lepas dari perkara sampah plastik dan lebih atraktif juga partisipatif. Seri alien, yang wacananya lebih mengarah kepada sisi humanis, wacana atas kesetaraan ras dan suku dimata dunia. Karya ini sentimentil dengan memposisikan diri sebagai alien melalui pengalaman-pengalamannya berkunjung ke negara-negara lain, realitas itu yang dihadirkan melalui responsifnya terhadap medium yang kata kuncinya terdapat pada tagline dan teks yang menjadi bagian utama dari tubuh alien, represntasi diri Muliana Bayak sendiri. sisi atraktif dan partisipatif terletak pada salah satu tubuh alien, QR code yang apabila discan menggunakan teknologi smartphone, orang-orang akan diajak untuk masuk ke dalam wilayah digital dengan konten proses penciptaan karyanya.
Seri Hero-hero Social Club karya Bayak
Bhuta Kala Plastik Poleng, oleh sebab itu adalah rangkaian karya Muliana Bayak yang menghadirkan hubungan antara wacana oposisi alam manusia, dunia magis, dan problematika industri yang kemudian diwujudkan menjadi satu kesatuan karya; dalam hal ini, seni menjadi refleksi kritis atas wilayah-wilayah yang menjadi wacana perdebatan yang agaknya susah untuk didamaikan antara manusia-bhuta kala-plastik diwujudkan melalui nilai estetika dan relasinya terhadap kehidupan sosial-kebudayaan.
Dari sisi medium rupa, bahwa adanya perubahan fokus estetik medium lukis yang sebelumnya adalah pigment warna di atas kanvas dengan segala praktik teoritis modernnya menjadi bentuk yang ekletik, parodi, dan kaya akan kemungkinan-kemungkinan eksplorasi baru melalui plasticology-nya. Singkat kata, plastik menjadi palet warna ketiga Mulian Bayak setelah bidang datar dan pigmen warna. [T]
Sebuah Slide yang Mengusik Kesadaran
TERKADANG, inspirasi lahir bukan dari buku tebal atau hasil penelitian yang rumit, melainkan dari sebuah kalimat sederhana. Itulah yang say...
ETIKA lingkungan merupakan suatu perspektif moral yang menempatkan alam sebagai entitas yang memiliki nilai intrinsik, bukan sekadar objek eksploitasi untuk memenuhi kepentingan m...
SETELAH sempat absen pada tahun 2025, Festival Cerita Rasa di Desa Tukadaya, Jembrana kembali hadir dengan membubuhkan angka 0.4, pada akhir tajuknya Festival Cerita Rasa 0.4. Ang...
PERJALANAN nasib hidup dan mati cerita rakyat ditentukan oleh sikap pemiliknya. Cerita rakyat pun dengan beberapa alasan dikubur. Hal ini dialami oleh banyak sekali cerita rakyat...
TIGA buku tersusun rapi di atas meja. Sampulnya berbeda-beda, tetapi lahir dari ruang akademik yang sama. Ada ‘Lawaté Surup Ring Balé Gedé: Pupulan Puisi Bali Anyar’, ‘Geguritan D...
MENDAPAT amanah dari warganya, Suyadi merasa bangga dan terharu menjadi kepala desa. Jabatan yang membuatnya harus memimpin daerah yang agak jauh dari kota kabupaten. Daerah yang...
MUSIM libur kenaikan kelas dan pascakelulusan sekolah di Bali selalu menghadirkan dua tontonan besar. Yang pertama, Pesta Kesenian Bali (PKB). Yang kedua, Seleksi Penerimaan Murid...
Bagi anak-anak, Rekasadana (Pergelaran) Karya Legendaris Maestro Wayan Berata yang dipersembahkan Sanggar atau Sekaa Gong Gita Bandana Praja, Banjar Belaluan Sadmerta, Desa Dangin...
SEBUAH teks sastra tidak pernah tumbuh sendirian. Agar sampai ke pembaca, ia hadir melalui banyak tangan: penerjemah yang memindahkan makna, editor yang mengolah naskah, literary...
SAAT menyaksikan The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark: Hanoman Duta, Amfiteater Panggung Budaya, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Sabtu malam, 16 Juni 2026, yang ditampil...