“Jesus Bless You” – Tentang Saya dan Agama
SAYA suka lagu-lagu yang memberikan getaran yang baik pada suasana hati dan hidup saya. Karena itu saya menggunakan aplikasi karaoke di smartphone untuk memudahkan saya menyanyi di...
Pegiat seni pertunjukan yang juga sastrawan Wayan Sumahardika menyebut bahwa saat ini sastra Bali modern (SBM)sedang berada dalam persimpangan. SBM berada pada persimpangan dengan sastra rakyat seperti dongeng dan fabel atau satua Bali, di satu sisi juga dengan sastra klasik, bahkan juga dengan sastra Indonesia maupun sastra berbahasa Inggris. Keadaan ini dikarenakan adanya globalisasi yang telah masuk ke dalam segala lini kehidupan.
Sebelum globalisasi menyerang dan orang-orang belum latah menyebut revolusi industri 4.0 serta dunia belum dihubungkan oleh internet, Bali hanyalah Bali yang disekat oleh satu wilayah. Akan tetapi, hari ini Bali ada di mana-mana dan akan menjadi sangat berat jika dihadapkan dengan eksistensi SBM. Sehingga, Sumahardika memandang perlunya dilakukan sebuah agenda yang tepat, seperti jejaring, misalnya.
SBM perlu sebuah jejaring yang lebih luas, bukan hanya guyub dengan sesama penulis atau pencinta SBM, namun bergaul dengan bidang seni rupa, teater, musik hingga film. Dengan demikian akan bisa tercipta sebuah kolaborasi antara SBM dengan dunia lainnya termasuk bisa mengadaptasi SBM ke dalam seni pertunjukan.
Sebenarnya, ada angin segar saat tahun 2018 lalu SBM yang dalam hal ini puisi Bali dikolaborasikan dengan seni rupa dalam Campuhan Rasa yang digelar di Denpasar Art Space. Lewat kolaborasi ini, bisa membuktikan bahwa SBM tak hanya ditatap dalam ruang SBM semata, namun bisa ditatap dari ruang luar yakni seni rupa.
Meskipun demikian, masih perlu banyak agenda-agenda yang harus dilakukan. Dan ini layaknya sebuah PR yang diberikan Sumahardika kepada SBM. Beberapa hal yang pernah ada di Bali bisa menjadi cerminan atau dasar bagi SBM untuk melangkah seperti pementasan Sukresni Gadis Bali dengan Layon Sari, kepengarangan Made Taro, gambuh Macbeth, atau arja Katemu ring Tampaksiring.
Kasus pertama yang bisa dipakai cerminan yakni konteks pementasan Layonsari dengan Sukreni Gadis Bali. Layon Sari sebagai sebuah cerita rakyat sangat berhasil diangkat ke atas panggung. Dan sejalan pula, Sukreni Gadis Bali yang notabene adalah karya Panji Tisna juga berhasil untuk diadaptasi ke dalam pemanggungang dan menjadi populer. Baginya ini adalah dua kenyataan berbeda, namun sama-sama menjadi populer di masyarakat ketika dipanggungkan. Ini adalah strategi menarik yang bisa diadaptasi juga dalam hal pemanggungan SBM.
Kedua, terkait kepengarangan Made Taro yang dengan sadar menulis dongeng yang akan didongengkan sekaligus dijadikan pertunjukan dalam bentuk dolanan. Sebenarnya, penting juga seorang penulis SBM bisa meniru jejak Made Taro untuk merumuskan tujuan dari menulis sebuah karya, apakah hanya untuk sekadar eksistensi, atau bisa menembus ke ruang-ruang lain.
Hal lain pula, penerjemahan yang dilakukan dalam pementasan gambuh Macbeth oleh Sanggar Putih pimpinan Kadek Suardana akan melahirkan ruang produksi yang dapat memperkaya SBM. Bagaimana sebuah karya yang notabene berasal dari Inggris diterjemahkan karena kebutuhan gambuh, dan terjadi penyesuaian dalam penggarapannya. Misalnya dalam adegan pembunuhan yang menggunakan pedang, saat digambuhkan tokoh hanya membunuh dengan menjentikkan jari. Ia menyebut, hal itu adalah satu kode tubuh yang bisa jadi memperkaya khasanah sastra. Dan dari penerjemahan ini, secara tidak langsung sebenarnya juga memperkaya produk SBM.
Catatan lain juga, bagaimana seharusnya distribusi naskah SBM agar sampai untuk dipanggungkan. Bukan hanya dengan menulis di koran atau media yang saat ini sudah sangat terdesentralisasi, namun bisa memanfaatkan ruang-ruang lain sebagai rujukan. Jangan-jangan, akan menjadi sangat penting karya SBM tersebut diluncurkan atau dibedah di komunitas tari, arja, atau sekaa gong di desa.
Meskipun karya tersebut tak dipentaskan, setidaknya mereka tahu bahwa cerita tersebut ada. Dan bisa jadi, ketika itu terjadi, jualannya tak lagi SBM yang tak diperhatikan pemerintah, melainkan punya jualan baru yakni cerita itu sendiri.
Selain itu, ruang bagi SBM sebenarnya juga terbuka di tengah kemonotonan pertunjukan (baca: pertunjukan seni klasik) yang terjadi di Bali saat ini. Beberapa puluh kali PKB telah berlalu dan selalu saja hadir garapan yang diambil dari teks Ramayana, Mahabharata, dan parahnya hadir bukan dengan didekonstruksi, melainkan tetap sama namun diamini sebagai pelestarian budaya.
Padahal ada teks lain yang semestinya bisa direspon dalam PKB tersebut, misalnya dengan menggaet SBM sehingga setidaknya bisa membunuh sedikit kemonotonan itu. Hal-hal semacam itu akan bisa terwujud jika terbangun sebuah dialog antar pihak-pihak yang ada di dalamnya termasuk pemerintah. [T]
Catatan: Ini adalah rangkuman singkat dari obrolan dalam acara Usaha Membunuh Malam Minggu #2 yang digelar Suara Saking Bali pada Sabtu, 29 Mei 2021 malam bersama pegiat seni pertunjukan dan sastrawan Wayan Sumahardika.
SAYA suka lagu-lagu yang memberikan getaran yang baik pada suasana hati dan hidup saya. Karena itu saya menggunakan aplikasi karaoke di smartphone untuk memudahkan saya menyanyi di...
ADA semacam protes di media sosial, kenapa wayang wong, sebagai kesenian klasik adiluhung yang baru saja ditetapkan oleh UNESCO sebagai warisan budaya dunia tak benda, justru dipe...
SEPAK bola kampung kini hanya fosil ingatan. Mungkin karena kampung selalu dirundung revolusi yang dialirkan zaman. Sawah-sawah, bahkan kebun yang dulu menjadi arena laga sepak bol...
KINI sudah masuk tahun ajaran baru. Sejumlah kampus sudah bersiap-siap menghadapi mahasiswa baru. Tentu, semua tahu, hari-hari pertama mahasiswa baru disibukkan dengan orientasi ka...
BEGITU puluhan penari memasuki panggung di depan Tugu Singa Ambara Raja, sore menjelang senja di Singaraja terasa lebih berwarna dari biasanya. Warna-warna itu bukan hanya memancar...
Judul Buku: Sayap Anjing (Kumpulan Cerpen) # Penulis: Triyanto Triwikromo #Halaman: 144 pages # Penerbit: Buku Kompas # Tahun: 2003 # ISBN: 9797090914 (ISBN13: 9789797090913) /...
BULELENG Festival (Bulfest) dibuka 2 Agustus ini dan akan berlangsung 6 Agustus 2016. Ini Bulfest keempatkali sejak digelar pertamakali, Agustus 2013. Di Bali, Bulfest memiliki gem...
Ini pengalaman ketika saya mengajar di sebuah sekolah dasar di Alor, NTT, sebagai guru dalam program SM3T (Sarjana Mendidik di daerah Terluar, Terdepan dan Tertinggal). SEPERTI b...
MISI belum tuntas! Komunitas Masyarakat Lumpur Bangkalan terus bikin kegiatan. Setelah terlaksananya acara Festival Puisi Bangkalan, 20-21 Mei 2016, kini tengah bersiap-siap mengge...
SIAPA saja yang suka memuji dan mengagung-agungkan Bali, pasti bertemu subak. Mereka yang berniat mengikuti alur jejak watak manusia Bali, seyogyanya juga mengakrabi subak. Bagaima...