Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar
10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi pada tulisan. Satu kolom pada...
Pegiat seni pertunjukan yang juga sastrawan Wayan Sumahardika menyebut bahwa saat ini sastra Bali modern (SBM)sedang berada dalam persimpangan. SBM berada pada persimpangan dengan sastra rakyat seperti dongeng dan fabel atau satua Bali, di satu sisi juga dengan sastra klasik, bahkan juga dengan sastra Indonesia maupun sastra berbahasa Inggris. Keadaan ini dikarenakan adanya globalisasi yang telah masuk ke dalam segala lini kehidupan.
Sebelum globalisasi menyerang dan orang-orang belum latah menyebut revolusi industri 4.0 serta dunia belum dihubungkan oleh internet, Bali hanyalah Bali yang disekat oleh satu wilayah. Akan tetapi, hari ini Bali ada di mana-mana dan akan menjadi sangat berat jika dihadapkan dengan eksistensi SBM. Sehingga, Sumahardika memandang perlunya dilakukan sebuah agenda yang tepat, seperti jejaring, misalnya.
SBM perlu sebuah jejaring yang lebih luas, bukan hanya guyub dengan sesama penulis atau pencinta SBM, namun bergaul dengan bidang seni rupa, teater, musik hingga film. Dengan demikian akan bisa tercipta sebuah kolaborasi antara SBM dengan dunia lainnya termasuk bisa mengadaptasi SBM ke dalam seni pertunjukan.
Sebenarnya, ada angin segar saat tahun 2018 lalu SBM yang dalam hal ini puisi Bali dikolaborasikan dengan seni rupa dalam Campuhan Rasa yang digelar di Denpasar Art Space. Lewat kolaborasi ini, bisa membuktikan bahwa SBM tak hanya ditatap dalam ruang SBM semata, namun bisa ditatap dari ruang luar yakni seni rupa.
Meskipun demikian, masih perlu banyak agenda-agenda yang harus dilakukan. Dan ini layaknya sebuah PR yang diberikan Sumahardika kepada SBM. Beberapa hal yang pernah ada di Bali bisa menjadi cerminan atau dasar bagi SBM untuk melangkah seperti pementasan Sukresni Gadis Bali dengan Layon Sari, kepengarangan Made Taro, gambuh Macbeth, atau arja Katemu ring Tampaksiring.
Kasus pertama yang bisa dipakai cerminan yakni konteks pementasan Layonsari dengan Sukreni Gadis Bali. Layon Sari sebagai sebuah cerita rakyat sangat berhasil diangkat ke atas panggung. Dan sejalan pula, Sukreni Gadis Bali yang notabene adalah karya Panji Tisna juga berhasil untuk diadaptasi ke dalam pemanggungang dan menjadi populer. Baginya ini adalah dua kenyataan berbeda, namun sama-sama menjadi populer di masyarakat ketika dipanggungkan. Ini adalah strategi menarik yang bisa diadaptasi juga dalam hal pemanggungan SBM.
Kedua, terkait kepengarangan Made Taro yang dengan sadar menulis dongeng yang akan didongengkan sekaligus dijadikan pertunjukan dalam bentuk dolanan. Sebenarnya, penting juga seorang penulis SBM bisa meniru jejak Made Taro untuk merumuskan tujuan dari menulis sebuah karya, apakah hanya untuk sekadar eksistensi, atau bisa menembus ke ruang-ruang lain.
Hal lain pula, penerjemahan yang dilakukan dalam pementasan gambuh Macbeth oleh Sanggar Putih pimpinan Kadek Suardana akan melahirkan ruang produksi yang dapat memperkaya SBM. Bagaimana sebuah karya yang notabene berasal dari Inggris diterjemahkan karena kebutuhan gambuh, dan terjadi penyesuaian dalam penggarapannya. Misalnya dalam adegan pembunuhan yang menggunakan pedang, saat digambuhkan tokoh hanya membunuh dengan menjentikkan jari. Ia menyebut, hal itu adalah satu kode tubuh yang bisa jadi memperkaya khasanah sastra. Dan dari penerjemahan ini, secara tidak langsung sebenarnya juga memperkaya produk SBM.
Catatan lain juga, bagaimana seharusnya distribusi naskah SBM agar sampai untuk dipanggungkan. Bukan hanya dengan menulis di koran atau media yang saat ini sudah sangat terdesentralisasi, namun bisa memanfaatkan ruang-ruang lain sebagai rujukan. Jangan-jangan, akan menjadi sangat penting karya SBM tersebut diluncurkan atau dibedah di komunitas tari, arja, atau sekaa gong di desa.
Meskipun karya tersebut tak dipentaskan, setidaknya mereka tahu bahwa cerita tersebut ada. Dan bisa jadi, ketika itu terjadi, jualannya tak lagi SBM yang tak diperhatikan pemerintah, melainkan punya jualan baru yakni cerita itu sendiri.
Selain itu, ruang bagi SBM sebenarnya juga terbuka di tengah kemonotonan pertunjukan (baca: pertunjukan seni klasik) yang terjadi di Bali saat ini. Beberapa puluh kali PKB telah berlalu dan selalu saja hadir garapan yang diambil dari teks Ramayana, Mahabharata, dan parahnya hadir bukan dengan didekonstruksi, melainkan tetap sama namun diamini sebagai pelestarian budaya.
Padahal ada teks lain yang semestinya bisa direspon dalam PKB tersebut, misalnya dengan menggaet SBM sehingga setidaknya bisa membunuh sedikit kemonotonan itu. Hal-hal semacam itu akan bisa terwujud jika terbangun sebuah dialog antar pihak-pihak yang ada di dalamnya termasuk pemerintah. [T]
Catatan: Ini adalah rangkuman singkat dari obrolan dalam acara Usaha Membunuh Malam Minggu #2 yang digelar Suara Saking Bali pada Sabtu, 29 Mei 2021 malam bersama pegiat seni pertunjukan dan sastrawan Wayan Sumahardika.
10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi pada tulisan. Satu kolom pada...
SEKAA Dramatari Arja Sudhamala ini baru pertamakali pentas di ajang Pesta Kesenian Bali (PKB). Bahkan, sekaa kesenian tradisional Bali yang memadukan unsur drama, tari, dan nyanyi...
LAGU “A Salty Dog” oleh Procol Harum (1969), dengan lirik karya Keith Reid, adalah elegi tentang pelayaran terakhir, tentang manusia yang berangkat dengan keberanian, namun akhirn...
PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa kehadiran Presiden Prabowo Subianto sempat menimbu...
“Kalau mau menjadi penulis hebat, tulis yang unik dan autentik.” Kalimat itu meluncur dari mulut sastrawan Bali, Gde Aryantha Soethama, dalam acara ‘NGERUMPI’: Ngobrol Se...
MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa. Apalagi ketika ia mulai berbicara dengan logat...
DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku diajari bahwa Barong adalah pelindung, bukan pemangsa....
Yang Tua yang Tak Mau Purna Segara punya pantai sebagai batas gelombangSungai punya sempadan untuk batas aliranTetapi tidak bagi yang tua yang tak mau purnaMereka tak punya bat...
“Mari kawan bersama kita bekerja, bersihkan lingkungan….” ITU adalah penggalan tembang yang menjadi salah satu hal menarik dari pementasan kesenian janger tradisi d...