Malam Minggu bagi “Darah Muda”: Tak Sekadar Pacaran
PERNAHKAH tersirat di pikiran anda apa itu “Malam Minggu”? Dan apa bedanya dengan “Sabtu Malam”? Rasanya hanya beda istilah dengan makna yang sama. Istilah mana yang lebih sering a...
Pada tanggal 12 Mei 1944, tepat 76 tahun yang lalu, di sebuah tempat persembunyian, seorang anak menuliskan harapan dan cita-citanya, menjadi jurnalis, dan penulis besar.
76 tahun kemudian, di bulan Mei 2021, suaranya masih terdengar, dan tentu cita-cita itu telah terjadi dan bahkan melampaui niat anak kecil itu.
Pagi ini saya sarapan, bukan dengan roti atau nasi, tapi dengan surat-surat Anne Frank. Di rak buku khusus di ruang kerja saya, memang saya letakkan spesial buku-buku yang menggugah nurani menulis saya. Salah satunya adalah Anne Frank.
Dia lahir dengan nama Annelies Marie Frank di Frankfurt, Jerman pada tanggal 12 Juni 1929, dari sepasang orang tua bernama Otto Frank dan Edith Frank. Namun saat Nazi berkuasa di Jerman di mana keturunan Yahudi dihabisi, dia sekeluarga pindah ke Belanda, pada tahun 1933, ketika Anne berusia 4 tahun.
Ayahnya mengelola usaha di Belanda tepatnya di Amsterdam. Ternyata Jerman kemudian menguasai Belanda, tepatnya pada tahun 1942, dan penyiksaan terhadap keturunan Yahudi semakin menjadi-jadi sehingga mereka pun bersembunyi di balik sebuah lemari buku.
Surat pertama dia tulis pada hari Minggu, 14 Juni, 1942. Ia menulis tentang ulang tahunnya yang jatuh dua hari sebelum ia menulis surat itu, yaitu 12 Juni 1942, tepat ketika ia berusia 13 tahun. Ia mendapatkan hadiah sebuah diary, yang tentu saja menjadi tempat curhatnya yang kelak kita baca dan mengubah dunia.
Dari suratnya kita tahu bahwa sebagai seorang yang masih sangat muda, ia sangat cemas terlahir sebagai Yahudi, karena saat itu Hitler memiliki ‘kebijakan’ membasmi Yahudi dan keturunannya, sehingga keluarga Anne pun bergerak dalam semua keterbatasan. Semua dilarang bagi Yahudi, mereka harus memakai pakaian khusus dengan bintang kuning, mereka tak boleh menyetir, tak boleh naik kereta, tak boleh berbelanja dengan bebas, waktu dibatasi hanya dua jam yaitu antara jam 3-5, dilarang menonton film, dan juga dilarang berenang, bermain tenis, bermain hoki, dan banyak larangan lainnya lagi.
Pada tahun 1934, ketika usianya 5 tahun, Anne bersekolah di TK Montessori. Lalu ketika usianya 12 tahun, ia dan kakaknya, Margot, bersekolah di sekolah khusus Yahudi.
Semua terasa baik-baik saja, hingga akhirnya tibalah masa ketika semua tak baik-baik saja.
Saya akan jeda sebentar saja, sebab bagi saya tetap memilukan hati membaca surat seorang anak yang usianya sebaya usia anak saya, Putik Padi, yang berada di dalam persembunyian di mana kehidupan dan kematian hanya setipis kulit ari. Dan dia bisa menulis dengan gemilang!
Saya sering menyodorkan buku ini kepada Putik agar dia paham bagaimana beruntungnya kita hidup di sebuah masa di mana kita bisa masih bebas bersekolah, berenang, jalan-jalan, dan bermain main dengan nyaman (meskipun terbatas juga karena pandemi). Juga tak ada kecemasan bahwa sewaktu-waktu kita akan diterkam dan dijebloskan ke penjara yang kesangarannya tak terbantahkan dan yang masuk ke sana tak pernah lagi bisa keluar sebagai manusia utuh. Kebanyakan tinggal nama.

Saya menata hati dan melanjutkan membaca lagi surat Anne terutama yang bertanggal 8 Mei, 1944. Kurang lebih 76 tahun yang lalu. Mengapa saya tertarik di tanggal ini, sebab disinilah saya tahu bagaimana Anne Frank bercerita sesungguhnya ia lahir dari keluarga kaya, ayahnya kaya, ibunya kaya, dan mereka seharusnya bisa makan enak namun kenyataannya dia hanya makan dua sendok makan bubur dan wortel setengah matang untuk sarapan, kadang kentang busuk, lalu lettuce, dan bayam yang membuat Anne merasa dirinya kuat seperti Popeye.
Di tanggal 12 Mei, 1944, Anne mengatakan cita-cita terbesarnya adalah menjadi jurnalis dan penulis terkenal. Dia menulis “In any case, I want to publish a book entitled Het Achterbuis after the war. Whether I shall succeed or not, I cannot say, but my diary will be a great help.”
Dari tulisan ini kita tahu, Anne Frank telah mengubah dunia, ia telah menjadi seseorang yang melampaui cita-citanya, untuk menjadi jurnalis dan penulis terkenal. Ia telah menjadi pahlawan bahkan di usia mudanya. Suara yang ia sampaikan lantang melampaui jaman.
Surat terakhir Anne Frank tertanggal 1 Agustus 1944. Bagaimana nasibnya. Pada tanggal 4 Agustus 1944, 3 hari setelah ia menulis suratnya yang terakhir, seorang mata-mata Belanda masuk ke persembunyian Anne dan keluarganya. Mereka dibawa ke pusat Gestapo (polisi Nazi Jerman) di Amsterdam. Lalu pada 3 September 1944, mereka dibawa keluar dari Belanda.
Tiga hari kemudian, mereka tiba di Auschwitz di Polandia di mana Anne terpisah dari keluarganya. Dalam buku berjudul “Anne Frank, A Portrait in Courage” oleh Ernst Schnabel, diceritakan bahwa Anne Frank menyaksikan penyiksaan tawanan di Auschwitz dan ketika sekelompok gadis Hungaria mengantri ke ruang gas untuk ‘dikremasi’, dia menatap mereka, sambil berkata, lihat mata mereka, mata mereka…
Bulan Oktober, Anne, Margot, dan Mrs. Van Daan dipindahkan ke Belsen di Jerman. Sementara Ibu Anne, tetap di Auschwitz. Ia meninggal disana bulan Januari, 1945 karena tak mau makan. Sementara itu Otto Frank, di kamp laki-laki pada Februari 1945 bertahan dan dibebaskan oleh orang Rusia.
Sementara itu nasib Anne dan Margot di Belsen tak lebih baik. Mereka sangat lemah dan diserang wabah tifus.
Margot meninggal pada akhir Februari 1945. Dan menyusul beberapa hari kemudian Anne Frank.
Usianya belum genap 16 tahun.
Di bulan Mei 1945 perang mereda. Otto frank kembali ke Amsterdam. Sekretarisnya, Miep, berhasil menyelamatkan catatan Anne Frank yang kemudian diterbitkan Ayahnya dengan judul dalam bahasa Belanda “Het Achterhuis”, seperti keinginan yang ditulis Anne di tanggal 12 Mei, 1944.
Ayahnya, Otto Frank mewujudkan buku Anne di bulan Juni tahun 1947 dengan penerbit Contact Publishers. Hingga kini buku ini telah diterjemahkan ke 70 bahasa. Dan telah menjadi sumber inspirasi bagi dunia sastra, teater dan film hingga sejarah. Seorang Anne Frank telah mengubah wajah dunia, dan namanya tentu tak akan pernah hilang dalam sejarah. [T]
PERNAHKAH tersirat di pikiran anda apa itu “Malam Minggu”? Dan apa bedanya dengan “Sabtu Malam”? Rasanya hanya beda istilah dengan makna yang sama. Istilah mana yang lebih sering a...
SEBAGAI mahasiswa yang menuntut ilmu di universitas yang bergerak dalam bidang keguruan, tentu “kegiatan mengajar” tidak lagi asing di telinga mereka. Bahkan “kegiatan mengajar” ak...
Bapak/Ibu Guru yang kami cintai, pidato ini saya buka dengan kutipan dari penyair Kahlil Gibran… “Cinta tidak punya hasrat selain mewujudkan maknanya sendiri.” BEGITU bijaknya Ka...
GENERASI yang cerdas dan berakhlak mulia terwujud dari adanya guru yang cerdas dan berkompetensi. Sebuah ungkapan sederhana namun memiliki banyak makna dan usaha. Dewasa ini, guru...
MELIHAT pendidikan Indonesia memasuki milineum ketiga, ketika teknologi digital melahirkan generasi baru (generasi Y), makin kentara paradoks dunia pendidikan, biang kerok stagnasi...
SEBUAH percakapan mengejutkan di ruang kelas: Saya : Anak-anak, kalian punya cita-cita? Ada yang jawab punya, ada yang menjawab tidak. Saya lontarkan pertanyaan ini kepad...
DUNIA ini adalah panggung sandiwara. Tuhan penulis skenario sekaligus sebagai sutradara. Dan kita umat manusia sebagai aktornya. Segala sesuatu yang kita lakukan sudah ada skenari...
POLITIK mungkin sesuatu yang asing bagi saya terutama mengenai politik praktis. Memang sedikit paham, secara garis besar politik didefinisikan sebagai “ilmu mempengaruhi”. Sebagai...
HARI masih pagi. Jarum jam baru menunjukkan pukul 08.30. Namun entah mengapa, matahari bersinar begitu terik. Meski begitu, suasana di Lapangan Umum Desa Bebetin, terlihat riuh. Pu...
MEDIA massa baik itu cetak maupun elektronik setahu saya adalah sebagai “tukang lapor” kepada masyarakat luas terhadap apa yang terjadi pada suatu tempat dan suatu waktu di belahan...