Tuah Wanita Bali - Kebahagiaan saat Memberi
LAKI-LAKI menjadikan wanita sengsara, anak membuatnya bahagia. Sungguh? Betapa menyesakkan kisah ini, tapi ia bisa menjadi ungkapan dari zaman ke zaman: anak lebih dibutuhkan oleh...
Membuka buku Avianti Armand, Museum Masa Kecil (Gramedia Pustaka Utama, 2018), membuka ingatan saya pada sebuah momen ketika saya bertemu dengannya di Ubud Writers and Readers Festival 2018. Saya membeli bukunya di tempat, lalu ngobrol dengannya dan kami bertukar buku.
Avianti tampak santai dan ringan. Saya juga saat itu rileks. Saya tahu Mbak Avianti sejak lama, karya-karyanya selalu mencengangkan saya. Terlebih di museum masa kecil ini.
Jangan dulu baca semua. Baca satu saja. Puisi pertamanya.
Akhirnya museum itu dibuka kemarin. Tak banyak yang datang. Alamatnya agak susah dicari: Hujan, Gelas Susu Ke-3, satu belokan sebelum pagi. Di dalamnya dideretkan yang hilang dan yang ditemukan dari masa kecil.
Saya selalu akan diam setelah membaca ini. Dulu, saat pertama membaca, saya diam. Sekarang, 3 tahun berselang, juga sama saja. Saya masih terpukau. Apa yang membuat saya terpukau. Ya semuanya. Semuanya.
Museum, idenya adalah sebuah tempat menyimpan benda kenangan. Tapi museum dalam konteks Avianti tidak sesederhana itu. Ia membingkainya dalam kenangan. Kenangan yang tak bisa dicuri. Kenangan yang abadi.
Lalu. Bagaimana kita mengakses kenangan itu. Dengan menuliskannya. Dengan memanggilnya kembali. Lalu kita bagikan, lalu orang lain seketika terhubung atau barangkali tersentuh dengan kenangan itu.
Kembali ke puisi tadi.
Akhirnya museum itu dibuka kemarin. Tak banyak yang datang. Alamatnya agak susah dicari: Hujan, Gelas Susu Ke-3, satu belokan sebelum pagi. Di dalamnya dideretkan yang hilang dan yang ditemukan dari masa kecil.
Dari puisi itu kita tahu. Alamat museum itu agak susah dicari. Hujan. Gelas Susu ke-3. Satu belokan sebelum pagi. Apa yang membuat kita mengakses museum ini jika bukan kenangan. Hujan.
Kenangan soal hujan pasti berbeda-beda di benak kita. Ada yang merindukannya, ada yang menolaknya, ada yang sinis padanya. Hujan menjadi peristiwa yang personal dan tidak terjangkau oleh imajinasi tapi juga oleh ruang ruang absurd yang melahirkannya.
Lalu gelas susu ke-3. Siapa yang minum susu, kamu atau aku, atau kita. Susu apa yang kita tuju, susu sapi, atau susu kedelai. Susu impor atau susu lokal. Susu dibeli di mana. Bagaimana dia hadir. Itu juga tak selesai-selesai kita bahas.
Lalu yang paling dahsyat dari semua adalah, satu belokan sebelum pagi. Di sini, waktu dan tempat, dan peristiwa dijadikan sebuah teks yang maha luas. Belokan sering kita persepsikan dengan sebuah benda fisik, entah jalanan, atau gang, atau konstruksi yang bentuknya berbelok. Tapi belokan sebelum pagi, bagaimana bisa kita bertemu belokan sebelum pagi. Apa yang membuat kita bertemu belokan sebelum pagi. Apa yang mengantarkan ke peristiwa itu.
Mari kembali lagi ke alamat museum tadi. Jika hujan, susu, dan belokan sebelum pagi mampu memberimu sebuah kepastian soal alamat, maka mungkin kamu sampai. Tapi kita semua tidak sepakat pada alamat yang mana. Lalu kita mau tiba di mana.
Baik. Avianti memang hebat. Apa pun itu, jika puisi seorang penulis mampu menahan saya lebih lama dari sebuah pagi, maka dia berhasil membuat saya setidaknya berpikir. Lalu mari kita simak puisi berikutnya.
Artikel 01.
PADA SUATU KAMAR TIDUR
01.1
Jika suatu ketika kamu bertemu putri duyung, jangan lupa tanyakan bagaimana ia bisa sembunyi begitu lama di 1975.
Baiklah.
Saya tahu putri duyung, meskipun tidak kenal dekat. Saya tahu dari cerita. Saya tahu ada tahun 1975 tapi tidak berada di dalamnya. Saya bisa riset soal itu tapi saya tak bisa terhubung dengan tahun itu. Tapi di puisi Avianti ini keduanya bertemu. Putri duyung dan 1975.
Ada sebuah temuan menarik tentang sejarah putri duyung dan Anda bisa merisetnya sendiri. Tapi saya tidak sedang membahas itu. Saya sedang membahas puisi Avianti yang dengan sengaja mempertanyakan ide ide sebuah konstruksi yang berbeda dalam satu puisi. Ada narasi, dongeng, riset, dan ide tentang antropologi dalam puisi ini. Saya sedang menikmatinya.
Dia menyajikan semua museum itu dalam benak kita, bukan menyodorkannya. Museum ini pantas tak memiliki alamat, sebab semua itu ada di benak kita, di dalam budaya kita yang masing-masing dari kita bebas mengaksesnya jika mau dan bisa.
Sebagai penutup, saya sajikan puisi ketiga.
01.2
Ia membiarkan rambutnya tercerai dan terburai.
Ia sedang sibuk berusaha tenggelam
di langit.
Anda tahu rambut, kan? Anda pernah meriset rambut Anda sendiri kan? Minimal tahu teksturnya seperti apa. Kebutuhannya seperti apa. Tapi rambut yang tercerai, bagaimana, apa yang membuatnya begitu. Siapa yang menceraikan rambut itu. Mengapa. Lalu berikutnya terburai. Umumnya usus yang terburai, tapi kalau rambut terburai, museum masa kecil mana yang menyajikannya.
Apa Anda punya akses ke sana?
Di mana alamatnya?
Kembali seperti apa yang saya katakan di awal museum masa kecil ini sesungguhnya monumen kenangan bagi siapa yang membacanya, bukan soal Avianti, bukan soal puisi semata, tapi bagaimana mengakses kenangan dengan berbeda dan menyikapinya dengan santai dan ringan, seperti menemukan sebuah belokan sebelum pagi. Kecuali Anda tak bisa santai.
Mungkin rambut Anda tak hanya tercerai, bahkan terburai, seusai membaca puisi ini.
Selamat hidup.
Lagi. Berkali-kali.
LAKI-LAKI menjadikan wanita sengsara, anak membuatnya bahagia. Sungguh? Betapa menyesakkan kisah ini, tapi ia bisa menjadi ungkapan dari zaman ke zaman: anak lebih dibutuhkan oleh...
BANYAK dari kita geli melihat seorang biker begitu sayang pada sepeda motornya. Setiap pagi dilap, dielus, ditepuk-tepuk. Malam sebelum tidur dilihat lagi, dilap, dielus lagi. Sea...
PAGI-PAGI di awal Juli aku ditelepon dramawan Putu Satria Kusuma. “Ole, Yudane sedang di Singaraja, tolong temani dia. Aku lagi di Denpasar,” kata Putu tentu dengan gaya bicara yan...
KITA bangsa yang pendek ingatan. Apa boleh buat. Sampai tingkat tertentu, dalam berkomunikasi pun tak ketinggalan kita memilih cara-cara ringkas. Bahkan jika itu harus dengan menyi...
KALAU sedang rikuh, kalau sedang tak kuat menahan pusing karena televisi terus saja menayangkan cerita-cerita seram, maka marilah kita mencoba mengingat satu sosok: Ibu. Kita akan...
Cerpen: I Putu Supartika TIDAK ada yang tahu sejak kapan pura kecil di tengah sawah itu berdiri. Yang pasti orang-orang di sekitar pura tahu pura itu sudah ada sejak kelahiran mere...
HIRUK-PIKUK perhelatan akbar sepakbola yang begitu menyedot antusiasme dunia dalam sebulan terakhir usai sudah. Piala Eropa (Euro) dan Copa America Centenario 2016 berakhir dengan...
PERNAH jadi trend sebuah berita bahwa ada sekolah di Kabupaten Gianyar yang hanya punya satu orang siswa kelas VI. Banyak kalangan berpendapat, dan tidak sedikit menyoroti bahwa in...
PESTA Kesenian Bali (PKB) ke-38 tahun 2016 berakhir. Banyak pentas seni lewat begitu saja, tapi banyak juga meninggalkan bekas dan kesan di hati sejumlah orang. Para seniman, terut...
WANITA itu terlihat pasrah. Matanya terpejam. Seolah bersiap melepaskan ruh dari raganya yang telah mati. Bagian bawah tubuhnya mengelupas, menjelma serpihan-serpihan tembaga. Itul...