Setelah berkeliling kota Denpasar namun tidak juga menemukan apa dan bagaimana cobalah ke Jalan Sutomo Gang 8 No. 8 tepat di sebelah Banjar Gerenceng siapa tahu ia menunggu di sana, apapun itu, siapapun itu.
Sudah berulang kali aku datang ternyata senyum Ibu Wati lebih tua dari usia pencaharian kita di depan lapuk pintu coklat tembok bata mengikis setiap pertanyaan dari mana aku beranjak ? sampai kapan kau akan berhenti ?
Mana hendak kita makan lebih dahulu ayam sisit merah ? jukut gonda hijau kekuningan ? kacang goreng asin ? telur krispi keriting ? atau sambel sere lemo, merah hitam pedas ini ? karena kita berdua tidak pernah mengetahui cara lapar yang benar bagaimana menanggulanginya agar tetangga lain tidak mendengar.
Ini resep dari nenek moyang di turunkan dari mimpi-mimpi bulan purnama asing di merajan ribuan tumbuk lesung di celah-celah tungku api menguap entah ke mana arahnya lalu kita mencari jauh, tanpa sesekali pulang ke rumah.
Seorang karyawan membawa catatan pesanan satu di antaranya hanya nasi dan kata-kata setengah matang
“Di kantor semua orang sedang merangkai kalimat tapi mereka lupa sebelum kalimat ada kata serta kesepakatan antar keduanya yang tidak pernah tertera dalam kamus” kata karyawan tersebut
Sambel sere lemo kulahap bersama sayur gonda dan ayam sisit menerka rasa pedas dari mulut hingga ke ubun-ubun kacang dan telur nanti saja setelah nasi habis dan keringat berakhir botol teh sosro sendiri di ujung meja seekor lalat bertengger sambil menjilat bibir botol terbang ke atas piringku, bersiap tidur siang panjang.
“Tenang saja aku selalu menyimpan bekal kata-kata dari ibu kukumpulkan jadi satu, lalu kumasak di hari minggu agar Senin, aku terbiasa dengan orang-orang sepertimu” kata karyawan itu kepadaku . . . . .
Aku selalu mencari datang dan tiba saat pergi.
9-10-11 Januari 2021
NB Sere lemo = sambel terasi dan perasan lemo Merajan = tempat sembahyang Agama Hindu
TARI TENGKLONG, PRAJURIT MELOMPAT, KAMI TERTAWA
Sanggah Surya di tengah kerumunan empat prajurit empat sudut, berpakaian hitam, saput poleng membawa tombak panjang di pundaknya, tanda perang kisah-kisah tidak sempat kita perankan, waktu jatuh di ujung tombak menembus tawa hari ini.
Tabuh semakin cepat tari berlari melingkar semakin pepat kami berteriak, mereka bersorak lalu berhenti seketika, empat prajurit bersiap satu kaki semua tertawa, satu penari ngegol jenaka terhempas ke luar lingkaran sejarah lekang di rongga meriam batu beku jadi sembah pada jingga Penampahan Galungan.
Hari itu orang-orang Kerandan merayakan kemenangan dari musuh-musuh masa lalu ibu-ibu membawa gebongan buah setinggi anak lelakinya bapak-bapak duduk dibelakang mengamati doa mana senyatanya memberikan nasib baik anak-anak berkeliling melihat buah warna ungu, jingga, putih dan hitam dalam kepalanya : semua buah menyenangkan apapun warnanya aku menangis jika ujung tombak itu menyentuh tanah mungkin tidak ada berkat lagi
setelahnya Nasi Jinggo dibagikan di atas gebogan anak-anak berebut bingkisan warung, seperti oleh-oleh pesta ulang tahun Raja Pemecutan berjinggo bersama rakyatnya Kami menunggu raja usai makan malam, sambil menghitung daun-daun ketapang jatuh di atas kepala kami sambil memperhatikan seekor anjing hitam koreng menunggu sisa makanan dari upacara.
Raja tertawa, rakyat menahan tawa sedikit Empat prajurit usai bertaruh arah Semua senang, semua lelah Kami pulang membawa gebogan, ambil menawarkan buah istimewa ke yang lain, kami barter Sedari tadi adikku sudah mengincar anggur ungu dari eropa, gebogan milik Ibu Jero
Ibu Jero hanya meminta senyum adikku.
Rabu 13 Januari 2021 13 : 26 WITA
Banjar Cerancam, Jalan Turi, Denpasar
PULANG, KE PANGKAL PITA SUARAMU
Bale Kulkul bata merah di pojok banjar, piring-piring putih di beberapa sisinya, seseorang memanjat tangga menatap langit, menggambar awan di tangannya hari masih panas, was-was seorang anak kecil menyebrang ke banjar ingin menabuh gangsa, memukul gong berkali-kali.
Gong tersebut menyimpan kisah panjang, melintang dari Sanur – ke Ceramcam tukar menukar janji, atas lingkar perjalanan tetua-tetua yang barangkali kita lupakan tanpa sengaja, terselip di antara lontar daun jaka, di tumbuh serat jamur warna merah peradaban tetap berjalan, pendongeng masih ulung menceritakannya kembali kepadamu - kepadaku, di pangku dalam, temaram mata ibu.
Setiap kata penting, untuk pertumbuhanmu nyatanya tidak segampang itu, mereka sedang sibuk menjawab pertanyaan apakah selamat pagi itu di peruntukkan pagi ? tidakkan sangat arogan mengucapkan salam sebelum pagi benar-benar ada di halaman menyisir setiap absen tawa anak-anak, di simpan malam pada bulan.
Kata Bli Wayan Sukadana, bila anak kita belum mampu berbicara semisal : melafal benda-benda, meniru suara cicak saat menangkap nyamuk mengucap ibu dengan sempurna, menanyakan sanksi kelahirannya, sementara usianya sudah terlewat datanglah hati, ilkhas pada berkat basuh air cempaka di antara celah gong tembaga kumpulkan setitik demi setitik di jemarimu hingga ujung lidah, tenggorokan, usus, sampai ke jantungnya minum, minumlah…… mandi, mandilah…..
Mereka akan kembali, pulang ke pangkal pita suaramu.
Sedari dulu orang-orang tahu gong itu bertuah mengembalikan asal bunyi, muasal suara, ke liang – liang sekalipun terdengar samar jauh lagu ancang-ancagan senja mengulang kepergiannya sekian kali leluhur menjenguk sesekali saat upacara suci di gelar berkala sementara kita menghitung jumlah karat di antara kerak waktu di badan gong, kulit gendang, ujung kempul, daun gangsa bahkan di tiang penyangga yang memisahkan nasib kita hari ini.
Upacara usai tepat saat anak-anak mulai belajar menari sambil menghafal nama sungai yang mengitari desa kita alirannya sampai di kaki ibu, sebab langkahmu tidak pernah kuduga.
Denpasar, Januari 2020
POLLOK BERMULA, MEMANDANG PANTAI LAPANG
Dari Kelandis Ni Pollok bermula dari halaman Pura Jurit liku tubuhnya berhulu dari Rumah Sanur milik Le Mayuer ia bermuara
Aku berkunjung ke rumah tua milik keluarganya halaman ditumbuhi bunga-bunga merah, rumah kupu-kupu menyimpan perjalanan menuju pesisir, menitipkan telur di bawah daun ketapang kering di ujung ranting.
Kata cucumu, Arini, yang kini sibuk di artshop kecil depan museum gemulai tangan, sudut senyum, serta liku jemarimu masih tersisa di halaman hatinya, saat bayang-bayang daun jepun tepat jatuh di wajah puluhan patung koleksi tuan begitulah caranya mengingatmu, sembari menelisik puas warna pada kanvas, tumbuh di dinding kayu jati merah seorang anak desa jadi penari legong .
Kemudian kami berdua mencoba menerka gincu apa kesukaanmu ? selendang apa favoritmu ? saat suamimu mulai menerjemahkan bias matahari menjadi berbagai kemungkinan tanda tanya, sebab tidak ada titik dalam kehidupanmu kan ?
Aku dan Ibu Arini mengira, perempuan yang gemar menari merupakan persembahan luhur untuk para dewa tubuh ditempa dari pagi hingga malam hari, seperti perjalananmu mencari air di sungai, memberi makan babi dan sapi, memanen padi, menumbuk jagung hingga menjaga keseimbangan antara ketiadaan dan kehampaan.
Tubuh-tubuh itu sudah jadi, dikerja ikhlas tak berkesudahan.
Odah, orang banyak mengenalmu sebagai model lukisan kau masih di situ, memandang pantai lapang, di pesisir banyak toko oleh-oleh sekarang, baju barong, kaca mata, topi, udeng, kaos I Love Bali topeng bondres, serta penjual makanan yang saban hari menunggu
Sesekali pulanglah ke Kelandis cucu-cucumu gemar menari, setiap piodalan di pura datang pada kami hujan terakhir bulan kelabu ajarkan setiap gerak mata dan gerak rapal jemari sebab hidup ku adalah tarian tarian panjang untukmu dan dewa-dewa
Januari-Mei 2021
- CATATAN
Puisi-puisi ini hadir dari tulisan semasa saya menjadi wartawan di tahun 2017. Waktu itu saya mengampu rubrik tentang banjar. Setiap banjar di Denpasar saya kunjungi, mencari cerita, legenda, mitos, makanan enak, sistem sosialnya hingga tokoh yang memegang peranan penting dalam satu wilayah banjar tersebut.
Tahun ini 2021 saya mengulik lagi tulisan itu, lalu mengunjungi ulang banjar tersebut secara berkala. Kadang diam-diam hanya duduk di balai banjar, kadang ketemu kelian adat atau dinasnya, kadang hanya menatap balai kulkulnya saja. Tentu puisi ini tidak terlepas dari situasi zamannya, saat mencari data dulu hingga saya merangkainya jadi puisi.
Inilah yang saya sebut sebagai puisi arsip, hadirnya dari data dan pengarsipan walaupun belum lengkap, kemudian dirangkai dengan metafora-metafora logika peristiwa yang saya alami. Tapi memang agak susah menakar puisinya, jika tidak mengetahui latar dibelakang cerita yang mendukungnya.
Terlepas dari itu silahkan nikmati saja, sebagaimana teman-teman membaca puisi seperti biasanya.
DERU puluhan sepeda motor bergema dari arah utara Kota Singaraja pada Senin, 29 Juni 2026. Satu per satu kendaraan itu bergerak perlahan melintasi Jalan Ngurah Rai menuju Gedung D...
Bali Kembali Diserang, Kali Ini Tanpa Ledakan
TANGGAL 12 Oktober 2002 menjadi salah satu hari paling kelam dalam sejarah Bali. Ledakan bom merenggut ratusan nyawa dan menggunca...
NOTARIS pada hakikatnya merupakan salah satu pilar utama dalam menjaga kepastian hukum, khususnya dalam lalu lintas perdata, investasi, pembentukan badan usaha, hingga berbagai tr...
PEMBACA tak perlu mengukur jarak antara Plaju dan Hawkins, apalagi harus repot-repot mencari tahu apa yang hendak dihidangkan di sana, sebab keniscayaan yang akan pembaca dapati....
HAMPIR saja tim nasional sepak bola Republik Indonesia lolos ke Piala Dunia 2026 yang dihelat di tiga negara, Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Iya, hampir saja. Itu berarti b...
Ketika anak-anak itu bermain riang, ruang Gedung Mario berubah menjadi area interaktif, sangat dinamis dan terkesan lebih hidup. Langit-langit tinggi dan tiang-tiang bangunan ikut...
KEMBALINYA seni Arja di Banjar Bukit Buwung, Kesiman, tidak dapat dipahami semata sebagai upaya revitalisasi kesenian tradisional, melainkan sebagai proses pemulihan roh kebudayaa...
IRONI terbesar abad ke-21 mungkin bukan ketika mesin mulai mampu berbicara. Ironinya justru ketika mesin mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang telah lama berhenti diajukan m...
PADA tahun 1999 sampai 2005 saya sempat membantu Bre Redana, mengkurasi karya-karya seni rupa yang berdialog dengan cerpen. Waktu itu, Bre Redaktur Kompas Minggu.
Bagi saya, it...