Pesta Kesenian Bali: Keroncong Tidak Mati
KETIKA tubuh meragang nyawa, dalam perukan persada. Tinggal nafas yang masih tersisa. Kau pekikkan merdeka. Bait lagu Puji Bagi Pahlawan ciptaan Basuki itu mengalun dalam sunyi. La...
Perupa Made Kaek menggelar pameran tunggal di Jimbaran Hub, Jl. Karang Mas, Jimbaran, Bali. Tajuk pamerannya, “Amorf Made Kaek”.
Pameran ini berlangsung 8-29 Mei 2021, serangkaian Jimbaran Art Festival. Yang tertarik, bisa datang langsung, melihat 48 karya rupa terpilih Made Kaek dari periode cipta 2019 hingga 2021.
“Ini merupakan pameran tunggal kelima saya. Yang terakhir tahun 2017, merayakan setengah abad usia saya. Melalui pameran kali ini saya menghadirkan karya-karya yang mencerminkan pencarian dan penemuan stilistik juga estetik dari periode demi periode lukisan saya,” kata Made Kaek tentang lukisan yang dipamerkannya.
Made Kaek adalah pendiri Rumah Paros Gallery. Tak diragukan lagi kematangannya dalam berkarya.
Melalui seri lukisan dalam pameran di Jimbaran Hub, ia hendak menyuguhkan sisi lain dunia batin atau pra sadarnya. Karya-karyanya juga cerminan diri Kaek yang soliter dan mempribadi, menggenapi sisi pribadi sehari-harinya yang dikenal solider; supel bergaul, ringan berbagi, dan hangat bersahabat.
Made Kaek mengapresiasi inisiatif dari Jimbaran Hub untuk menyelenggarakan pameran di tengah masa pandemi. “Ini adalah sebuah upaya yang baik untuk tetap menjaga semangat kreativitas dan elan penciptaan, terutama untuk para seniman ya,” ujar Kaek.
Jimbaran Hub adalah pusat kegiatan untuk komunitas kreatif, inovatif dan aktif di Bali yang berada di kawasan Jimbaran Hijau.
Putu Agung Prianta, salah satu founder Jimbaran Hub mengungkapkan, acara Jimbaran Hub Art Festival JHUB Artfest ini adalah untuk memberi semangat dan ruang baru dalam era baru ini, memberi semangat kepada para seniman Bali, nasional dan internasional yang sedang berada di Bali.
“Semoga kegiatan ini dapat memberikan energi positif bagi seniman untuk berkarya, baik seni musik maupun seni rupa, sekaligus memberi energi kepada masyarakat Bali dan internasional yang ada di Bali untuk tetap bersemangat, stay positive, dan terus berkarya, “ tutur Putu Agung Prianta.

Penyair Warih Wisatsana yang menjadi kurator pameran ini mengakui bukan perkara mudah untuk meraih karya yang unik otentik dengan capaian stilistik dan estetik seperti dilakukan Made Kaek.
Kaek, yang dilahirkan di Denpasar, 23 Januari 1967 ini, mulanya berangkat dari langgam abstraksi. Proses kreatifnya ini semata sebuah upaya sublimasi dari realita atau kejadian yang ditelaahnya secara pandangan langsung.
Berbeda dengan periode-periode sebelumnya, yang lebih mengedepankan deformasi bentuk, keleluasaan eksplorasi warna, berikut kemudian mengejar dan menggali monokrom hitam putih, pada karya-karyanya kali ini Made Kaek terlihat begitu lepas bebas merefleksikan wujud rupa yang terbilang ‘amorf ’.
Merujuk Amorf sebagai istilah, melahirkan pengertian adanya unsur-unsur ‘wujud’ yang bentuk sesungguhnya tidak pernah permanen; adalah zat yang hakikatnya tidak memiliki struktur baku atau amorphous (a:tidak, morf:bentuk).
“Sekilas, amorf Kaek mengingatkan pada Basquiat. Namun sebenarnya berbeda karena titik mula ekspresi atau tendensi penciptaannya yang berlainan. Bila pada Basquait adalah menyiratkan sekaligus menyuratkan protes sosial dari kaum hitam jalanan yang terpinggirkan; pada Kaek lebih sebagai lantunan solilokui dirinya, “kata Warih Wisatsana.
Kosa rupa amorf ini bisa juga ditelusuri pada karya-karya Art Brut, dicetuskan Jean Dubuffet. Ia mengumpulkan karya Art Brut, termasuk buah cipta pasien rumah sakit jiwa Adolf Wolfli (1864-1930), dan melangkah lebih jauh melahirkan Museum Collection d’Art Brut di Laussane, Switzerland, menampung karya Art Brut dunia, termasuk Ni Tanjung (Bali). Art Brut mengedepankan karya seniman dengan gangguan skizofrenia. Mencerminkan pribadi obsesif, sosok-sosok yang ada dalam kanvas merupakan luapan naluri purba di bawah rundungan delirium.
Sedangkan seri amorf lukisan Kaek justru adalah menggambarkan capaian proses ‘ekstase’, di mana tarikan garis, warna, dan goresan aneka rupa tetap dalam paduan kecakapan teknis yang pada ghalibnya sudah menjadi sesuatu yang organis dengan dirinya. Ekstase dalam proses cipta berkesenian ini pada tataran tertentu seakan mirip seseorang yang tengah dirasuki delirium, namun bila para Art Brut adalah gambaran ketidaksadaran laten, sebaliknya pengalaman serupa Kaek bahkan adalah melahirkan kesadaran atau meraih kejernihan diri, gambaran pribadi yang ringan batin.
Seri rupa terkini Made Kaek boleh dikata tidak lagi terbebani pesan atau pernyataan-pernyataan tentang kenyataan; yang mengemuka adalah sosok-sosok atau wujud yang tidak sepenuhnya dapat diidentifikasi sebagai rupa flora, fauna, atau manusia, bukan juga mahluk-mahluk mitologis yang berpretensi mistis-magis.
“Seri amorf Kaek ini menandai tahapan penciptaan penuh kemungkinan dari seniman yang berumah di kawasan seni Sukawati ini. Capaian stilistik dan estetiknya menunjukkan kematangan tersendiri dirinya, baik sebagai perupa maupun pribadi, yang boleh dikata sudah tak muda lagi,“ kata Warih Wisatsana. [T][*][OLE]
KETIKA tubuh meragang nyawa, dalam perukan persada. Tinggal nafas yang masih tersisa. Kau pekikkan merdeka. Bait lagu Puji Bagi Pahlawan ciptaan Basuki itu mengalun dalam sunyi. La...
Apakah yang paling membanggakan dari makhluk yang bernama manusia? “Kreativitas.” Itulah jawabnya. Manusia menjadi “lebih” ketimbang binatang karena memiliki ruang yang sangat luas...
Sebagai orang yang tidak berkompeten dalam bidang bahasa Bali, mungkin saya akan tulah idup karena apa yang akan saya paparkan barangkali banyak bohongnya. Saya bukan orang yang la...
Kaohsiung adalah kota terbesar kedua di Taiwan setelah Taipe. Di kota itulah saya berada, awal Juni 2016. Seperti sebuah mimpi, dari Singaraja – kota tempat tinggal saya - segalany...
FENOMENA The Great Pacific Garbage Patch menjadi bukti betapa kita sebagai manusia telah membunuh bumi dengan plastik. Miliaran ton sampah plastik terapung di laut, membuat jutaan...
KEMISKINAN, di Bali, bisa berarti sebuah upacara. Warga Desa Trunyan di Desa Kintamani, Kabupaten Bangli, sebelum berperilaku menjadi manusia miskin melakukan ritus kecil: membakar...
JIKA hobi facebook-an, singgahlah sesekali ke halaman Punk Kwala Ngibur. Bisa kita nikmati komik berbahasa Bali dari tingkat paling kepara sampai sor se-singgih-singgihnya. Tulisan...
MUNGKIN saya sudah terlambat menguraikan hal ini. Karena saat ini sudah makin banyak masyarakat yang menolak reklamasi Teluk Benoa. Namun dalam konteks ini, saya meyakini bahwa leb...
Bahasa menunjukkan bangsa. Itu peribahasa yang akrab saya dengar di Sekolah Dasar dulu yang bertahun-tahun kemudian saya amini kebenarannya. Kultur sebuah bangsa, seturut makna per...
Judul Buku : Badriyah Pengarang : Ayu Weda Penerbit : Gambang Buku Budaya Tahun Terbit : Maret 2016 Jumlah Halaman : xiv + 207 halaman ISBN : 978-602-6776-15-0 SELURUH cerita dala...