Catatan Harian Sugi Lanus# Kisah Puncak Merapi Lenyap
ADA kisah puncak Merapi lenyap. R.W. van Bemmelen, dalam bukunya The Geology of Indonesia' (1949), menyebutkan super-volcano Merapi ini pernah meletus dasyat sampai pucaknya jad...
Dahulu kala ada sepasang suami istri tinggal di pinggiran danau. Suami istri tersebut mempunyai seorang anak laki-laki bernama Anung. Anung merupakan anak yang rajin. Anung selalu membantu kedua orang tuanya dalam mengolah lahan pertaniannya. Di samping rajin, Anung sangat menyayangi binatang. Setelah selesai membantu kedua orang tuanya, Anung pergi ke danau.
Suatu ketika Anung melihat seekor kodok yang kurus. Kodok itu terus memandangi Anung. Anung mendekati kodok tersebut dan membawanya pulang. Sesampai di rumah, Anung menaruh kodok tersebut di taruh dalam toples. Setiap hari Anung memberi makan lalat, nyamuk dan serangga lainnya. Anung berharap kodok tersebut betah tinggal di rumahnya.
Anung begitu terkejut ketika bangun pagi, kodoknya tidak ada di dalam toples. Anung mencari kodok itu di sekeliling rumahnya namun Anung tidak menemukan kodok itu. Tanpa pikir panjang, Anung pergi ke danau. Anung menelusuri pinggiran danau dengan harapan dia bertemu dengan kodoknya. Hampir seharian Anung mencari kodok itu sehingga Anung merasa ngantuk. Anung akhirnya tertidur pulas di pinggiran danau.
Melihat Anung tertidur, kawanan kodok mendekatinya dan bertanya-tanya mengapa ada manusia tidur di pinggir danau. Semakin lama jumlah kodok semakin banyak. Kodok-kodok tersebut mengelilingi Anung.
“Kita apakan anak ini?” tanya Kodok Gendut.
“Kita gotong saja, kasihan dia, nanti dimakan buaya.”
“Kita biarkan saja.”
“Begini saja, kita lapor pada raja kita.”
Begitu akan melapor pada raja, datanglah kodok yang pernah dipelihara oleh Anung. Kodok itu dipanggil Kodok Kurus.
“Jangan melapor dulu. Raja kita lagi sibuk ngurus kodok-kodok yang berkelahi tadi malam. Dan jangan khawatir, teman-teman, anak inilah yang menangkapku beberapa hari yang lalu.” kata Kodok Kurus.
Mendengar pengakuan kodok itu, kodok yang lain menjawab dengan serentak.
“Kita tangkap anak ini, kita tangkap, tangkap, tangkap!”
Suasana di pinggir danau menjadi riuh karena bunyi kodok sehingga Anung terbangun dari tidurnya. Dia sangat terkejut. Ada ribuan kodok mengelilinginya. Anung berusaha lari tetapi kodok yang pernah dipeliharanya mendekati Anung.
“Jangan takut, kodok-kodok ini adalah temanku.”
“Kamu ke sini mau mencariku bukan?”
Anung mengangguk.
“Mengapa kau mencariku?”
“Aku merasa kesepian di rumah tanpamu.” sahut Anung.
“Aku pulang karena aku rindu pada orang tuaku dan teman-temanku.”
“Aku merasa kesepian di rumahmu. Aku ingin bernyanyi tetapi tidak ada yang menemani.”
“Sekarang apa maumu?”
“Aku ingin membawamu ke rumahku,” sahut Anung.
“Aku mau dengan syarat kamu harus tinggal bersamaku beberapa bulan untuk belajar bernyanyi.”
“Bagaimana caranya ?” tanya Anung.
Kodok itu segera pergi dan beberapa saat kodok tersebut membawa sebuah rompi. Rompi itu mirip kulit kodok.
“Kamu pakai rompi ini. Ini rompi ayahku.“
“Ayahku dulu sebagai tokoh yang dihormati.”
Anung segera memakai rompi pemberian si kodok. Tidak beberapa lama, Anung berubah menjadi seekor kodok. Anung melompat dengan lincah. Dia tampak gembira.
“Ayo Anung kita menghadap raja. Aku harus memperkenalkan kamu kepada raja kodok.
Anung dan kodok tersebut segera menghadap raja. Sesampai di istana, Anung heran. Istana kerajaan kodok begitu megah. Raja kodok sedang duduk dan didampingi oleh petinggi pejabat kerajaan.
“Siapa yang kau bawa?” tanya raja kepada Kodok Kurus.
“Ini teman saya, Paduka. Dia adalah manusia. Saya telah memberi rompi ayahku supaya dia bisa masuk ke kerajaan Paduka.”
“ O ya baik.” sahut Raja
“Siapa namamu?” tanya raja kepada Anung.
“Saya bernama Anung, Paduka.” sahut Anung
“Apa tujuan kamu ke sini, Anung? “ tanya raja.
“Saya ingin mengajak teman saya si Kodok Kurus agar tinggal bersama saya di rumah saya.” kata Anung.
“ Kodok Kurus, kamu bersedia tinggal di rumah Anung?” tanya raja.
“Saya bersedia, Paduka, tetapi dengan syarat Anung mau belajar menyanyi seperti masyarakat kodok.” kata Kodok Kurus
“Kamu bersedia, Anung?” tanya raja.
“Bersedia, Paduka.” kata Anung.
“Ajari dia bernyanyi, Kodok Kurus.” pinta raja.
Setelah mendapat izin dari raja, Kodok Kurus mengajak Anung untuk bertemu ibunya. Di sepanjang perjalanan, Anung terheran-heran melihat keindahan kerajaan kodok. Kerajaan kodok begitu indah. Pepohonan tumbuh subur dan menghijau. Air danau dan sungai sangat jernih.
Masyarakat kodok sangat ulet bekerja. Mereka saling membantu antar sesama. Mereka hidup rukun dan segala perselisihan diselesaikan dengan baik. Mereka sangat disiplin. Apabila ada diantara mereka terbukti melakukan kesalahan, setiap anggota masyarakat siap menerima hukuman. Mereka taat pada aturan yang telah disusun oleh pimpinan mereka.
Akhirnya Anung tiba di rumah temannya. Mereka disambut oleh ibu Kodok Kurus. Ibunya sangat senang Kodok Kurus mengajak temannya bermain ke rumahnya. Setiap malam Anung diajari bernyanyi. Tidak terasa Anung sudah dua bulan tinggal di kerajaan kodok. Anung sudah pintar bernyanyi. Suatu saat Anung teringat pada ibunya. Dia berkeinginan untuk kembali ke rumahnya. Anung minta izin kepada temannya.
“Aku akan kembali ke rumahku besok.”
“Kamu rindu kepada ibumu, Anung?” tanya Kodok Kurus.
“Ya aku rindu kepada ibuku. Ibuku pasti mencariku ke mana-mana.”
“Ya, begitu juga dengan aku. Aku juga rindu kepada ibuku ketika berada di rumahmu. Nah, sekarang silakan kamu pulang, Anung. Aku antar kamu sampai perbatasan kerajaan.”
Anung meminta izin untuk pulang kepada ibu Kodok Kurus. Anung dan temannya segera menuju perbatasan. Sesampainya di perbatasan Kodok Kurus meminta Anung untuk melepas rompi yang dipakainya. Seketika Anung berubah menjadi manusia.
“Kamu telah berubah wujud sebagai manusia.” kata Kodok Kurus.
“Kalau aku rindu bertemu kamu bagaimana caranya?” kata Anung.
“Kamu kan sudah pintar bernyanyi. Kamu datang ke danau dan nyanyikan lagu yang aku ajari. Aku dan teman-temanku akan menemui kamu,” sahut Kodok Kurus.
“Baik, aku sekarang menemui ibuku. Selamat tinggal sahabat.” Kata Anung.
Anung melanjutkan perjalanannya. Tidak beberapa lama, Anung sudah sampai di rumahnya. Ibunya sangat gembira melihat Anung sudah kembali. [T]
ADA kisah puncak Merapi lenyap. R.W. van Bemmelen, dalam bukunya The Geology of Indonesia' (1949), menyebutkan super-volcano Merapi ini pernah meletus dasyat sampai pucaknya jad...
Dear Diary, Rasanya sudah lama aku nggak pernah cerita-cerita lagi soal sepakbola. Apalagi soal klub-klub sepakbola profesional. Aku ngerasa hal ini harus aku ceritain ke kamu,...
Pameran lukisan "A Land to Remember" Putu Sudiana Bonuz di Griya Santrian Gallery, Sanur Jumat, 2 Maret 2018, jam 18.30 Wita. TANAH kelahiran seringkali menerbitkan b...
APA itu pelaba? Asal katanya adalah lābha, artinya: pendapatan; perolehan; hal yang menguntungkan; keuntungan. Arti lebih luas dari lābha: menerima, mendapatkan, mengakuisisi, mend...
SETELAH 20 tahun perjalanan menapak dunia kesenirupaan, Kelompok Perupa Galang Kangin kembali menggelar pemeran bersama sekaligus merayakan kebersamaan mereka. Mereka jugamenerbitk...
MASA anak-anak adalah masa yang paling asyik. Selain belajar disekolah, sehari-hari kita ya bermain. Bahkan dalam sehari rasanya waktu kita lebih banyak bermain daripada belajar....
DENTUMAN musik menghentak menggelegar di telinga, itu salah satu khas musik bawah tanah. Semangat menular pada tempo yang disajikan, namun unsur keharmonisasi nada adalah hal yang...
LOVINA adalah merk dagang. Dia adalah sebuah cap yang bisa dibawa ke desa-desa pesisir bagian kanannya sampai ke pesisir daerah bagian kirinya. Ke kanan bisa sampai ke desa Temuku...
KOPLAK menatap Kemitir dengan serius. Kemitir melotot dan menatap kembali mata ayahnya dengan perasaan dan pikiran yang sedikit mengganggu. “Ada apa? Bape menatapku dengan tatapan...
NAMANYA Pak Ogah. Saya mengenalnya saat bekerja sebagai wartawan sebuah koran harian di Denpasar, setiap minggu pagi meliput kegiatan Podium Bali Bebas Bicara Apa Saja (PB3AS), seb...