Kadasa dalam Bahasa Jawa Kuna disebut sebagai istilah waisaka massa, yang jatuh pada bulan Maret–April. Dalam perhitungan Bali bahwa pada bulan Maret–April disebut sebagai sasih kadasa atau bulan kesepuluh. Dalam sasih kadasa ini banyak Desa Adat yang melaksanakan Piodalan. Salah satunya Desa Adat Kedisan di wilayah Kintamani, Bangli.
Desa Adat Kedisan dalam melaksanakan ngusaba kadasa sangat berbeda dengan desa-desa yang lain. Saya sebagai warga Desa Adat Kedisan sangat merasakan perbedaan itu. Perbedaannya terletak pada ritual acaranya. Ritual dimulai oleh deha truna (kawula muda) dan muput-nya juga oleh deha truna.
Sebelum ngusaba kadasa digelar terdapat sejumlah rangkaian upacara lain. Misalnya ngusuba embah/piodalan Ida Bhatara Bujangga Sakti tudak luah. Dari sana diberlakukan upacara ngempet.
Ngempet intinya sebuah upacara sebagai penanda atau simbol penting bahwa deha truna Desa Adat Kedisan dilarang menikah sebelum melakukann sebuah upacara ngerebeg. Upacara ngerebeg dilaksanakan pada tileming sasih jaista.
Upacara ngerebeg diikuti oleh daha truna dengan mengelilingi desa sebanyak tiga kali dimulai dari Pura Desa/Bale Agung, Pura Dalem Pingit, dan Pura Puseh. Sebelum acara ngerebeg dilakukan dahulu acara maprani. Acara maprani diikuti oleh Krama Desa Adat Kedisan yang jumlahnya 185 KK dengan menggunakan sistem tegak.
Suasana upacara ngusaba kadasa di Desa Kedisan, Kintamani, Bangli
Upacara ngusaba kadasa di Desa Kedisan dilaksanakan setiap tahun. Setiap dua tahun sekali upacara ngusaba kadasa dilengkapi dengan upacara ngantukang. Ngantukang dilakukan untuk mengganti penyungsung Ratu Wayan dan Ratu Ketut. Upacara ngusaba kadasa yang disertai dengan ngantukang dilaksanakan selama tujuh hari yang bertempat di Pura Dalem Pingit.
Dipuput oleh Deha Truna
Ngusaba kadasa di Desa Kedisan adalah ngusaba yang dilakukan dalam kurun waktu tiga hari atau bisa sampai tujuh hari. Sesuai dresta Desa Kedisan, warga yang memiliki andil terpenting dalam upacara itu adalah deha truna. Dari awal mulai ngusaba sampai akhir deha truna yang memiliki andil terpenting dalam menyelesaikan upacara.
Dalam sebuah pembagian ayah-ayahan (tugas), deha truna mendapatkan ayah-ayahan yang amat penting untuk dilaksanakan. Karena deha truna mendapatkan tugas untuk membuka upacara dan mengakhiri upacara. Deha truna menjadi ujung tombak dari keberhasilan upacara ngusaba kadasa.
Selain deha truna, semua elemen masyarakat tentu saja diikut sertakan dalam menyelesaikan sebuah upacara. Namun, yang terpenting sekali adalah deha truna. Bahwa deha truna-lah yang bisa muput upacara karena mereka dianggap sebagai abdi serta tulang punggung Desa Adat Kedisan.
Deha truna sebagai pemuput, artinya tidak muput seperti pemangku ataupun sang dwijati. Akan tetapi, deha truna muput dengan menggunakan sebuah mantra yang terdapat di dalam hati dan tidak menggunakan bajra dan segala macamnya.
Dan dalam persembahyangannya tidak menggunakan bunga pacar atau bunga yang mudah kita temukan di pasar atau di warung-warung. Bunga yang digunakan hanyalah bunga tunjang langit. Dalam muput, para deha truna melakukannya bersama linggih dane Jro Peduluan Desa Adat Kedisan.
Suasana upacara ngusaba kadasa di Desa Kedisan, kintamani, Bangli
Sebagai Ajang Pemuliaan Desa
Upacara ngusaba Desa Adat Kedisan adalah sebagai pemuliaan desa. Tepat sehari sebelum acara makiis atau upacara pemuput yang dilakukan oleh deha truna, linggih dane jro peduluan diikuti oleh pengayah lainnya mempersiapkan sarana yang akan digunakan untuk makiis dan sarana yang dihaturkan pada saat itu.
Sebelum acara tersebut dimulai didahului dengan acara mendak (menjemput) Ratu Puseh. Yang konon Ratu Puseh sebagai pamuput acara ngusaba kadasa secara niskala yang sakala-nya di-puput oleh deha truna. Setelah mendak Ratu Puseh dilakukan upacara mamando. Dimana mamando ini diikuti oleh 185 KK yang didahului dengan mengelilingi Pura Dalem Pingit sebanyak tiga kali dan dilangsungkan menuju Pura Dalem Kahuripan.
Setelah upacara mamando dilaksanakan sebuah upacara nyolahang (menarikan) Ratu Keker. Dimana yang menyolahang tersebut adalah seorang Jro Kubayan. Pada saat Jro Kubayan nyolahang Ratu Keker menggunakan gelungan yang terbuat dari ental, kerikan kayu tulak, daun andong, dan lumut kayu.
Pada saat nyolahang tersebut diikuti oleh Jro Paduluan dan Jro Dangka ke cabang desa. Dimana ketika upacra nyolahang Ratu Keker diikuti dengan sapaan “baas barak baas putih, nyen negak ia sugih. Dari sapaan itu, dapat saya ketahui bahwa jro peduluan berseta pengayah sedang meminta anugrah kepada bhatara agar di Desa Kedisan tidak kekurangan sandang, pangan, dan papan. Karena dapat saya lihat bahwa dari atribut yang digunakan oleh Jro Kubayang adalah semuanya alami bahkan mudah didapatkan.
Suasana upacara ngusaba kadasa di Desa Kedisan, kintamani, Bangli
Besoknya digelar upacara ngelurang atau makiis. Dimana makiis yang bertujuan untuk melebar semua sarana yang digunakan dalam upacara ngusaba kadasa. Pada saat makiis ini Jeo Kubayan mucuk membawa satu pohon pisang yang bernama biu kayu yang diukir menyerupai Naga Basukih. Naga Basukih konon seekor naga yang mampu memberikan kemuliaan. Dari sanalah saya berasumsi bahwa upacara ngusaba kadasa yang digelar adalah sebagai ajang untuk kemuliaan desa beserta isinya.
Pada ngusaba pun digelar upacara matetanduran. Yang mana matatanduran ini adalah pica (anugerah) dari Ratu Wayan dan Ratu Ketut. Dengan mendapatkan pica ini diharapkan bahwa di Desa Kedisan tidak kekurangan sandang pangan dan papan. Selain itu, dengan pica ini diharapkan bahwa Desa Kedisan mendapatkan sebuah kemulian dari Ida Bhatara yang berstana di Pura Dalem Pingit. [T]
SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada teknik memasak rumit, tak ada permainan api sp...
DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari Gresik, Surabaya, dan Sidoarjo itu mendomi...
BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan berantai menyebar di grup WhatsApp,...
PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang bukan hanya untuk berkuliner ria, tapi juga mendeng...
LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui jaringan. Literasi digita...
Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid?
Begitu erat, cara kita mengaitkan ke...
Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para sporter sepak bola ya...
LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam kerangka teori komunikasi dan budaya, Af...
Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah setelah hujan itu menjadi saksi tumbuhnya semangat...
SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang di depan loket, tidak ada aroma popcorn yang ter...