“Full Day School”, Bentuk Generasi Emas atau Generasi Cemas?
GELI juga membaca berita tentang Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy yang menggagas sistem "full day school" untuk pendidikan dasar (SD dan SMP), baik negeri maupun...
Ada apa dengan upacara pernikahan Bali menendang serabut kelapa?
Kelapa dikenal sebagai Śrīphala श्रीफल dalam bahasa Sanskerta, berarti "buah Tuhan". Kelapa dalam ritual Hindu digunakan untuk melambangkan atau representasi simbolik Tuhan.
Jika kita buka kelapa, ada tiga titik di atas batok kelapa, ini disebutkan sebagai mewakili tiga Dewa dalam tiga serangkai Hindu, Tri Murti, dan secara khusus lambang Śiva.
Tiga titik pada kelapa dikatakan menyerupai tiga mata Śiva. Karena alasan inilah kelapa dianggap begitu sakral dan digunakan secara luas dalam ritual Hindu.
Serat atau serabut kelapa mewakili keinginan atau keinginan egois. Batok kelapa yang keras mewakili ego atau kebanggaan pada diri sendiri. Serabut luar kelapa kemudian ditendang atau dihancurkan selama ritual pernikahan Hindu Bali, menunjukkan pelucutan kembali keinginan dan menghancurkan ego seseorang untuk memungkinkan perasaan dan pikiran batin baiknya mengalir — diwakili oleh air kelapa dan isi putih kelapa di dalamnya terbuka dan airnya mengalir bebas.
Karena itu, Tanjung Sambuk (menendang sabut kepala) — menendang ego dan keinginan masing-masing diri, baik pengantin pria dan wanita, keduanya mesti menendang serabut ego untuk bisa dipersatukan dalam menempuh perjalanan rumah tangga. [T]
GELI juga membaca berita tentang Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy yang menggagas sistem "full day school" untuk pendidikan dasar (SD dan SMP), baik negeri maupun...
HAY, ges, Salam Sejahtera untuk ges ges semua di seantero jagad Indonesia tercinta. Semoga semua masih dalam lindungan Tuhan Yang Maha Esa dan selalu memegang teguh ideologi Panca...
RATUSAN anak mendadak berlarian dari sisi barat dan timur Taman Lumintang, Denpasar. Mereka menghambur begitu saja di tengah-tengah lapangan. Mereka menari, berlari, kejar-kejaran,...
Cerpen: Surya Gemilang PARA pengunjung Taman Palakosa dibuat menganga pada sore itu oleh kehadiran seorang pria bertubuh kekar yang wajahnya abnormal; ia bermata tiga—m...
RASANYA baru kemarin saya menjadi mahasiswa semester 6 dan kini sudah beranjak ke semester 7. Segala pahit getir hari-hari di semester 6 yang agak jahanam akhirnya bisa saya lalui...
“Dadi minum, sakewale abedik!” begitu pesan luhur dari Sembroli. Dan kalimat itu dikatakan berkali-kali. Setiap kali menyebut “pesan luhur”, ia selalu angkat gelas dan menenggak ar...
PAGI tadi aku duduk di sebuah kursi taman di belakang gedung kampusku yang baru. Sudah tiga hari aktivitas ini aku lakukan. Aku pun sebenarnya tidak betul-betul tahu untuk apa dan...
MEDIA Sosial tentunya memberikan banyak manfaat. Mulai dari sarana untuk mengekspresikan diri, bertukar informasi, mencari lebih banyak teman, bahkan untuk menjalankan sebuah bisni...
BELAJARLAH pencitraan dari kuliner khas Buleleng, terutama dari lawar getih. Karena pencitraan itu adalah pertunjukan tentang “rasa dan kesan” yang serupa antara apa yang dilihat m...
SINTHA Pramadewi terlihat serius melihat aksara demi aksara yang tertulis di atas selembar daun lontar. Dengan terbata-bata ia berusaha membaca aksara demi aksara, yang ukurannya t...