Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar
10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi pada tulisan. Satu kolom pada...
Ada apa dengan upacara pernikahan Bali menendang serabut kelapa?
Kelapa dikenal sebagai Śrīphala श्रीफल dalam bahasa Sanskerta, berarti "buah Tuhan". Kelapa dalam ritual Hindu digunakan untuk melambangkan atau representasi simbolik Tuhan.
Jika kita buka kelapa, ada tiga titik di atas batok kelapa, ini disebutkan sebagai mewakili tiga Dewa dalam tiga serangkai Hindu, Tri Murti, dan secara khusus lambang Śiva.
Tiga titik pada kelapa dikatakan menyerupai tiga mata Śiva. Karena alasan inilah kelapa dianggap begitu sakral dan digunakan secara luas dalam ritual Hindu.
Serat atau serabut kelapa mewakili keinginan atau keinginan egois. Batok kelapa yang keras mewakili ego atau kebanggaan pada diri sendiri. Serabut luar kelapa kemudian ditendang atau dihancurkan selama ritual pernikahan Hindu Bali, menunjukkan pelucutan kembali keinginan dan menghancurkan ego seseorang untuk memungkinkan perasaan dan pikiran batin baiknya mengalir — diwakili oleh air kelapa dan isi putih kelapa di dalamnya terbuka dan airnya mengalir bebas.
Karena itu, Tanjung Sambuk (menendang sabut kepala) — menendang ego dan keinginan masing-masing diri, baik pengantin pria dan wanita, keduanya mesti menendang serabut ego untuk bisa dipersatukan dalam menempuh perjalanan rumah tangga. [T]
10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi pada tulisan. Satu kolom pada...
SEKAA Dramatari Arja Sudhamala ini baru pertamakali pentas di ajang Pesta Kesenian Bali (PKB). Bahkan, sekaa kesenian tradisional Bali yang memadukan unsur drama, tari, dan nyanyi...
LAGU “A Salty Dog” oleh Procol Harum (1969), dengan lirik karya Keith Reid, adalah elegi tentang pelayaran terakhir, tentang manusia yang berangkat dengan keberanian, namun akhirn...
PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa kehadiran Presiden Prabowo Subianto sempat menimbu...
“Kalau mau menjadi penulis hebat, tulis yang unik dan autentik.” Kalimat itu meluncur dari mulut sastrawan Bali, Gde Aryantha Soethama, dalam acara ‘NGERUMPI’: Ngobrol Se...
MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa. Apalagi ketika ia mulai berbicara dengan logat...
DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku diajari bahwa Barong adalah pelindung, bukan pemangsa....
Yang Tua yang Tak Mau Purna Segara punya pantai sebagai batas gelombangSungai punya sempadan untuk batas aliranTetapi tidak bagi yang tua yang tak mau purnaMereka tak punya bat...
“Mari kawan bersama kita bekerja, bersihkan lingkungan….” ITU adalah penggalan tembang yang menjadi salah satu hal menarik dari pementasan kesenian janger tradisi d...