Kalimat itu diucapkan Frances McDormand dengan mimik wajahnya yang khas. Antara upaya untuk bertahan, sekaligus kesulitan untuk mengingkari sesuatu. Lalu terjadilah, sepanjang film, kita melihatnya bergerak dengan mobil van miliknya dari satu tempat ke tempat lain. Hidup seperti para pengembara. Nomaden.
Bila boleh memilih, diantara The Father, Judas and the Black Messiah, Mank, Minari, Nomadland, Promising Young Woman, Sound of Metal, dan The Trial of the Chicago 7, secara pribadi, saya menyukai Nomadland.
Bila tahun lalu ada Parasite, dengan humor gelapnya yang kental, tahun ini ada Nomadland. Gaya berceritanya yang asyik, dengan konflik yang sejatinya sederhana, tanpa pretensi untuk menjelas-jelaskan, dan mengalir dengan sendirinya mengingatkan pada cerpen-cerpen Hemingway. Ah, tak ada hubungannya memang dengan Hemingway. Hanya memudahkan untuk identifikasi saja dan kebetulan penulis menyukainya.
Dan tidak ada yang lebih menarik menampilkan sosok memendam luka selain Frances McDormand. Wajahnya yang sendu, matanya yang kadang memeram pedih, mimiknya yang tertahan, dengan kerutan khas di kedua pipi dekat bibir, senyumnya yang sesekali dipaksakan, cara memandangnya yang mencoba lapang dan luas tapi terbatas, tatapannya kadang menyala sekaligus redup, lengkap sudah.
Lalu luka macam apakah yang dia pendam?
Sama seperti cerita berbasis tulisan, barangkali ada dua pilihan yang bisa ditempuh untuk menampilkan problematika itu. Antara membiarkan diri penulis terlihat menggerakkan cerita secara sengaja, lengkap dengan motif konflik yang diperkenalkan sedari awal, ataukah seolah membiarkan cerita itu bergerak dengan sendirinya dan mengalir menampilkan konfliknya (meski pilihan kedua ini sejatinya juga terencana, dan itu sebabnya saya menyinggung Hemingway).
Pilihan gaya kedua seperti di atas sepertinya juga disukai senias Indonesia belakangan. Sebut saja Love for Sale, hingga Mudik, dimana tokoh muncul seperti tanpa hubungan di awal untuk kemudian memiliki keterkaitan satu sama lain. Tampilan di visual barangkali lebih mudah menerapkan pilihan ini ketimbang penulis cerita berbasis teks. Dan lagi-lagi itu kenapa penulis menyukai Hemingway, meski sesekali ada yang mengatakannya juga sebagai cerpenis suasana.
Kembali ke Nomadland, barangkali tanpa Frances McDormand, film ini tidak akan menjadi seperti apa yang diinginkannya. Sebagai Fern, janda berusia 60an, dialah yang menggerakkan keseluruhan cerita. Jadi teringat penampilannya terdahulu di Three Billboards Outside Ebbing Missouri, juga tentang perempuan yang memendam luka sekaligus dendam.
Tapi Nomadland sama sekali bukan cerita tentang dendam, atau orang miskin yang berpindah dari satu tempat ke tempat lain karena tidak memiliki rumah secara fisik. Pergerakannya, perpindahannya, juga pertemuan-pertemuannya, semacam meditasi yang sublim. Sebuah upaya pembebasan, yang dari awal kita diajak untuk tidak terburu-buru menebak-nebak, berprasangka, atau menghakimi.
https://www.youtube.com/watch?v=6sxCFZ8_d84
Dengan mobil van yang sudah dikreasikan sedemikian rupa, yang disebutnya sebagai “rumah”, dia meninggalkan tempat lamanya (setelah perusahaan tempatnya bekerja tutup), bertemu dengan sesama pengembara jalanan, sesekali berkumpul dengan pekerja lain dalam sebuah pabrik, lalu terlibat lagi dalam pertemuan-pertemuan lain, guyub dengan sesama “manusia jalanan”, ada kalanya terasing, sengaja menahan diri dari kebersamaan, dan tidak ada penjelasan entah dari tokoh lain atau dari dirinya sendiri tentang sebab musabab semua tindakannya.
Dia hanya bergerak dan bergerak. Tidak jelas yang dituju dan tidak pula dia sepenuhnya berlari atau mengingkari sesuatu. Lalu apa yang dia cari sesungguhnya? Adakah yang ingin dia temukan? Penebusan? Pencarian jawaban dari sebuah kehilangan?
Sempat bertanya-tanya juga dari awal, bagaimanakah luka dan sesuatu yang terpendam itu akan diungkap? Lewat siapakah? Dengan cara apakah? Akankah ada teknik lain agar cerita ini terus saja bergerak dan mengalir dengan sendirinya seolah tanpa campur tangan atau usaha untuk menjelaskannya dengan tanpa meminjam mulut tokoh lain misalnya? Akankah perkembangan tokohnya juga tak berakhir dengan dicapainya titik dimana dia bisa mengungkapkan sendiri sebab musabab pergerakannya?
Pada akhirnya, memang tetap diperlukan piranti dan teknik untuk mengungkapkannya. Entah atas nama pembabakan atau perkembangan tokoh. Sedikit longgar di akhir memang, tapi biarlah, film ini tetap saja menarik. [T]
SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada teknik memasak rumit, tak ada permainan api sp...
DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari Gresik, Surabaya, dan Sidoarjo itu mendomi...
BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan berantai menyebar di grup WhatsApp,...
PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang bukan hanya untuk berkuliner ria, tapi juga mendeng...
LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui jaringan. Literasi digita...
Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid?
Begitu erat, cara kita mengaitkan ke...
Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para sporter sepak bola ya...
LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam kerangka teori komunikasi dan budaya, Af...
Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah setelah hujan itu menjadi saksi tumbuhnya semangat...
SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang di depan loket, tidak ada aroma popcorn yang ter...