Terbang di Atas Sepi
“Kalau gak sabar, silakan terbang di atas sepi.” Tulisan di bak truk itu mungkin lahir dari kemacetan. Dari jalan yang penuh klakson, pengendara yang saling serobot, dan manusi...
Magbangal adalah pemburu yang lihai, dan dia sering pergi ke bukit tempat dia membunuh babi hutan untuk dimakan. Suatu malam ketika mendekati musim tanam, dia duduk di rumahnya sambil berpikir, dan setelah sekian lama, dia memanggil istrinya. Istrinya datang, lalu Magbangal berkata:
"Besok aku akan pergi ke bukit dan membersihkan pekarangan untuk kita tanami, tapi aku ingin kau tetap di sini."
“Oh, biarkan aku pergi bersamamu,” pinta istrinya, “karena kamu tidak punya teman lain.”
“Tidak,” kata Magbangal, “Aku ingin pergi sendiri, dan kamu harus tinggal di rumah.”
Istrinya setuju, dan keesokan harinya dia bangun pagi untuk menyiapkan bekal makanan untuknya. Ketika nasi sudah matang dan lauk pun sudah siap, dia memanggilnya untuk datang dan makan, tetapi dia berkata:
“Tidak, aku tidak ingin makan sekarang, tapi aku akan kembali sore ini dan kamu harus menyiapkannya untukku.”
Kemudian Magbangal mengumpulkan sepuluh kapak dan bolo[1]nya, enam batu asah, dan tabung bambu untuk air, dan segera ia berangkat ke bukit. Sesampai di tanahnya dia menebang beberapa pohon kecil untuk membuat bangku. Setelah selesai, dia duduk di atasnya dan berkata kepada bolonya, "Kamu bolo harus mengasah dirimu di atas batu itu." Dan bolo itu mendekat pada batu dan mengasah diri. Kemudian kepada kapak dia berkata, “Kamu kapak harus diasah,” dan mereka juga mengasah dirinya sendiri.
Ketika semua sudah siap, dia berkata: “Sekarang kamu bolo potong semua semak kecil di bawah pohon, dan kamu kapak harus menebang pohon besar.” Lalu bolo dan kapak mulai bekerja, dan dari tempatnya di bangku, Magbangal bisa melihat pekarangannya sedang dibersihkan.
Istri Magbangal sedang menganyam di rumah, tetapi ketika dia mendengar pohon-pohon terus tumbang, dia berhenti sejenak untuk mendengarkan lalu berpikir, “Suamiku pasti menemukan banyak orang untuk membantunya membersihkan pekarangan kami. Ketika dia pergi dari sini, dia sendirian, tetapi yang pasti dia tidak bisa menebang pohon begitu cepat. Aku akan melihat siapa yang membantunya.”
Dia meninggalkan rumah dan berjalan cepat menuju tanahnya, tetapi ketika dia semakin dekat dia melangkah lebih lambat, dan akhirnya berhenti di belakang pohon. Dari tempat persembunyiannya, dia bisa melihat suaminya tertidur di bangku, dan dia juga bisa melihat bolo dan kapak sedang menebang pohon tanpa tangan yang membimbing mereka.
“Oh,” katanya, “Magbangal sangat kuat. Belum pernah aku melihat bolo dan kapak bekerja tanpa tangan, dan dia tidak pernah memberitahuku tentang kekuatannya."
Tiba-tiba dia melihat suaminya melompat, dan, meraih sebuah bolo, dia memotong salah satu lengannya sendiri. Dia bangun dan duduk dan berkata:
Seseorang pasti melihatku, karena salah satu lenganku terpotong.
Ketika dia melihat istrinya, dia tahu bahwa dialah penyebab lengannya hilang, dan ketika mereka pulang bersama, dia berseru:
“Sekarang aku akan pergi. Lebih baik aku pergi ke langit di mana aku bisa memberi tanda pada orang-orang kapan waktunya untuk menanam; dan kamu harus pergi ke air dan menjadi ikan."
Segera setelah itu dia pergi ke langit dan menjadi konstelasi Magbangal; dan sejak saat itu, ketika orang-orang melihat bintang-bintang ini muncul di langit, mereka tahu bahwa sudah waktunya untuk menanam padi.
[1] Magbangal: Senjata tajam menyerupai golok dalam bahasa Filipina
“Kalau gak sabar, silakan terbang di atas sepi.” Tulisan di bak truk itu mungkin lahir dari kemacetan. Dari jalan yang penuh klakson, pengendara yang saling serobot, dan manusi...
SETELAH mencuri perhatian sebagai unit rock tunanetra asal Bali lewat single “Keidela”, “I’m a Fire”, dan “3”, kini Filla memasuki babak baru dalam perjalanan musiknya. Grup yang...
DATA BPS Februari 2026 membuat kita harus berhenti pura-pura tidak hirau: tingkat pengangguran terbuka lulusan SMK 8.62%..! Tertinggi dari semua jenjang Pendidikan. Kalahkan...
Jejak Kehidupan Tiga Ilmuwan Penjaga Sistem Imun Dunia ilmu pengetahuan sering melahirkan tokoh-tokoh besar yang bekerja dalam kesunyian laboratorium, jauh dari sorotan publik....
DUNIA saat ini sedang dilanda berbagai bencana alam yang mengerikan dan akan menghadapi suatu bencana yang amat sangat mengerikan bila perkembangan teknologi tidak terkendali dan...
HAL yang paling menyiksa bagi para perokok adalah ketika bangun tengah malam dan mendapati bungkus rokok kosong di atas meja. Hampa begitu terasa. Jam menunjukkan lewat satu dini...
MAHASISWA Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI Bali) Kelompok VI Tahun 2026 sukses menyelenggarakan serangkaian program pengabdian masyarakat...
— Mengenang Kembali Pohon Pesisir yang Dimuliakan Danghyang Nirartha Oleh: Sugi Lanus Di sepanjang garis pantai pulau Serangan dan pantai-pantai di Bali dimuliakan dan dilin...
DALAM rezim hukum Perseroan Terbatas sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, prinsip tanggung jawab terbatas merupakan fondasi utama...
MEMILIKI seorang anak yang sehat, cerdas, dan saleh tentu membahagiakan bagi Krisna Malika dan Riana Dewanti. Anak pertama mereka, Arkanda Rayana berusia lima tahun. Masih duduk d...