Tuah Wanita Bali - Kebahagiaan saat Memberi
LAKI-LAKI menjadikan wanita sengsara, anak membuatnya bahagia. Sungguh? Betapa menyesakkan kisah ini, tapi ia bisa menjadi ungkapan dari zaman ke zaman: anak lebih dibutuhkan oleh...
____
Suatu hari kepiting darat mengadakan rapat dan salah satunya berkata:
“Apa yang harus kita lakukan dengan ombaknya? Mereka ribut sepanjang waktu sehingga mustahil bagi kita untuk tidur."
“Baiklah,” jawab salah satu kepiting tertua, “Saya pikir kita harus berperang melawan mereka.”
Yang lain setuju dengan hal ini, dan diputuskan bahwa keesokan harinya semua kepiting jantan harus bersiap-siap melawan ombak. Mereka mulai ke laut, seperti yang disepakati, lalu mereka bertemu dengan seekor udang.
“Kalian mau pergi ke mana, teman-teman?” tanya udang.
“Kami akan melawan ombak,” jawab kepiting, “Karena mereka terlalu ribut di malam hari sehingga kami tidak bisa tidur.”
“Aku pikir kalian tidak akan berhasil,” kata udang, “Ombak itu sangat kuat dan kaki kalian sangat lemah bahkan kalian membungkuk hampir ke tanah ketika berjalan.” Lalu dia tertawa keras.
Hal ini membuat kepiting sangat marah, dan mereka mencekik si udang hingga dia berjanji akan membantu mereka memenangkan pertempuran.
Kemudian mereka semua pergi ke pantai. Tetapi kepiting memperhatikan bahwa mata udang itu berbeda dari mata mereka, jadi mereka mengira matanya salah arah dan mereka menertawakannya dan berkata:
“Hae udang, wajahmu salah arah. Senjata apa yang kamu miliki untuk melawan ombak?"
“Senjata saya adalah tombak di kepala saya,” jawab si udang, dan saat itu dia melihat gelombang besar datang dan langsung melarikan diri. Namun, kepiting tidak melihatnya, karena mereka semua melihat ke arah pantai, sehingga mereka tertutup air dan tenggelam.
Para istri kepiting menjadi khawatir karena suami mereka tidak kembali, dan mereka pergi ke pantai untuk melihat apakah mereka dapat membantu dalam pertempuran. Namun, tidak lama setelah mereka mencapai air, gelombang menyerbu dan membunuh mereka.
Beberapa waktu setelah itu ribuan kepiting kecil muncul di dekat pantai, dan udang sering mengunjungi mereka dan memberitahu mereka tentang nasib menyedihkan yang dialami orang tua mereka. Bahkan hingga saat ini kepiting kecil ini dapat dilihat di pantai, terus berlari bolak-balik. Mereka tampaknya bergegas turun untuk melawan ombak, dan kemudian, karena keberanian mereka yang tanggung, mereka berlari kembali ke tanah tempat tinggal nenek moyang mereka.
Mereka tidak hidup di tanah kering, seperti nenek moyang mereka, atau di laut tempat kepiting lainnya berada, tapi di pantai tempat ombak menyapu mereka saat air sedang pasang dan mencoba menghancurkan mereka hingga berkeping-keping. [T]
____
LAKI-LAKI menjadikan wanita sengsara, anak membuatnya bahagia. Sungguh? Betapa menyesakkan kisah ini, tapi ia bisa menjadi ungkapan dari zaman ke zaman: anak lebih dibutuhkan oleh...
BANYAK dari kita geli melihat seorang biker begitu sayang pada sepeda motornya. Setiap pagi dilap, dielus, ditepuk-tepuk. Malam sebelum tidur dilihat lagi, dilap, dielus lagi. Sea...
PAGI-PAGI di awal Juli aku ditelepon dramawan Putu Satria Kusuma. “Ole, Yudane sedang di Singaraja, tolong temani dia. Aku lagi di Denpasar,” kata Putu tentu dengan gaya bicara yan...
KITA bangsa yang pendek ingatan. Apa boleh buat. Sampai tingkat tertentu, dalam berkomunikasi pun tak ketinggalan kita memilih cara-cara ringkas. Bahkan jika itu harus dengan menyi...
KALAU sedang rikuh, kalau sedang tak kuat menahan pusing karena televisi terus saja menayangkan cerita-cerita seram, maka marilah kita mencoba mengingat satu sosok: Ibu. Kita akan...
Cerpen: I Putu Supartika TIDAK ada yang tahu sejak kapan pura kecil di tengah sawah itu berdiri. Yang pasti orang-orang di sekitar pura tahu pura itu sudah ada sejak kelahiran mere...
HIRUK-PIKUK perhelatan akbar sepakbola yang begitu menyedot antusiasme dunia dalam sebulan terakhir usai sudah. Piala Eropa (Euro) dan Copa America Centenario 2016 berakhir dengan...
PERNAH jadi trend sebuah berita bahwa ada sekolah di Kabupaten Gianyar yang hanya punya satu orang siswa kelas VI. Banyak kalangan berpendapat, dan tidak sedikit menyoroti bahwa in...
PESTA Kesenian Bali (PKB) ke-38 tahun 2016 berakhir. Banyak pentas seni lewat begitu saja, tapi banyak juga meninggalkan bekas dan kesan di hati sejumlah orang. Para seniman, terut...
WANITA itu terlihat pasrah. Matanya terpejam. Seolah bersiap melepaskan ruh dari raganya yang telah mati. Bagian bawah tubuhnya mengelupas, menjelma serpihan-serpihan tembaga. Itul...