Rumor Demo 4 November - Provokasi Media dan Jurnalisme Damai
KEMARIN banyak yang bertanya, “Benar akan ada demonstrasi besar-besaran 4 November nanti?” “Demo penistaan agama di Jakarta?” “Isu yang diseret-seret ke ranah politik.” Bukan orang...
Sewaktu SMA, ada candaan yang sempat populer di kalangan pelajar di Denpasar dalam merespon CK (circle K) sebagai tempat nongkrong anak muda 24 jam nonstop. Apabila semua tempat telah tutup, sementara kita masih ingin nongkrong, maka CK adalah jawaban paling tepat mengatasi masalah. Sebab CK selalu akan buka kapanpun, bahkan jika dunia kiamat. Yang mampu membuatnya tutup cuma satu: Nyepi! Terlebih, apabila CK berada pada jalur lintas ogoh-ogoh pada hari pengrupukan (sehari sebelum Nyepi), maka bisa dipastikan CK akan menutup lapaknya lebih awal dibarengi CK-CK lainnya.
Ketahanan CK yang terus menerus buka nonstop tentu patut diacungi jempol. Namun Nyepi yang mampu membuat CK tutup tak kalah jempolnya. Saya sengaja menyandingkan Nyepi dengan CK—bukan Nyepi dengan mall-mall, bandara, pelabuhan dan ruang publik lainnya—lantaran ada relasi yang saling tarik menarik antarkeduanya. Jika CK adalah ruang, maka Nyepi adalah waktu. Sebagai sebuah ruang, CK—serta minimarket sejenisnya—senantiasa hadir dalam keseharian. Kehadiran CK mampu menggeser posisi balai banjar sebagai tempat berkumpul anak muda Bali di masa lalu. Sementara Nyepi adalah waktu mengingatkan anak muda ini pulang menuju rumah. Berkumpul bersama keluarga untuk merayakan Catur Brata Penyepian.
CK membuka ruang pertemuan, dimana orang-orang bisa berkenalan satu sama lain hanya karena duduk di kursi yang sama; meminjam korek api; berpapasan di toilet; mengantri ketika kasir kebingungan mencari uang kecil untuk kembalian atau ketika sepasang kawan berjanji bertemu di depan CK, mengajak kawannya yang lain, lalu kawannya yang lain mengajak kawannya yang lain lagi, begitu seterusnya. Sedang Nyepi, justru berusaha menyekap akses ruang pertemuan ini. Menyediakan waktu bagi setiap orang untuk berkumpul intim dengan keluarga, menyediakan waktu renung buat bercakap dengan diri sendiri.
Dalam ‘pertarungan dua kontras ideologis’ CK dan Nyepi, yang tak kalah menarik adalah ketika kita mendudukkan posisi pengrupukan khususnya tradisi Ogoh-ogoh diantara keduanya. Jika CK adalah representasi dari ruang; Nyepi adalah representasi dari waktu; Jika Jika CK diibaratkan sebagai yang material, Nyepi boleh dikata sebagai yang eksistensial sedang Ogoh-ogoh adalah representasi ruang dan waktu itu sendiri; adalah representasi yang material sekaligus yang eksistensial.
Ogoh-ogoh menjadi representasi ruang dan waktu manakala mengusung rupa buta kala sebagai desain utama ogoh-ogoh. Sebagaimana yang kita ketahui, kala itu sendiri merupakan cerminan dari waktu. Kehadiran buta kala yang kasat mata dimaterialkan menjadi boneka raksasa ogoh-ogoh. Waktu yang dimaterialkan ini kemudian diusung dan diarak dalam setiap ruas ruang kehidupan masyarakat mulai dari balai banjar, jalanan, perempatan, hingga kuburan. Klimaksnya, di akhir arak-arakan, ogoh-ogoh dibakar jadi abu. Ogoh-ogoh yang semula dimaterialkan dibuat jadi tak ada.
Ketika Nyepi dan Ogoh-ogoh dibaca sebagai sebuah kerja performatif, dimana masyarakat Bali ditempatkan sebagai penonton, sedang dunia yang sepi pada hari Nyepi; dunia yang riuh dan semarak saat Ogoh-ogoh diarak adalah pertunjukan itu sendiri, kita dapat merasakan perbedaan dramaturgi Nyepi dengan Ogoh-ogoh dalam menghadapi anasir luar yang hadir di Bali, yang dalam konteks ini disimbolkan sebagai CK.
Tak ada wilayah di Bali ini tanpa kehadiran CK atau minimarket sebangsanya. Sehari-hari, masyarakat senantiasa dihadapkan dengan sederet plang-plang berwarna merah-putih, kuning-merah-biru, hijau-kuning, dan beragam warna mencolok minimarket di sepanjang jalan tujuan. Nyepi jadi waktu buat kita untuk menghindari gempuran visual ini dengan cara menyepi, sedang Ogoh-ogoh seolah ingin menantang dengan membuat keriuhan.
Saat Nyepi, CK tutup lantaran adanya larangan adat, ditambah peraturan pemerintah yang seolah meneguhkan agama dan adat sebagai hierarki tertinggi yang mesti dihormati oleh segala macam kepentingan ekonomi, sosial dan politik. Sementara saat ogoh-ogoh diarak, tutupnya CK lebih banyak disebabkan karena kekhawatiran para pemilik dan pegawai CK yang akan menghadapi mobilitas masa pengarak dan penonton ogoh-ogoh.
Jika pawai ogoh-ogoh tercipta serupa festival-festival pariwisata pemerintah yang digelar biasanya, kehadiran masa pengarak dan penonton ogoh-ogoh tentu tentu jadi bernilai karena memberi keuntungan bagi CK dan minimarket sejenisnya. Sebagaimana masa festival umumnya, mereka mesti tunduk pada sirkulasi acara; gerak-geriknya terpantau melalui kamera CCTV, melalui pengawasan ketat tim keamanan; bahkan kapan dan dimana mesti parkir, berjalan, buang air kecil, berbelanja, hingga pemilihan spot pertunjukan dikontrol sedemikian rupa oleh panitia penyelenggara. Sedang pawai ogoh-ogoh bekerja dengan desain yang jauh berbeda.
Pawai ogoh-ogoh lebih banyak bergerak dalam serangkaian improvisasi pengarak dan penonton. Mulai dari area depan bank, mal, pertokoan yang sebelumnya tertutup rantai, tiba-tiba saja jebol menjadi tempat bebas parkir; jalan raya berubah fungsi jadi jalan masa pengarak dan penonton; area hijau tengah jalan jadi tempat istirahat; bahkan kerangka baliho jadi spot duduk paling asyik menyaksikan raksasa ogoh-ogoh digoyang-goyangkan, diputar setiap perempatan jalan; mendaki-daki lampu tinggi jalanan.
Segala peristiwa ini, termediasi dalam serangkaian improvisasi masa. Tak terbelenggu dengan sirkulasi acara, pantauan CCTV, pengawasan tim keamanan, atau segala macam aturan pihak penyelenggara. Maka masa-masa yang bergerak dalam kerja improvisasi ini, takkan bisa dikendalikan sebagaimana hari-hari biasanya. Segala kemungkinan bisa saja terjadi. Bagi CK, ini tentu bukan lagi keuntungan bagi mereka, melainkan musibah yang sedapat mungkin mesti dihindari.
Ogoh-ogoh dan Nyepi, meski keduanya sama-sama merupakan serangkaian acara menyambut tahun baru Caka, namun tampak mempunyai nalar kerja yang jauh berbeda, khususnya jika dikaitkan dengan eksistensi CK. Ogoh-ogoh menghadapkan kita pada dunia reflek yang penuh respon, bergerak berdasar intuisi dan serangkaian improvisasi. Saat CK tengah berusaha memenuhi setiap lahan publik masyarakat yang kosong, menggeser posisi balai banjar sebagai tempat alternatif berkumpul anak muda, ogoh-ogoh jadi sebab untuk mengaktivasi kembali fungsi balai banjar, menjadi simbol mobilitas bagaimana semestinya masa merespon kenyataan.
Sedang Nyepi adalah dunia refleksi, yang mencurigai kenyataan sebagai ilusi. Saat sebagian sudut jalanan dipenuhi cahaya lampu plang CK, kita diajak diam sejenak (amati lelungan), menyadari bahwa terang paling jujur adalah gelap (amati geni). Saat kebahagiaan diinterpretasi dengan nilai ekonomi, maka diam (amati karya) jadi alasan untuk memikirkan apa sesungguhnya kebahagiaan (amati lelanguan) sejati.
Ogoh-ogoh dan Nyepi, meski sama-sama merupakan serangkaian acara menyambut tahun baru Caka, namun keduanya tampak diinterpretasi dengan cara berbeda. Dalam surat edaran lembaga agama dan adat serta peraturan pemerintah, dikatakan pengarakan ogoh-ogoh 2021 ditiadakan. Dalam konteks pandemi Covid-19 yang melanda, tentu keputusan ini memang tidak dapat dihindarkan. Namun jika alasannya lantaran pengarakan ogoh-ogoh bukan merupakan rangkaian wajib Hari Suci Nyepi, alangkah ciutnya proyeksi kita memandang hari suci.
Tak bisakah kita menempatkan Ogoh-ogoh dan Nyepi sebagai perayaan yang sama sucinya? Sama-sama merupakan serangkaian acara menyambut tahun baru Caka, sama-sama memberi nilai masyarakat dalam menatap kenyataan Bali hari ini. [T]
Denpasar, 2021
KEMARIN banyak yang bertanya, “Benar akan ada demonstrasi besar-besaran 4 November nanti?” “Demo penistaan agama di Jakarta?” “Isu yang diseret-seret ke ranah politik.” Bukan orang...
Hai Gess! Kenken Kabare, Gess? Nu inget nyoblos, Gess? Calon Tunggal di Buleleng jani, Gess. Memusuh jak KOTAK KOSONG, Gess. Musuh ngenah aluh ngelawan! Musuh sing ngenah, kaden al...
Sekilas MEA ASEAN sebagai pasar tunggal kemudian disebut Masyarakat Ekonomi Asean (MEA), seperti dimuat pada laman Kementerian Luar Negeri RI (www.kemlu.go.id), Selasa 17 Maret 20...
BELAJAR dari figur dan tokoh perempuan, itulah barangkali pesan utama dari buku kumpulan cerpen berbahasa Bali terbaru I Made Suarsa, “Luh-Luh”. Buku ini memuat 19 cerpen yang kese...
Dear para jomblo di muka Bumi ini, Aku adalah kawanmu yang masih setia. Menjomblo bersama kalian adalah sebuah anugerah tak terbatas. Terima kasih karena kalian juga masih setia...
TIDAK banyak yang mengira bahwa kini masyarakat Eropa ternyata malas dalam mempelajari bahasa asing. Meski perkembangan pendidikan di Eropa sangatlah pesat, siapa sangka bahwa mere...
Prodi Pendidikan Seni Rupa, FBS, Undiksha, Singaraja, menggelar pameran bertajuk “Qilin” (Membaca Sosial Budaya Warga Pecinan Kota Singaraja) di Neka Art Museum, Jalan Sanggingan C...
SARJANA. Bak mobil yang telah turun kastanya dari kebutuhan tersier menjadi kebutuhan primer. Sarjanapun, maknanya semakin memudar. Terlalu banyak sarjana modern yang merasa sal...
ANDA pernah jatuh cinta? Baiklah, yang sudah pernah jatuh cinta sebelumnya pasti akan mengerti tentang pembahasan kali ini. Jika belum pernah, sayang sekali, anda hanya akan bisa...
Cerpen: Komang AstiariAKU rindu kampung halaman. Aku rindu nenek. Kepergiannya masih menyakitkan bagiku, batinku belum mampu menerima dia sudah pergi, selamanya. Apakah Tuhan mengg...