Pesta Kesenian Bali: Keroncong Tidak Mati
KETIKA tubuh meragang nyawa, dalam perukan persada. Tinggal nafas yang masih tersisa. Kau pekikkan merdeka. Bait lagu Puji Bagi Pahlawan ciptaan Basuki itu mengalun dalam sunyi. La...
Cinta, patah hati, dan kematian, tiga hal yang melekat dalam diri manusia. Sedangkan manusia merupakan pribadi yang sering mempersoalkan eksistensinya seiring dengan perkembangan zaman. Dalam hal ini, manusia mulai kehilangan pandangan tentang hubungan dengan sesama manusia dan nilai pribadi individu yang cenderung menimpakan kesalah kepada diri sendiri tanpa menghiraukan kesanggupan dan keberadaan potensi diri.
Oleh karena itu, banyak ditemukan manusia yang merasa tak berdaya, tidak mampu atau bahkan tidak bertahan dalam menghadapi suatu problematika kehidupan yang ada. Seni sastra, sebagai salah satu pandangan kehidupan manusia bukan hanya sekadar karya seni estetika yang mampu menyajikan unsur kehidupan secara murni, tulus dan menarik pembaca, tetapi juga merupakan faktor lain yang dapat menambah wawasan dan pengetahuan pembaca, terlebih bagaimana cara seorang mampu keluar dari berbagai persoalan⸺seperti cinta, patah hati, atau kematian⸺yang terlukiskan dalam karya sastra. Melalui karya sastra, pengarang mempunyai misi untuk membentuk pola kepribadian dari masing-masing karakter tokoh dan menjalankan alur penceritaan yang tidak monoton pada satu peristiwa saja.
Beberapa hari yang lalu saya membaca dua antologi cerpen terbitan Mahima. Pertama antologi cerpen Wayan Agus Wiratama (selanjutnya ditulis Bang Agus) yang berjudul Kado Kematian untuk Pacarmu, dan antologi cerpen I Putu Agus Phebi Rosadi (selanjutnya ditulis Bang Phebi) yang berjudul Kisah Cinta dan Dongeng yang Dimakamkan.
Dalam kedua antologi cerpen tersebut, agaknya saya menemukan tiga hal: cinta, patah hati, dan kematian.
Antologi cerpen Kado Kematian untuk Pacarmu dan Kisah Cinta dan Dongeng yang Dimakamkan banyak mengungkapkan seputar perasaan, problematika dan pengalaman kehidupan yang selalu diwarnai oleh penderitaan lahir dan batin. Dua belas cerita dalam KKUP atau sebelas cerita dalam KC2DYD ini berkisah tentang mereka yang hidup dalam suatu dunia, yang barangkali memang tidak dibuat untuk mereka, sehingga tampak aroma kekalutan batin dan gangguan kejiwaan (psikis), seperti mungkin yang dialami setiap orang yang terlanjut lahir meski tidak meminta.
Dalam antologi cerpennya Bang Agus, saya menemukan satu hal gila. Tentu dalam cerpen yang kemudian dipakai untuk judul bukunya, Kado Kematian untuk Pacarmu. Tokoh dalam cerita ini barangkali psikisnya memang sudah terganggu, tidak waras. Tokoh “Aku” dalam cerpen tega membunuh pacar mantan kekasihnya⸺lelaki yang telah merebut pacarnya, katanya⸺dan kemudian membunuh mantannya hanya gara-gara dia cemburu. “… Sehari sebelum pisau itu mendarat tepat di hatinya, kulihat kau di pelabuhan itu makan sate dengan begitu nikmat. Sangat nikmat. Ketika itu, api di dalam diriku terasa menyala. Tubuhku terasa panas dan apabila kau melihat, mataku meraj seperti api yang membakar rumahmu ketika dilenyapkan para pembenci ayahmu.” (hal. 22).
Tetapi siapa yang tahan dengan perasaan patah hati. Seorang Napoleon Bonaparte (1769-1821)⸺negarawan dan kaisar Perancis⸺saja pernah mengatakan: “Aku telah berhasil memenangi banyak peperangan besar. Kemenangan-kemenangan spektakuler yang berhasil kuraih tercatat dalam tinta emas sejarah. Tetapi, aku kalah dan terpuruk di hadapan satu wanita”. Atau Julius Caesar dan Marcus Antonius rela berperang hanya karena sosok Cleopatra. Ada yang bilang, “… bahwa dalam perang dan cinta, semua halal dilakukan”.
Selain cerpen Kado Kematian untuk Pacarmu⸺yang menyeramkan itu⸺, Bang Agus mencoba menghadirkan realitas lain yang dekat dengan kehidupan saya: pembelian lahan oleh pabrik. Ya, dalam cerpen berjudul Karba dan Perahu Biru yang Meninggalkan Istri, seorang Karba yang dengan tegas menolak pabrik. “Tidak! Tidak boleh ada pabrik di kampung kami! Kalau ada yang berani mendirikan pabrik, aku akan menyiapkan banyak orang! Kau pahami kata-kata itu!” (hal.75). Dan dalam cerpen Pada Bagian itu, Yo Terbunuh, Bang Agus melihat realitas sawah yang berubah menjadi bermacan-macam bangunan: perumahan, restoran, hotel, villa, dan perkantoran. Ah, sebenarnya saya ingin mengurai fenomena ini, cuma saya terlalu sentimentil jadi manusia. Tuban, kampung halaman saya itu, lekat sekali dengan hal ini.
Tema cerpen pemuda kelahiran Pengembungan, Gianyar, ini, dekat sekali dengan kita, manusia. Ironi-ironi tentang cinta, patah hati, dan kematian yang tak wajar, seperti bumbu pelengkap dalam kehidupan manusia. Lagi pula siapa manusia yang tak pernah merasakan cinta, patah hati, dan kematian nantinya? Saya pikir tak ada. Ketiga hal tersebut adalah sambal dalam menu pecel lele, atau acar dalam sebungkus martabak telur. Selalu ada, walau kadang tak dinikmati, atau bahkan dicampakkan begitu saja.
Sedangkan dalam antologinya Bang Phebi, walaupun mengusung tema yang hampir sama dengan Bang Agus, akan tetapi perbedaan sudut pandang dan cara penulisan tentunya sangat berbeda. Dalam cerpen Bang Phebi, ada sedikit unsur magis di dalamnya. Seperti dalam cerpen berjudul Cemani, yang bercerita tentang Pustakawan Uban dan seekor kucing bernama Cemani⸺kucing peninggalan istrinya⸺yang dituduh telah menjadi penyebab kematian istrinya. Dalam cerpen berjudul Bolup, yang bercerita tentang sekelompok suku yang memiliki tradisi “primitif”⸺dan menakutkan. Bagaimana mungkin seorang pembunuh harus dibunuh dan kemudian tubuhnya akan dimakan beramai-ramai. Sungguh mengerikan.
Selain magis, Bang Phebi juga menghadirkan kisah-kisah yang jauh dari Bali. Serperti cerpen Bolup, Orkes Stasiun, Perempuan di Distrik Reykjavik, Perempuan dan Senja Kematian. Saya baru menemukan Bali ketika membaca cerpen Kisah Cinta dan Dongeng yang Dimakamkan⸺cerpen yang mengisahkan Masula-Masuli yang konon adalah bayi kembar buncing anak raja Bali Kuno. Dalam cerpen ini Bang Phebi menyampaikan satu kepercayaan Bali Kuno⸺kepercayaan tentang bayi kembar buncing yang lahir dari golongan biasa akan dikenakan sanksi karena membawa nasib buruk. Dan dalam cerpen Wayang Warisan Jero Dalang. Tetapi hampir semua cerpen yang termuat dalam antologi Kisah Cinta dan Dongeng yang Dimakamkan ini mistis-magisnya. Saat membacanya saya seperti berada di dunia lain atau seperti mendengarkan siaran “JIMAT: Sajian Malam Jumat” di radio Istana 95 FM. Saya membayangkan setiap kejadian mistis dalam cerpen-cerpen Bang Phebi.
Terlepas dari itu semua, kedua antologi ini membahas tiga hal: cinta, patah hati, dan kematian⸺ tiga hal yang melekat dalam diri manusia. Saya selesai membaca kedua buku antologi ini, setelah kekasih saya memutuskan untuk berhenti mencintai saya. Saya patah hati, dan riskan sebenarnya untuk membaca buku yang tak jauh dari cinta, patah hati, dan kematian. Tetapi tenang, saya tak akan melakukan apa-apa setelah membaca kedua antologi ini kecuali menulis ulasan yang sedang Anda baca saat ini.
KETIKA tubuh meragang nyawa, dalam perukan persada. Tinggal nafas yang masih tersisa. Kau pekikkan merdeka. Bait lagu Puji Bagi Pahlawan ciptaan Basuki itu mengalun dalam sunyi. La...
Apakah yang paling membanggakan dari makhluk yang bernama manusia? “Kreativitas.” Itulah jawabnya. Manusia menjadi “lebih” ketimbang binatang karena memiliki ruang yang sangat luas...
Sebagai orang yang tidak berkompeten dalam bidang bahasa Bali, mungkin saya akan tulah idup karena apa yang akan saya paparkan barangkali banyak bohongnya. Saya bukan orang yang la...
Kaohsiung adalah kota terbesar kedua di Taiwan setelah Taipe. Di kota itulah saya berada, awal Juni 2016. Seperti sebuah mimpi, dari Singaraja – kota tempat tinggal saya - segalany...
FENOMENA The Great Pacific Garbage Patch menjadi bukti betapa kita sebagai manusia telah membunuh bumi dengan plastik. Miliaran ton sampah plastik terapung di laut, membuat jutaan...
KEMISKINAN, di Bali, bisa berarti sebuah upacara. Warga Desa Trunyan di Desa Kintamani, Kabupaten Bangli, sebelum berperilaku menjadi manusia miskin melakukan ritus kecil: membakar...
JIKA hobi facebook-an, singgahlah sesekali ke halaman Punk Kwala Ngibur. Bisa kita nikmati komik berbahasa Bali dari tingkat paling kepara sampai sor se-singgih-singgihnya. Tulisan...
MUNGKIN saya sudah terlambat menguraikan hal ini. Karena saat ini sudah makin banyak masyarakat yang menolak reklamasi Teluk Benoa. Namun dalam konteks ini, saya meyakini bahwa leb...
Bahasa menunjukkan bangsa. Itu peribahasa yang akrab saya dengar di Sekolah Dasar dulu yang bertahun-tahun kemudian saya amini kebenarannya. Kultur sebuah bangsa, seturut makna per...
Judul Buku : Badriyah Pengarang : Ayu Weda Penerbit : Gambang Buku Budaya Tahun Terbit : Maret 2016 Jumlah Halaman : xiv + 207 halaman ISBN : 978-602-6776-15-0 SELURUH cerita dala...