Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar
10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi pada tulisan. Satu kolom pada...
Timezone merupakan sebuah pameran kolektif berseries yang hadir di berbagai lokasi yang sebelumnya sudah terselenggarakan di Amora Ubud di kedua kali ini Timezone dengan subtema #puzzle hadir diselenggarakan oleh Luwak Ubud Villa - sebuah villa yang ada di Ubud, Bali.
Beradaptasi dengan masa pandemi dan memberikan celah kreatif bagi para seniman untuk merespon ruang-ruang yang tidak wajar dan dapat dijadikan sebuah kegiatan seni, Yudhi Putrawan seorang organizer event sekaligus artis yang ikut berpartisipasi dalam pameran ini mengundang 9 seniman dan komunitas seni untuk membangkitkan semangat berkarya perupa dan kegiatan salaing berapresiasi kesenian di Bali.
Adapun perupa yang tergabung tidak hanya dari satu linier studi seni namun dari berbagai disiplin ilmu seperti Yudhi Putrawan dan Manntra bekerja di bidang pariwisata tidak menghambat hobinya ikut berkesenian dan bermain dengan medium kolase. Gus Arta, Lodra Suantara, Penawati perupa yang menghadirkan pengalaman sehari-hari dalam karyanya dari berbagai sudut pandang, seperti Gus Arta yang prihatin terhadap perburuan anjing di desanya, Lodra Suantara yang tiap harinya disibukkan dengan kegiatan adat selalu melihat proses pembuatan canang, lamak, jaje goreng, kiping, hingga sampian ceki (kartu ceki) tersusun menjadi pattern penghias dalam lukisannya.
Penawati memiliki peran ganda dalam pameran ini ia hadir sebagai perupa dan penulis narasi dalam karyanya ia melihat dari kondisi Bumi yang sedang tidak baik- baik saja karena seluruh bagian besarnya terindikasi wabah, sehingga dalam karyanya ingin mengajak audiens untuk bercermin untuk mengecek diri, baik itu kondisi fisik penampilan – emosional – hingga batin.
Sukarya hadir dalam pameran dengan karya khasnya menatah kulit sapi, memvisualkan bagaimana asiknya bermain bola adil. Eka Sutha perupa yang mengeksplore tokoh lakon lelucon di Bali seperti bondres dengan warna- warni khasnya. Wahyu Simbrana mahasiswa yang ikut bergabung menyampaikan kekaryaanya dengan khas warna gelap ia menggambarkan kehidupan ini bagaikan panggung dapat diubah kearah lelucon ataupun menegangkan.
Gung Arik menciptaan visual mapping yang menggambarkan bagaimana ia bermain dengan musik dan cahaya sekaligus direspon juga oleh komunitas Manubada dengan penampilan performance art.
Berlatarkan pada refleksi kondisi ditahun 2021 yang masih dalam tahap pemulihan pademi tema ini menjadi wujud proses pemurnian dari beban, kebangkitan dari jiwa yang lelah, pemulihan diri dari rasa penat yang sebelumnya telah menguasai. Dimana dalam kondisi ini hiburan menjadi penting sebagai penjaga keseimbangan jiwa dan raga. Timezone adalah tempat hiburan yang menghadirkan berbagai macam permainan.
Dalam hal ini nama Timezone dipinjam sebagai dimensi ruang untuk menerjemahkan ungkapan waktu bermain atau bersenang- senang. TIMEZONE #Puzzle sebagai bagian dari jenis permainan dalam dunia game. Menebak gambar dan menyusunnya menjadi satu adalah proses yang termaknai sebagai puzzle.
Proses bermain kali ini dimulai dengan menebak, ide - inspirasi yang bebas hingga takterduga datang dari berbagai sudut pandang dan kondisi lingkungan masing- masing. Menyusun termaknai sebagai proses realisasi ide. Kata satukan menjadi tahap menuju klimaksnya permainan yang menyatukan berbagai multi tafsir awal terproses hingga membentuk ruang baru.
Pameran kedua kali ini, terdapat upaya meluaskan upaya pemurnian, pemulihan, dan penyegaran terhadap respon lingkungan, agar tetap menjaga keharmonisan jiwa dan raga. Mempengaruhi, merangkul, dan kini hadir dari berbagai multidisiplin ilmu yang tergabung dalam satu ruang dimensi nyata di Luwak Ubud Villa. [T][R][Penawati]
Informasi lebih lanjut
TIMEZONE #Puzzle berlangsung 4 Maret – 19 Maret 2021
di Luwak Ubud Villa
Jl. Sri Wedari Br. Tegal Lantang No. 9 Ubud, Kec. Gianyar Kabupaten Gianyar, Bali 80571
Telepon (0361) 9000551
(Menerapkan protokol kesehatan COVID19)
10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi pada tulisan. Satu kolom pada...
SEKAA Dramatari Arja Sudhamala ini baru pertamakali pentas di ajang Pesta Kesenian Bali (PKB). Bahkan, sekaa kesenian tradisional Bali yang memadukan unsur drama, tari, dan nyanyi...
LAGU “A Salty Dog” oleh Procol Harum (1969), dengan lirik karya Keith Reid, adalah elegi tentang pelayaran terakhir, tentang manusia yang berangkat dengan keberanian, namun akhirn...
PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa kehadiran Presiden Prabowo Subianto sempat menimbu...
“Kalau mau menjadi penulis hebat, tulis yang unik dan autentik.” Kalimat itu meluncur dari mulut sastrawan Bali, Gde Aryantha Soethama, dalam acara ‘NGERUMPI’: Ngobrol Se...
MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa. Apalagi ketika ia mulai berbicara dengan logat...
DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku diajari bahwa Barong adalah pelindung, bukan pemangsa....
Yang Tua yang Tak Mau Purna Segara punya pantai sebagai batas gelombangSungai punya sempadan untuk batas aliranTetapi tidak bagi yang tua yang tak mau purnaMereka tak punya bat...
“Mari kawan bersama kita bekerja, bersihkan lingkungan….” ITU adalah penggalan tembang yang menjadi salah satu hal menarik dari pementasan kesenian janger tradisi d...