Puisi-puisi Eny Sukreni | Lima Macam Kecemasan

Eny Sukreni
by Eny Sukreni — Maret 06, 2021 in Puisi

Tatkala.co

MALAM PEGADANGAN


dari penggalan bulan utuh

nelayan bagai tempayan mengapung pelan

saat malam pegadangan di pelabuhan

debu tak tampak namun terasa di kulit

sampai pamit ampas kopi pahit


bak bintangbintang, lampu di pulau itu

redup lalu hilang di ujung perahu

cahayanya mati terganti matahari

yang mulai mendaki pagi

para nelayan kembali

dan bulan telah mati


DI PURA AKU BERMALAM


serupa ruang berdawai

tembang yang tak putusputus

tarian gunung yang khusyuk

wangi dupa turgas menggasab hening,

di pura aku bermalam


kecemasan jadi anggun

seiring asap yang mengatup ke langit

menembus taman kembang surya

pucuk daun maja memercik ubunubun,

malam masih bersila


air dan bunga

menadah kesejukan musim

keloneng genta

meliukliuk angklung

kehangatan menarinari

di tubuh yang berselendang


MATAHARI SELAHAN


kami seperti menjumpai matahari

setelah menguntit cabangcabang kelakar

yang memalamkan kesadaran

menyisakan cahaya datang seuntal


selalu kami terkenang nyanyi burung sunyi

pasir putih yang terlepas sebutirsebutir di kaki

seperti merelakan kepergian matahari

yang lama kami semaikan menjadi sebuah lahan

dan suara ombak memecah di gerak dahandahan


kami bercakap di sisi pesisir tanpa lampu

dan suara kami lenting di bilikbilik tak  dihuni

seorang kawan berduka sendiri dalam kamar

sebab kekasihnya telah memadamkan lentera


selalu kami terkenang nyanyi burung sunyi

pasir putih yang terlepas sebutirsebutir di kaki

memecahmecah mimpi kami

tentang tempat yang tak sempat diterangi matahari


GILI MENO SUATU PAGI


dari balik pintu kaca, sebuah perahu menyendiri

seperti aku yang kerap terbangun lebih dulu

menuruni anak tangga ini

merasa kembali tertidur dan bermimpi

laut mengibas dingin ke bawah kulit

menyeret langkah ke bibir pantai

dimana belum tampak tapak kaki tercetak


seseorang berdiam saja memandang laut

tak seperti aku yang berputarputar

berlarian mencetak sebanyak mungkin tapak kaki

sebab pagi ini kumiliki hanya sehari


sekawanan perkutut

mencari guguran semut dari pohon di atas pasir

lalu terbang ketika aku mendekat

seperti ingatan, kerap menggetus langkah ke belakang

manakala dahandahan tirus dijerat angin


dari balik pintu kaca, laut menatap sayu

saat berkemas, kelambu masih seputih pasir

keran yang macet di kamar mandi,

seperti membiarkan kepergianku

kembali menuruni anak tangga ini

menuju perahu yang siap mengantar pulang


DARADARA GILI


daradara gili, bertiga di jalan sepi

kata seorang yang kerap lintas di rawa

senjakala mereka menyimpul janji

sembari menyimak gemericit burung

di pucukpucuk bakau

sebelum petang mengaji


di muka pintu rumah lumbung

seorang dara mematutmatut gaun selutut

suara perkutut kembali meretas perasaan kalut

menyamarkan sedikit gores yang belum sempat dibalut


daradara gili, memanaskan kuali

menggelar baki di sebuah resepsi

api biru di hati mereka, tak berasap

mencubitcubit hangat percakapan di bawah terop

dan pandang berlompatan ke arah tawa para wali

yang berarusarus serupa kali


daradara gili, bertiga di jalan sepi

menunggui pesanpesan tak berkaki

tak ada angin di bakaubakau

daudaunnya merunduk sepi

seperti karang yang diamdiam mengawini ombak

dan melarikan pagi


LIMA MACAM KECEMASAN


adalah bintang, menjatuhkan lima macam kecemasan

hujan yang tak turunturun, musim dingin yang pikun

perantau yang ditinggalkan kotanya, nelayan tak mendapat ikan

dan seekor kadal mengutuk diri di tengah jalan


yang bergugus di langit cuma bayang lampulampu


mana terik mana api, rindu berderak di sumur tanpa air,

tinggal di pori, ngalir setetes di jalan kota,

pohon listrik berdahan keramik

daunnya tanah yang dibakar

pada sawah yang basah hilang tanaman


di langitlangit, bintang panas siang hari

sebab di luar ada gemuruh, pejalan kaki kehilangan teduh

yang rindang telah wafat, tinggal pijak yang tersisa sejengkal

banjirlah ia dalam terik hujan


PENGASONG


seakan yang mengetuk pintu adalah laut

tidur telah diusaikan embun bercampur pasir

juga ombak belum jelas kerdipnya

perahu yang diam bagai dilukis subuh

pengasong itu mengalungkan kulitkulit keong

bermata tulang


dermaga menunggu embun tiris

perahu menantikan nakhoda

dan blanket yang terlipat di tangan

kehilangan dingin

mereka kerap ditinggalkan pagi

____

BACA PUISI LAIN

Tag: Puisi
Avatar

Eny Sukreni

Related Posts