Razia Warung? Ah, Saya Selalu Sukses Puasa Dikurung Warung
SAYA geli membaca berita tentang razia warung saat Ramadhan. Razia yang katanya demi “mengamankan” masyarakat saat bulan puasa. Ini dilakukan setiap tahun. Ada apa dengan warung? A...
dari penggalan bulan utuh
nelayan bagai tempayan mengapung pelan
saat malam pegadangan di pelabuhan
debu tak tampak namun terasa di kulit
sampai pamit ampas kopi pahit
bak bintangbintang, lampu di pulau itu
redup lalu hilang di ujung perahu
cahayanya mati terganti matahari
yang mulai mendaki pagi
para nelayan kembali
dan bulan telah mati
serupa ruang berdawai
tembang yang tak putusputus
tarian gunung yang khusyuk
wangi dupa turgas menggasab hening,
di pura aku bermalam
kecemasan jadi anggun
seiring asap yang mengatup ke langit
menembus taman kembang surya
pucuk daun maja memercik ubunubun,
malam masih bersila
air dan bunga
menadah kesejukan musim
keloneng genta
meliukliuk angklung
kehangatan menarinari
di tubuh yang berselendang
kami seperti menjumpai matahari
setelah menguntit cabangcabang kelakar
yang memalamkan kesadaran
menyisakan cahaya datang seuntal
selalu kami terkenang nyanyi burung sunyi
pasir putih yang terlepas sebutirsebutir di kaki
seperti merelakan kepergian matahari
yang lama kami semaikan menjadi sebuah lahan
dan suara ombak memecah di gerak dahandahan
kami bercakap di sisi pesisir tanpa lampu
dan suara kami lenting di bilikbilik tak dihuni
seorang kawan berduka sendiri dalam kamar
sebab kekasihnya telah memadamkan lentera
selalu kami terkenang nyanyi burung sunyi
pasir putih yang terlepas sebutirsebutir di kaki
memecahmecah mimpi kami
tentang tempat yang tak sempat diterangi matahari
dari balik pintu kaca, sebuah perahu menyendiri
seperti aku yang kerap terbangun lebih dulu
menuruni anak tangga ini
merasa kembali tertidur dan bermimpi
laut mengibas dingin ke bawah kulit
menyeret langkah ke bibir pantai
dimana belum tampak tapak kaki tercetak
seseorang berdiam saja memandang laut
tak seperti aku yang berputarputar
berlarian mencetak sebanyak mungkin tapak kaki
sebab pagi ini kumiliki hanya sehari
sekawanan perkutut
mencari guguran semut dari pohon di atas pasir
lalu terbang ketika aku mendekat
seperti ingatan, kerap menggetus langkah ke belakang
manakala dahandahan tirus dijerat angin
dari balik pintu kaca, laut menatap sayu
saat berkemas, kelambu masih seputih pasir
keran yang macet di kamar mandi,
seperti membiarkan kepergianku
kembali menuruni anak tangga ini
menuju perahu yang siap mengantar pulang
daradara gili, bertiga di jalan sepi
kata seorang yang kerap lintas di rawa
senjakala mereka menyimpul janji
sembari menyimak gemericit burung
di pucukpucuk bakau
sebelum petang mengaji
di muka pintu rumah lumbung
seorang dara mematutmatut gaun selutut
suara perkutut kembali meretas perasaan kalut
menyamarkan sedikit gores yang belum sempat dibalut
daradara gili, memanaskan kuali
menggelar baki di sebuah resepsi
api biru di hati mereka, tak berasap
mencubitcubit hangat percakapan di bawah terop
dan pandang berlompatan ke arah tawa para wali
yang berarusarus serupa kali
daradara gili, bertiga di jalan sepi
menunggui pesanpesan tak berkaki
tak ada angin di bakaubakau
daudaunnya merunduk sepi
seperti karang yang diamdiam mengawini ombak
dan melarikan pagi
adalah bintang, menjatuhkan lima macam kecemasan
hujan yang tak turunturun, musim dingin yang pikun
perantau yang ditinggalkan kotanya, nelayan tak mendapat ikan
dan seekor kadal mengutuk diri di tengah jalan
yang bergugus di langit cuma bayang lampulampu
mana terik mana api, rindu berderak di sumur tanpa air,
tinggal di pori, ngalir setetes di jalan kota,
pohon listrik berdahan keramik
daunnya tanah yang dibakar
pada sawah yang basah hilang tanaman
di langitlangit, bintang panas siang hari
sebab di luar ada gemuruh, pejalan kaki kehilangan teduh
yang rindang telah wafat, tinggal pijak yang tersisa sejengkal
banjirlah ia dalam terik hujan
seakan yang mengetuk pintu adalah laut
tidur telah diusaikan embun bercampur pasir
juga ombak belum jelas kerdipnya
perahu yang diam bagai dilukis subuh
pengasong itu mengalungkan kulitkulit keong
bermata tulang
dermaga menunggu embun tiris
perahu menantikan nakhoda
dan blanket yang terlipat di tangan
kehilangan dingin
mereka kerap ditinggalkan pagi
____
SAYA geli membaca berita tentang razia warung saat Ramadhan. Razia yang katanya demi “mengamankan” masyarakat saat bulan puasa. Ini dilakukan setiap tahun. Ada apa dengan warung? A...
JUDUL tulisan ini merupakan tema diskusi Kupang Pesta Monolog yang coba menggali daya vital teater dan perannya dalam kehidupan konkret (aktual). Bahwa teater sebagai seni...
DI Bali, lumrah bila di tempat atau kawasan yang disucikan, jika melihat sesuatu, umpamanya benda, hewan atau binatang (langka), orang sering menyebutnya “Due”. (“Due” dibaca seper...
“KINI banyak pengarang muda yang bagus. Banyak sekali,” kata Seno Gumira Ajidarma saat ngobrol singkat pada suatu pagi dengan tatkala.co di Honeymoon Guest House, Ubud, 6 Juni lalu...
SEBUAH analog yang saya anggap pas untuk menggambarkan budaya korupsi di Indonesia adalah tradisi buang sampah sembarangan. Meski lingkungan jadi kotor, menghilangkan rasa nyaman,...
HALO sahabat mahasiswa super di manapun kalian berada, selamat beraktivitas. Semoga semua hidup berbahagia dan dalam lindungan dosen yang maha buasnya. Sangat super sekali kita mas...
Buta paling buruk adalah buta politik. Dia yang buta politik adalah dia yang tidak mendengar, tidak berbicara, dan tidak berpartisipasi dalam peristiwa politik. Dia tidak tahu bahw...
DUNIA pendidikan, modal utama dalam perkembangan peradaban manusia. Inovasi-inovasi dalam ilmu pengetahuan dan teknologi mutakhir terlahir di dalamnya. Sejarah perubahan besar-bes...
PAWAI pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-38 dibuka Presiden Joko Widodo alias Jokowi, di depan Monumen Bajra Sandi, Denpasar, Sabtu (11/6). Dan betapa senang mendengar Presiden...
Menikah itu sulit, tapi bercerai ternyata jauh lebih sulit. Saat mau menikah, yang penting hanya sedikit kemantapan hati, komitmen untuk sama susah sama senang, izin orang tua, sed...