Razia Warung? Ah, Saya Selalu Sukses Puasa Dikurung Warung
SAYA geli membaca berita tentang razia warung saat Ramadhan. Razia yang katanya demi “mengamankan” masyarakat saat bulan puasa. Ini dilakukan setiap tahun. Ada apa dengan warung? A...
Tidak ada orang Bali memuja Mpu Tanakung penulis kitab Kakawin Śiwarātrikalpa sekalipun orang Hindu Bali serempak merayakan Śiwaratri atau Śiwalatri — malam pemujaan Śiwa sebagai manisfestasi Sang Hyang Widhi.
Mpu Tanakung bahkan namanya seperti ada dan tiada, sayup-sayup terdengar. Sebagai guru suci perumus ajaran pemujaan malam Śiwa, yang dikomposisi dengan kaidah Sastra Kawi kakawin yang adiluhung, rumusan ajarannya Śiwarātrikalpa dikenal luas dan melambung, yang isinya sepadan dengan petunjuk ritual pemujaan Śiwa dalam Padma Purana, dijalankan sebagai dasar bagi hari besar pemujaan Śiwa di Nusantara. Nama Mpu Tanakung sendiri "sembunyi" di balik karyanya.
Para tokoh rohaniawan Jawa Kuno dan Bali, dari masa silam sampai hari ini, apalagi para pembaca kakawin atau sastra Kawi yang mendalam memahami sastra-agama, yang menjadi pedoman dari tradisi suci Hindu Nusantara, tidak mengajarkan para anak-cucunya untuk menyembah para penulis kitab-kitab sastra-agama yang bertumbuh di Nusantara.
Selain Mpu Tanakung, ada penulis Kakawin Sutasoma yang ternama, mahaguru suci Mpu Tantular, yang merumuskan secara terang benderang bagaimana semua ajaran dharma adalah tunggal: Bhinneka Tunggal Ika. Namanya, pun tidak kita puja puji, sekalipun ketika menyebut namanya, para pembaca sastra Kawi sudah barang tentu melakukan 'namaskara' di dalam hati masing-masing.
Mpu Tanakung sebagai perumus ajaran Śiwarātrikalpa, yang berpokok pada pemuliaan Śiwa dalam meraih pembebasan agung dan loka tertinggi; Mpu Tantular sebagai perumus ajaran kemanunggalan Śiwa-Buddha yang menjadi pilar sastra dalam memasuki keutuhan tunggal ajaran dharma di Nusantara; keduanya tentu akan menjadi "pujaan" seandainya kita merujuk "tradisi perguruan" di India.
Kenapa Mpu Tanakung tidak diagungkan atau dipuja-puji sebagai guru suci perumus ajaran pemujaan Śiwa? Kenapa Mpu Tantular tidak dipuja sebagai perumus ajaran Śiwa-Buddha Nusantara? [Silahkan membaca sampai selesai]
Kalau kita membuka catatan sejarah guru dan penulis besar India, maka kita akan berjumpa dengan para penulis besar dan sebagian menjadi pendiri "aliran pemikiran" (pendiri ajaran kefilsafatan-spiritual), sebagian penulis-penulis atau perumus ajaran tersebut tercatat namanya sebagai pendiri atau guru sampradaya (silsilah ajaran, perguruan dan inisiasi-diksa).
Nama-nama perumus ajaran pemikiran kerohanian, pemberi interpretasi, kajian atau keterangan tambahan para kitab-kitab suci, bisa dilihat dalam daftar di bawah ini. Mereka diagungkan, dipuji, disembah, bahkan dipercaya oleh pengikutnya yang fanatik sebagai awatara.
Lihat daftar 220 guru yang disucikan di India di bagian tulisan ini. Guru-guru suci tersebut hanyalah ilustrasi bagaimana "para murid-murid" perguruan sastra-agama dan tradisi yang disucikan di India mendaftarkan dan memasukkan nama-nama guru pujaan mereka, atau perumus pemikiran yang dihormati, tetap dikenang dan dijaga wibawa dan garis pemikirannya. Para muridnya memperjuangkan agar para guru-guru yang disucikan tersebut ajaran atau pemikirannya abadi dan terwariskan.
Poster guru-guru spiritual ini bukan hanya tersedia di center, ashram atau mandir guru-guru terkait, sekarang bisa dibeli juga lewat penjualan online. Ini sebuah contoh bagaimana para muridnya secara serius menyebarkan ajaran dan keteladannya. Mereka bekerja keras mengemban ajaran dan secara serius berorganisasi, berjaringan, melakukan gerakan mencetak buku-buku gurunya, menyebarkan ajaran dan membuat kantong-kantong ashram atau center untuk menjadi garda depan pewarisan tradisi pikir dan perguruan yang diembannya.
Tradisi perguruan India bukan hanya tradisi pelanjut dari guru-guru suci yang telah lampau. Di India lahir dan bertumbuh para guru yang menjadi pendiri ajaran. Katakanlah yang ternama sekarang yang masih hidup, seperti Sadhguru dan Sri M.
Sadhguru, terlahir tanggal 3 September 1957, dikenal luas sebagai guru yang sangat dihormati, bukan hanya di seluruh India, tetapi di berbagai forum dunia. Sering diundang berbicara di banyak forum dan konferensi bergengsi di seluruh dunia, seperti KTT Perdamaian Dunia Milenium Persatuan Bangsa-Bangsa, House of Lords, dan Institut Internasional untuk Pengembangan Manajemen, juga berbicara di Forum Ekonomi Dunia. Hampir semua kampus besar ternama di dunia mengundangnya, seperti Harvard, Oxford, MIT, dll. Bukunya masuk The New York Times Best Seller list: His Inner Engineering: A Yogi's Guide to Joy. Buku lainnya menjadi bacaan pembaca dunia yang merindukan pencerahan dan pemikiran timur: Mystic's Musings dan Death: An Inside Story.
Sadhguru telah menjalan proyek lingkungan menanam 2,4 miliar pohon. Penanaman pohon ini dikenal luas sebagai Cauvery Calling. Proyek Cauvery Calling bertujuan untuk mendukung para petani dalam menanam sekitar 2,4 miliar pohon melalui agroforestri, sehingga mencakup sepertiga dari lembah Cauvery dengan pepohonan, sebagai cara untuk melestarikannya. Proyek ini mendapat pujian dan dukungan dari politisi dan pihak-pihak ternama dari industri perfilman di India. Project GreenHands (PGH) adalah proyek lingkungan lain yang didirikan oleh Sadhguru pada 2004. Aktivitasnya sebagian besar difokuskan di wilayah Tamil Nadu. Kegiatan ini menerima penghargaan lingkungan Indira Gandhi Paryavaran Puraskar, Pemerintah India pada tahun 2010. Kegiatan organisasi ini meliputi agroforestri, pembibitan tanaman di sekolah, dan penanaman pohon di pusat kota seperti Tiruchirappalli dan Tiruppur. Sebagai guru yoga ternama dunia, ia melakukan kampanye Kampanye Rally for Rivers, yang berlangsung dari September hingga Oktober 2017, untuk kesadaran meremajakan sungai-sungai India yang semakin menipis dengan menumbuhkan hutan besar di sepanjang tepiannya. Kampanye tersebut mendapat dukungan dari berbagai selebriti dan warga perkotaan, serta berlanjut dengan MOU ditandatangani dengan pemerintah negara-negara bagian di India.
Guru spiritual tidak melulu sibuk mengurus urusan teologi dan keyakinan orang. Tidak melulu ingin mengajak masuk dalam aliran ajaran spiritualnya. Banyak guru-guru suci India menfokuskan gerakan membantu dunia pendidikan dan lingkungan hidup. Bersifat inklusif, artinya tidak harus ikut memuja sang guru, tapi masyarakat diundang ikut terlibat dalam penyelamatan lingkungan, pelayanan kesehatan, dan pelayanan pendidikan gratis, dll. Dunia spiritual bukan melulu uruan text book dan interpretasi ideologi di atas kertas.
Siapa di India tidak kenal Swami Vivekananda dan Paramahansa Yogananda?
Dua nama suci ini adalah duta ajaran suci di dunia barat yang ternama. Ajaran suci dharma dipahami dan mulai menjadi perhatian serius dalam dialog antar agama-agama besar di dunia berkat jasa dari Swami Vivekananda.
Yoga menjadi melambung membuat dikenal dan menjadi demikian dibaca dan dikejar oleh warga Amerika dan Eropa, dan menular ke bangsa-bangsa lain tidak bisa dipisahkan dari Paramahansa Yogananda.
Swami Vivekananda (lahir 12 Januari 1863 - 4 Juli 1902) dikenal luas di Amerika dengan pidatonya yang dimulai dengan kata-kata "Sisters and brothers of America ..." [Saudara dan saudari Amerika ...] ketika ia memperkenalkan agama Hindu di Parlemen Agama-agama Dunia di Chicago pada tahun 1893. Ia adalah murid utama Ramakrishna mistik India abad ke-19. Swami Vivekananda adalah tokoh kunci dalam pengenalan filosofi India Vedanta dan Yoga ke dunia Barat, tokoh besar dunia dalam meningkatkan kesadaran dialog antaragama, berjasa besar membawa Hinduisme dihormati di antara para pemuka agama dunia dengan status agama besar dunia. Tokoh suci yang hidup di akhir abad ke-19 ini adalah pemicu dan pendorong munculnya kekuatan utama dalam gerakan reformasi Hindu kontemporer di India, dan berkontribusi dalam memberikan penyadaran dan kontributor besar dalam rumusan konsepsi nasionalisme India, yang pada akhirnya menumbuhkakan kesadaran melawan Inggris yang mengkoloni India. Vivekananda mendirikan Ramakrishna Math dan Ramakrishna Mission. Gerakannya adalah penyadaran umat manusia, pekerja untuk pelayanan kemanusiaan yang terbuka, untuk semua bangsa.
Paramahansa Yogananda (lahir dengan nama Mukunda Lal Ghosh ; 5 Januari 1893 - 7 Maret 1952) dikenal sebagai ahli yoga sebagai "Bapak Yoga di Barat".
Kenapa mendapat julukan "Father of Yoga in the West" ?
Paramahansa Yogananda yang memperkenalkan yoga ke jutaan orang dari dunia Barat, ajaran suci meditasi dan Kriya Yoga melalui organisasinya Self-Realization Fellowship (SRF) dan yang menjalani kehidupan sebagai guru yoga yang paling berpengaruh dalam sejarah Amerika. Selama 32 tahun terakhir masa hidupnya membimbing orang-orang Amerika untuk mempertemukan esensi suci agama-agama Timur dan Barat, dan memberikan petunjuk rohaniah untuk menjaga keseimbangan antara pertumbuhan materi Barat dan spiritualitas India. Karena pengaruh besar pemikiran dan ajarannya itulah, terutama membesarkan tumbuhnya budaya yoga di Los Angeles, membuatnya dikenal sebagai "Bapak Yoga di Barat".
Bukunya Autobiography of a Yogi terbit tahun 1946; sejak penerbitan pertamanya, buku ini telah terjual lebih dari empat juta eksemplar, dengan HarperSan Francisco mendaftarkannya sebagai salah satu dari "100 buku spiritual terbaik abad ke-20". Mendiang CEO Apple Steve Jobs dengan sangat antusias memesan 500 eksemplar buku untuk memorialnya sendiri, karena ia terpengaruh besar oleh buku dan tokoh ini. 500 buku ini ia bagikan untuk setiap tamu istimewanya.
Ya, Steve Jobs mengakui bagaimana pengaruh Autobiography of a Yogi yang berkisah tentang perjalanan spiritual Paramahansa Yogananda mempengaruhi pemikiran dan jalan hidupnya.
Kenapa di Bali tidak ada penyembah Swami Vivekananda dan Paramahansa Yogananda?
Bukan karena tidak ada yang membacanya atau mengetahui keberadaan dari Ramakrishna Math dan Ramakrishna Mission, atau Self-Realization Fellowship (SRF) — saya sendiri dari semenjak tamat SMA membaca dan terpengaruh Swami Vivekananda dan dari kuliah mengetahui keberadaan Ramakrishna Mission di Singapore — tapi karena ajaran kedua tokoh besar dan guru suci ini tidak "dokrinal", tidak mengajari "kebenaran satu kitab saja", tidak mendidik menjadi fanatik dan berkiblat pada satu guru suci, tapi mengajak "inklusif" mengembangkan kesadaran persaudaraan dharma yang terbuka dan saling menjaga. Dua guru suci ini merangkul dan memahami bahwa perjalan setiap insan punya "rute karma" masing-masing, terlahir di keluarga agama apapun, akan ada waktunya "matang jiwa" dalam proses alami yang sesuai hukum karma dan persaudaraan dharma.
Begitu pula ajaran Mpu Tantular dan Mpu Tanakung: Jiwa manusia dan perjalanan hidup manusia tidak instan. Tidak bisa dikebut semalam atau diberikan paket belajar cepat yang dokrinal.
Manusia, dalam ajaran Kakawin Śiwarātrikalpa, punya perjalanan ruhaniahnya masing-masing. Dalam hal ini Lubdaka, lihatlah, secara kasat mata mungkin hanya pemburu biasa. Tapi dalam perhitungan kosmik, Lubdaka punya tabungan semesta yang berlimpah, dengan karma baiknya di kehidupan sebelumnya yang tiada tara, dalam hitungan semalam terjadi "penyadaran dharma" akibat dipicu oleh "sebatas naik pohon bilva" yang sangat simbolik sebagai "perjalanan menaiki tangga jiwa" lalu terjaga dalam "kesadaran kemanunggalan keilahian Śiwa" — perjalanan batiniah menaiki tangga-tangga diri ke dalam diri yang akhirnya paripurna manunggal yang Sang Hyang Tunggal.
Mpu Tanakung mengharapkan para pembacanya mencapai yang Absolut, bukan menyembahnya. Hal ini disampaikan secara sangat terbuka:
ṅhiŋ tuṅgal∙ pinalar palar wnaṅa sāḍana niṅ umusira ŋ nirāśraya
Satu-satunya harapan saya, bagaimanapun, ini mungkin berhasil menjadi bantuan dalam pencarian (saya dan pembaca) untuk mencapai Yang Mutlak [nirāśraya].
Tanakung meletakkan dirinya sebagai "pembuka jalan" yang bertujuan membentangkan ajaran suci, bukan menjadikan dirinya pujaan, lebih bersifat mengantar. Tidak perlulah dicatat berlebihan seorang tukang pos, yang penting surat sampai dan terbaca pesannya, seperti demikian pesan Tanakung dalam karyanya.
Mpu Tantular — sebagai guru suci Śiwa-Buddha— dengan suka cita dan "ketiadaan diri" menyebutkan bahwa dirinya sebagai perumus ajaran "tidaklah penting", disebutkan dalam bait-bait depan Kakawin Sutasoma:
inucap mustining dharma tatwa. Sang siptan patulik ring ati sira sekunging yoga lawan samadi.
“itu yang disebut intisari kebenaran yang sungguh-sungguh [menyatu dalam ketunggalan]. Pendeknya, silahkan cari di dalam pikiran, satukan dalam yoga dan samadhi”.
Mpu Tantular menempatkan dirinya sebagai "pemasang marka jalan" agar pejalan di jalur batiniah punya peta pedoman kemana menuju.
Ia menambahkan:
"Pada saat itu satukan ketetapan pikiran dan ikuti kata-kata orang yang sudah menjadi yogi yang agung. Baktiku kepada beliau [para guru suci sebelumnya] dengan pikiran yang suci dan bersih tanpa kekotoran yang akan kupakai sarana di dalam ikatan cerita ini.."
Mpu Tantular tidak pongah mendudukkan dirinya sebagai pendiri ajaran, tidak mendeklarasikan dirinya sebagai "penemu" atau "tonggak suci" yang mewajibkan pembacanya menyembahnya, tapi guru mahasuci Tantular "merendahkan diri" sebagai "pengantar cerita", bisa dikatakan ia hanya mengaku sebagai "pendongeng". Begitulah. Jika membaca hasil renungan atau saripati ajaran suci, diajarkan oleh Tanakung, tidak wajib kita sembah "tubuh fana penulisnya", yang terpenting adalah "jalan agung yang menjiwai teks-teks suci".
Namun demikian, leluhur Bali tidak bebal. Tidak lupa kacang pada kulitnya. Tidak lupa leluhur Bali telah mengamanatkan pada semua keturunannya untuk mendirikan PELINGGIH MENJANGAN SALUWANG sebagai tempat berterimakasih pada SAPTA RSI, pada Mpu Kuturan dan para guru suci penulis-perumus ajaran. Karena itu, cukup jelas, dan cukup sudah, orang Bali tidak memuja penulis buku, tapi punya tradisi suci hening mendalam di depan "ruang kosong simbolik" bertanda MENJANGAN untuk para guru suci penurun Weda — SAPTA RSI.
Dalam catat lontar Bali, PELINGGIH MENJANGAN SALUWANG atau disebut juga PELINGGIH SAPTA RSI, atau kadang disebut sebagai PELINGGIH MPU KUTURAN, berkorelasi atau terkait erat dengan mantra suci berikut:
"Vasiṣṭhaś ca Viśvāmitra, Agastyaś ca sa-Gotamaḥ, Bhṛguś ca Nāradaś câiva, Jamad-agnir namo namaḥ."
Mantra kepada Tujuh Ṛṣi (Sapta Rsi) ini jika diterjemahkan:
"Vasiṣṭha dan sang Viśvāmitra, dan Agastya bersama dengan Gotama, dan Bhṛgu dan Nārada, dan Jamad-agni, [Ini adalah para Tujuh Ṛṣi] sembah muliakan, sembah muliakan."
Jika kita berhadapan dengan PELINGGIH MENJANGAN SALUWANG, kita disadarkan bahwa leluhur Bali memuliakan dengan hening para penulis Catur Weda, yang dikenal di Bali sebagai Sapta Rsi adalah: Vasiṣṭha, Viśvāmitra, Agastya, Gotama, Bhṛgu, Nārada, dan Jamad-agni. Leluhur Bali meninggalkan catatan ini dalam mantra Sapta Rsi di atas.

Kenapa kadang disebut sebagai Pelinggih Kuturan?
Penelitian saya terkait pelinggih Menjangan Saluwang mendapatkan jawaban ada benang merah pelinggih ini adalah "ajaran Kuturan" untuk memuliakan Sapta Rsi penulis Weda. Hal ini diperkuat oleh informasi umum dalam sejumlah lontar bahwa bahwa Mpu Kuturan datang ke Bali bersamaan dengan Mpu Gnijaya, Mpu Sumeru, dan Mpu Ghana. Disebutkan bahwa Raja Udayana dan Ratu Gunapriya Dharmapatni yang mengundang kehadirannya. Mpu Kuturan secara tradisi disebut sebagai tokoh paling penting di masa Bali Kuno memberikan "pedoman keagamaan" di Bali. Peneliti sastra Kawi (mendiang) IBM Dharma Palguna memberikan informasi bahwa ketika itu masuk pustaka-pustaka Bali, antara lain: Pustaka Candrakarana, Kiratabhasa, Dasanama, Ramayana, Brahmanda Purana, Sabhaparwa, Wirataparwa, Prasthanikaparwa, Swargarohanaparwa.
Kalau kita baca Krtabhasa, Dasanama, Ramayana, Brahmanda Purana, Sabhaparwa, Wirataparwa, Prasthanikaparwa, Swargarohanaparwa, kita akan mendapati nama-nama Sapta Rsi di atas dimuliakan dalam Parwa dan juga karya sastra tersebut. Di sanalah benang merah korelasi "pemuliaan Sapta Rsi" di Bali dengan Pelinggih Menjangan Saluwang.
Secara insklusif PELINGGIH MENJANGAN SALUWANG adalah altar pemuliaan para guru suci penulis Weda dan penerus ajarannya.
Pelinggih bertanda Menjangan sebagai simbol "pembuka jalan". Dalam bahasa Sansekerta dan Jawa Kuno, 'rusa' atau 'menjangan' disebut sebagai 'mṛga', sementara 'jalan' adalah 'marga'. Kata 'mṛga' menjadi 'marga' — menjangan sebagai pembuka jalan. Di samping sebagai "pembuka jalan", menjangan juga melambangkan kelembutan dan perhatian penuh — apapun yang dilakukannya, ia selalu penuh waspada akan predator yang mengintai, hidupnya dijalani dalam kesadaran penuh. Kehidupan menjangan yang senantiasa diintai oleh harimau memberi pesan sebaiknya cara kita hidup di dunia mempraktikkan kesadaran penuh kehati-hatian, ahimsa dan memperhatikan ketidakkekalan, serta sadar akan sifat kesementaraan dari semua fenomena yang terjadi di sekitar kita.
Leluhur Bali tidak bebal. Diwariskan altar suci pemujaan bagi pembuka jalan suci atau tradisi suci secara "anonim". Hanya disebutkan sebagai tempat pemujaan "para suci pewaris ajaran". Di dalamnya mengandung pesan mendalam: Jalan suci dan ajarannyalah yang perlu kita jalankan. Tidak berpaku menghafal nama, tapi dipicu bakti menjalankan ajaran-ajarannya.
Secara tradisional orang Bali tidak diajari menyembah sosok pendiri ajaran, tapi lebih pada pemuliaan ajaran-ajaran sucinya. Pada akar pokok inilah alasan kenapa secara tradisi orang Bali tidak memuja arca sosok penulis kitab. Masyarakat Bali secara tradisi adalah peraya ajaran suci yang insklusif, bukan pemuja dan pengidola penulis ajaran yang ekslusif.
Daftar Nama 220 Guru yang disucikan di India — jumlah ini bisa ditambahkan karena ada ribuan guru-guru dan ratusan aliran serta sampradaya pernah dan masih berkembang di Inida.
SAYA geli membaca berita tentang razia warung saat Ramadhan. Razia yang katanya demi “mengamankan” masyarakat saat bulan puasa. Ini dilakukan setiap tahun. Ada apa dengan warung? A...
JUDUL tulisan ini merupakan tema diskusi Kupang Pesta Monolog yang coba menggali daya vital teater dan perannya dalam kehidupan konkret (aktual). Bahwa teater sebagai seni...
DI Bali, lumrah bila di tempat atau kawasan yang disucikan, jika melihat sesuatu, umpamanya benda, hewan atau binatang (langka), orang sering menyebutnya “Due”. (“Due” dibaca seper...
“KINI banyak pengarang muda yang bagus. Banyak sekali,” kata Seno Gumira Ajidarma saat ngobrol singkat pada suatu pagi dengan tatkala.co di Honeymoon Guest House, Ubud, 6 Juni lalu...
SEBUAH analog yang saya anggap pas untuk menggambarkan budaya korupsi di Indonesia adalah tradisi buang sampah sembarangan. Meski lingkungan jadi kotor, menghilangkan rasa nyaman,...
HALO sahabat mahasiswa super di manapun kalian berada, selamat beraktivitas. Semoga semua hidup berbahagia dan dalam lindungan dosen yang maha buasnya. Sangat super sekali kita mas...
Buta paling buruk adalah buta politik. Dia yang buta politik adalah dia yang tidak mendengar, tidak berbicara, dan tidak berpartisipasi dalam peristiwa politik. Dia tidak tahu bahw...
DUNIA pendidikan, modal utama dalam perkembangan peradaban manusia. Inovasi-inovasi dalam ilmu pengetahuan dan teknologi mutakhir terlahir di dalamnya. Sejarah perubahan besar-bes...
PAWAI pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-38 dibuka Presiden Joko Widodo alias Jokowi, di depan Monumen Bajra Sandi, Denpasar, Sabtu (11/6). Dan betapa senang mendengar Presiden...
Menikah itu sulit, tapi bercerai ternyata jauh lebih sulit. Saat mau menikah, yang penting hanya sedikit kemantapan hati, komitmen untuk sama susah sama senang, izin orang tua, sed...