Puisi-puisi Putu Intan Juliantika | Lintang Perahu Pegat
LINTANG PERAHU PEGAT Dari perut bundaPertama kalinya aku hidupDari perut bundaPertama kali aku dipeluknya Tak ingat apa yang terjadi sebelumnyaTak tahu apa yang terjadi ke d...
Jauh sebelum keluarnya Surat Edaran (SE) Gubernur Bali tentang penggunaan kain tenun endek, Pemkab Buleleng sudah punya ambisi besar untuk mengangkat kembali citra endek, sekaligus membangkirkan kerajinan tenun endek di Buleleng. Salah satunya adalah menggelar Buleleng Endek Carnaval (BEC).
Buleleng Endek Carnaval (BEC) yang digagas Pemkab Buleleng melalui Bappeda Buleleng adalah strategi kreatif dan inovatif dalam memperkenalkan sekaligus mengembangkan kain endek khas Buleleng. Ajang ini merupakan ajang yang sejalan dengan kebijakan Pemkab Buleleng yang kerap dikumandangkan Bupati Putu Agus Suradnyana dalam mengangkat potensi-potensi Buleleng di bidang seni budaya, ekonomi kreatif dan ekonomi kerakyatan. Event itu adalah satu strategi untuk melestarikan, mengembangkan sekaligus memperkenalkan desain-desain endek atau tenun ikat khas Bali Utara di mata dunia.
Ketika event itu digelar, Kabupaten Buleleng seolah menjadi kiblat baru fashion di Provinsi Bali. Ini karena peserta Buleleng Endek Carnaval yang pertama tahun 2014 menampilkan pakaian berbahan dasar endek dan memukau para penonton yang memadati kawasan Jalan Ngurah Rai, Jalan Pramuka, dan Jalan Ahmad Yani. Apalagi, sejumlah desainer nasional ikut ambil bagian dalam event itu antara lain Gede Yudi, desainer asal Sukasada yang kini melakukan proses kreatif di Jakarta. Selain itu ada Afif Ghurub Bestari, dosen Universitas Jogjakarta. Juga ikut Ketut Radjin, perajin endek asal Desa Sinabun, Kecamatan Sawan.
Karnaval endek tahun 2014 juga dimeriahkan oleh penampilan sejumlah mobil hias dari Sauan Kerja Perangkat Dinas (SKPD) di Pemkab Buleleng. Tak pelak karnaval penampilan mobil hias itu juga menarik perhatian penonton, karena hanya sekali setahun dapat menyaksikan penampilan itu. Sebanyak 15 tim, mengikuti lomba, sementara tiga tim lainnya mengikuti eksebisi. Meski secara umum peserta belum mengetahui desain konsep karnaval, namun sejumlah peserta sudah mendesain pakaian dengan konsep karnaval.

Gede Suyasa yang menjadi penggagas BEC ketika ia menjadi Kepala Bappeda Buleleng menyebutkan bahwa BEC memang diharapkan dapat menarik minat desainer-desainer muda Buleleng dalam berkarya. Termasuk mengundang dan menarik minat desainer nasional merancang busana non formal, dengan bahan dasar endek. Selama ini kain endek hanya terbatas untuk pakaian formal, dan dengan BEC ini masyarakat ingin diberi pertunjukkan bahwa endek juga bisa digunakan untuk bahan pakaian yang lain, termasuk fashion.
Yang menarik, BEC perdana itu diisi dengan pembuatan dokumentasi dalam bentuk film dokumenter. Selain diputar di sela kegiatan, film itu juga dapat didistribusikan ke seluruh satuan kerja perangkat dinas (SKPD) dan dapat diputar dalam berbagai kegiatan pemerintah, termasuk di antaranya pameran. Dokumentasi memang sangat penting untuk menjaga keaslian dan kualitas endek khas Buleleng. Sekaligus mencegah motif endek khas Buleleng dari kepunahan.
Tahun 2015, BEC kembali digelar untuk keduakalinya. Dalam BEC 2015 dilibatkan sebanyak 700 peserta. Tahun 2015 ini kepanitiaan BEC diketuai Kepala Bappeda Gede Dharmaja. Tahun 2015 ini BEC mengangkat tema “Pesona Flora Denbukit”. Tema ini menunjukkan keberagaman buah dan bunga yang ada di Buleleng. Potensi buah-buahan yang kaya di Buleleng itu diterjemahkan para desainer untuk merancang desain pakaian berbahan kain endek dalam BEC tersebut. Dengan tema ini, BEC memberi juga dampak untuk mempromosikan kekayaan agro dan kerajinan di Bali Utara.
BEC itu sendiri memang menjadi bagian dari agenda strategis yang dicanangkan Bupati Putu Agus Suradnyana. Agenda yang dicanangkan itu tentang bagaimana penguatan ekonomi, peningaktan UKM, dan industri kreatif. Caranya dengan terus mengggali potensi Buleleng yang dulu berjaya kini redup. Bupati Putu Agus Suradnyana dalam sejumlah wawancara kerap memberi contoh bagaimana kerajinan di Desa Beratan nyaris redup karena disaingi produksi dari daerah luar. Bupati Suradnyana memiliki prinsip bahwa ketika orang daerah menghargai apa yang menjadi keunggulan daerahnya, yang secara benar-benar dieksploitasi secara kraetif, maka muaranya adalah meningkatnya kesejahteran masyarakat sekaligus terpenuhinya capaian tenaga kerja.
Di bidang kain endek, selain menggelar BEC, Bupati Suradnyana secara terus menerus mengajak pimpinan di seluruh Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) untuk membuat seragam yang punya kekhasan yang diproduksi oleh perajin endek Buleleng. Perajin di tempat kerajinan endek yang ada di Buleleng bisa melihat contoh motif tersebut sehingga bisa membuatnya sendiri. Sehingga kebutuhan PNS akan baju seragam endek bisa dipenuhi oleh perajin lokal di Buleleng.
Di sisi lain, Ketua Tim Penggerak PKK Nyonya Aries Suradnyana juga terus melakukan langkah pembinaan ke desa-desa bersama tim penggerak PKK yang lain. Ini dilakukan karena sangat disadari perancang mode di Buleleng banyak sekali sehingga kain endek bisa dijadikan materi desain mode yang baik dan bagus. Apalagi, dalam berbagai ajang fashion show di Denpasar, desain endek yang dirancang para perancang dari Buleleng selalu mengundang decak kagum dari penggemar desain dari kabupaten lain.

Nyonya Aries Suradnyana bersama ibu-ibu PKK lain secara rutin turun ke desa, misalnya ke Desa Kalianget. Kepada para perajin ia kerap memberi masukan untuk selalu menjaga kualitas endek khas Buleleng. Selain itu juga secara terus-menerus dilakukan sosialisasi agar masyarakat memakai endek dalam kegiatan sehari-hari atau pada event tertentu.
Bisa disimpulkan Pemkab Buleleng sejak lama punya upaya membangkitkan kembali usaha pertenunan kain endek di Bali Utara. Selain menyerap produksinya, perajin kini diajarkan juga dalam teknik pewarnaan, sehingga kain tenun endek dan songket yang dihasilkan kualitasnya meningkat dan bisa bersaing dengan kain tenun endek dari daerah lain di Bali. Sentra kain tenun lain di Buleleng juga terletak di Desa Sinabun Kecamatan Sawan. Hasil tenunnannya tidak hanya memenuhi pasaran di Buleleng juga dipasarkan hingga ke luar Bali. Sebelumnya usaha menenun ini sempat terseok-seok dan nyaris punah, karena anak-anak muda kurang berminat menekuni pekerjaan menenun.
Sayangnya, entah karena semangat yang kendor atau anggaran yang kendor, tahun 2019 BEC mulai hilang dari agenda. Apalagi saat pandemi 2020, BEC naga-naganya mulai jadi kenang-kenangan. [T]
LINTANG PERAHU PEGAT Dari perut bundaPertama kalinya aku hidupDari perut bundaPertama kali aku dipeluknya Tak ingat apa yang terjadi sebelumnyaTak tahu apa yang terjadi ke d...
ADA bunyi-bunyi yang hidup begitu lama di sekitar kita hingga akhirnya menghilang dari ingatan. Ia pernah hadir setiap hari, melintas di jalan-jalan kampung, menyelinap di antara...
DENPASAR – TATKALA.CO | Seniman-seniman dari Kabupaten Buleleng tampil dengan ciri khas Bali Utara pada Peed Aya (Pawai) Pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 202...
Antara Takdir dan Kebebasan: Pertanyaan Tua yang Tak Pernah Usai Sejak manusia mulai bertanya tentang dirinya sendiri, satu pertanyaan selalu muncul: apakah hidup ini ditentuka...
Tari Siwanataraja selalu menjadi bagian penting dalam Peed Aya (Pawai Budaya) pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) setiap tahunnya. Tari yang disajikan secara megah dengan iringan...
“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you, baby ….” Ponsel Garu masih mengalunkan musik tersebut berulang-ulang di tengah hu...
JESS BUAT PRANITA DEWI Meong-meong alih je bikule—suara itu melintas dari pelataran purake satelit, kabel bawah laut, ruang transit;atma mengikutinya seperti temayang berpindah...
BULELENG – TATKALA.CO | “Festival ini merupakan ruang bersama untuk menunjukkan potensi dan kreativitas masyarakat. Melalui kegiatan seperti ini, kita dapat memperkuat jati diri d...
Ida Kade Saka Rosanta, yang kerap dipanggil Gus Moyo memamerkan karya rupanya di Rumah Berdaya, jalan Raya Sesetan 280 Denpasar. Selain lukisan, Gus Saka juga memajang hasil ngebo...
SEJAK kapan sebuah kata harus tunduk pada makna yang kaku? Padahal, di tengah masyarakat, makna kata itu justru tumbuh dan meluas. Bagi seorang epigraf dan arkeolog, kata ...