Bulan Juni Milik Empat Presiden
“Tulislah tentang aku dengan tinta hitam atau tinta putihmu. Biarlah sejarah membaca dan menjawabnya” (Ir. Soekarno). PEMERINTAH Provinsi Bali sejak Gubernur Wayan Koster meray...
Bagi masyarakat Bali khususnya, makanan bukanlah sekedar sajian di meja makan untuk pemenuhan gizi dan kebutuhan biologis. Tapi makanan adalah sesuatu yang kompleks dan bisa dinikmati dari segala rasa. Kita bisa melihat beragam aspek dari makanan ketika melihat lebih ke dalam dari apa yang dibuat dan dilakukan oleh orang Bali terhadap bahan makanan atau makanannya.
Beberapa hal tentang makanan yang kita bisa lihat di Bali:
Satu hal menarik tentang makanan di Bali adalah dominannya menggunakan makanan sebagai persembahan dalam suatu upacara. Mungkin kalau diamati sebagian besar persembahan yang dihaturkan dalam upacara-upacara di Bali menggunakan makanan dan minuman sebagai unsur utamanya.
Sebagai salah satu rujukan kenapa mereka sangat mentaati persembahan dalam bentuk makanan dan minuman ini adalah sebagaimana tercantum dalam sloka 13 Bhagawadgita yaitu:
Yajna-sistasinah santo
Mucyante sarva-kilbisaih
Bhunjate te tv agham papa
Ye pacanty atma-karanat
Yang artinya:
“para penyembah Tuhan dibebaskan dari segala jenis dosa karena mereka makan makanan yang dipersembahkan terlebih dahulu untuk korban suci. Orang lain, yang menyiapkan makanan untuk kenikmatan indria-indria pribadi, sebenarnya hanya makan dosa saja”.
Meskipun tidak semua mungkin membaca sloka ini tapi keyakinan ini sudah diturunkan dari generasi ke generasi dalam bahasa yang lebih sederhana. Namun, apakah implementasi dari keyakinan ini akan mampu bertahan seiring perkembangan jaman? Menurut hemat penulis, sepanjang orang Bali masih hidup dalam budaya dan tradisinya, hal ini tentunya akan tetap ada dan “bertahan” dalam kehidupan orang Bali. Meskipun tidak kita pungkiri bahwa pengaruh kemajuan teknologi informasi mengakibatkan perubahan dalam pola konsumsi masyarakat Bali, dan hal ini pulalah yang menyebabkan perubahan dalam penggunaan jenis bahan dalam persembahan mereka. [T]
“Tulislah tentang aku dengan tinta hitam atau tinta putihmu. Biarlah sejarah membaca dan menjawabnya” (Ir. Soekarno). PEMERINTAH Provinsi Bali sejak Gubernur Wayan Koster meray...
īśāvāsyam idaṁ sarvaṁ yat kiñca jagatyāṁ jagat |tena tyaktena bhuñjīthā mā gṛdhaḥ kasyasvid dhanam || "Seluruh alam semesta ini, apa pun yang bergerak di dunia yang bergerak in...
ADA satu pemandangan yang hingga kini selalu mengusik. Seorang barista selesai meracik secangkir kopi, lalu menyadari ada kesalahan kecil. Mungkin ukuran gelasnya keliru, jenis su...
PADA tanggal 14 Juni 2026, saya mengikuti acara kolaborasi Grab Bali Nusra dengan Bali Book Party. Museum Pasifika Nusa Dua adalah lokasi acara diselenggarakan. Siang hari, ...
Kenapa jagat sosmed Bali semakin dijangkiti fenomena: Ngandang Nganjuh. Secara harfiah, istilah ini menggambarkan tindakan yang melintang (ngandang) dan mendorong atau memaksak...
PAGI saat Hari Suci Kuningan, sebagian keluarga sudah mengenakan pakaian adat sebelum fajar menyingsing. Sebagian lagi masih sibuk menata banten, memasak, atau menunggu anggota ke...
DI Desa Kembang Asri hiduplah seekor babi betina bernama Ica. Ia adalah babi kesayangan Made Subur. Ica tumbuh sehat dan jinak. Ia juga sangat menyayangi majikannya. Selain Ica...
KUCING aku seekor kucing yang memanjat jendelamukau penghuni yang selalu menutupnya,bersantai menenteng cangkir teh yang pekat. aku mengeong dan mengamuk, mendesis,mencakar-...
"Gemerlap lampu Manhattan tidak pernah mampu menggantikan cahaya seekor kunang-kunang." KALIMAT itu memang tidak pernah ditulis secara harfiah oleh Umar Kayam dalam cerpennya S...
DALAM sejarah musik populer abad ke-20, sedikit lagu yang mampu merangkum pengalaman eksistensial manusia dalam lirik sesederhana “Knockin’ on Heaven’s Door.” Ditulis oleh Bob Dyl...