17 Agustus 2016, Belum Semua Anak Indonesia Merdeka
MERAYAKAN Hari Kemerdekaan memang bukan sebuah keharaman. Wajar saja rakyat Indonesia merayakannya. Betapa tidak, karena kemerdekaan ini diraih dengan iuran darah para pejuang terd...
Lumbung keluarga saya roboh. Lumbung dibangun sekitar pertengahan abad 20 dan itulah lumbung pertama milik kami. Pada zamannya, lumbung itu adalah lumbung yang elit.
Dalam bahasa Bali lumbung disebut jineng atau klumpu. Ada beberapa bentuk lumbung yang saya kenal: pertama, berbentuk kubus dengan empat kaki, hanya untuk menyimpan gabah; dan kedua, lumbung dengan empat kaki atau lebih namun dilengkapi tempat nongkrong—pada bagian belakang sebagai penyimpanan gabah, bagian depan sebagai tempat nongkrong—atau bertingkat: di bawah tempat nongkrong, di lantai dua penyimpanan gabah.
Umumnya, lumbung di daerah saya berbentuk yang pertama saya sebutkan: hanya untuk menyimpan gabah. Sementara itu, lumbung keluarga saya yang roboh itu dilengkapi dengan tempat nongkrong di depan penyimpanan gabah, dan lumbung itu bukan dirobohkan, tapi roboh dengan sendirinya karena memang tidak difungsikan lagi.
Robohnya lumbung keluarga membuat saya bertanya-tanya, “Mengapa? Mengapa tidak digunakan lagi?”
Kebetulan, setelah lumbung itu roboh, keluarga kami berkumpul; bukan barang baru, kumpul untuk sekadar ngobrol memang menjadi kebiasaan kami. Dan paman saya memulai sebuah percakapan tanpa ada pancingan sama sekali.
Ketika paman saya masih kecil—sekitar tahun 1940-an—padi membutuhkan waktu lama untuk dapat menghasilkan. Padi baru bisa dipanen sekitar enam hingga tujuh bulan setelah ditanam. Dalam rentang waktu yang panjang itu, makan tidak bisa sembarangan: harus hemat. Karena itu pula, gabah harus dimanajemen dengan cermat agar tidak kehabisan stok sebelum masa panen tiba.
Karena beras menjadi makanan yang istimewa, mulailah mereka mencampur beras dengan jenis makanan yang lain: ketela, jagung, umbi talas, dan sebagainya. Sejenak, saya merasa ngilu mendengar cerita itu; tak bisa saya bayangkan seandainya saya menjumpai situasi seperti itu. Tetapi, berhubung paman saya mengaku, “Padahal makanan dulu seperti itu, tapi tetap terasa nikmat,” saya tunda perasaan sombong itu.
Di lain sisi, meski paman saya mengatakan menikmati beras dengan berbagai campuran, ia dan kakek saya menyambut gembira program pemerintah yang kala itu menggelar Revolusi Hijau. Padi mulai bisa dipanen dalam waktu lebih singkat. Barangkali, setelah biasa dengan hasil panen yang “ngebut”, mereka tidak lagi memperhatikan porsi makan nasi. Perlahan-lahan, lumbung tidak menjadi tempat penting untuk menyimpan gabah, “Toh persediaan tak pernah habis,” lanjutnya dengan biasa-biasa saja.
Meski lumbung masih mendapat perlakuan yang khusus—sebab banyak pantangan yang tidak boleh dilakukan di lumbung: mengucap kata yang tidak sopan terhadap gabah atau mengumpat tikus yang lalu lalang dan merusak karung gabah—tetapi lumbung tak lagi menjadi perut penyimpan makanan. Siklus yang berubah itu rupanya telah menggeser fungsi lumbung, dan padi yang praktis membuat tanah menjadi mesin yang harus mengikuti pola industri: semakin cepat semakin bagus.
Saya sempat mengunjungi beberapa villa di Lovina, Ubud, Tejakula, dan beberapa tempat pariwisata lainnya untuk melihat perubahan fungsi lumbung. Di berbagai tempat yang saya kunjungi, saya dapati lumbung yang biasanya ada di halaman belakang rumah, justru ada di halaman paling depan.
Tetapi itu bukan lumbung yang saya kenal, lumbung itu sangat asing bagi saya: catnya mengkilap—tidak seperti lumbung saya yang kayunya bulukan, atapnya rapi berbahan ijuk, kayu, atau genteng—tidak menggunakan atap seng seperti lumbung saya yang hingga karatan belum juga diganti, dan tidak berisi beras, tapi dihuni bergantian oleh para turis.
Saya membayangkan pelajaran ketika SD: kata guru saya, onta menyimpan air di punggung, Pohon apel menyimpan cadangan makanan pada buah, dan ada yang nyeletuk, “Manusia menyimpan makanan di lumbung.” Tapi kini, entah untuk menyimpan apa lumbung itu, dan entah apa fungsinya; mungkin kita memang tidak memerlukan lumbung untuk menyimpan persediaan makanan? Atau di dalam lumbung ada lumbung yang lain?—dompet pengunjung. Lumbung telah berevolusi: menjadi kamar untuk para turis atau dibiarkan perlahan roboh sendiri.
Setelah dipikir-pikir, makanan campuran yang diceritakan oleh paman saya itu tak lagi membuat ngilu; justru yang membuat saya merasa demikian adalah slogan, “Mewujudkan Indonesia sebagai Lumbung pangan Dunia Tahun 2045”. Saya rasa, orang-orang yang mengenal; yang masih memiliki; atau pernah memiliki lumbung akan merasa senang. Tapi, mengapa lumbung saya sampai roboh beberapa saat lalu? Atau slogan itu memang tidak melibatkan lumbung yang ketinggalan zaman seperti itu?
Cita-cita pemerintah menjadikan Indonesia sebagai lumbung pangan dunia adalah cita-cita “indah”, tapi masalahnya, lumbung saya aja roboh, kok. Hal yang mungkin terjadi adalah slogan akan tetap sebagai slogan atau hanyut kayak kenangan. Saya membayangkan, seandainya sirkulasi padi menjadi enam atau tujuh bulan: paling tidak, saya akan akrab dengan berbagai makanan olahan yang dulu dianggap makanan kejepit.
Barangkali, hal-hal yang dulu “menjepit” juga sudah berevolusi; tidak punya uang mungkin adalah “kejepit” yang sesungguhnya—tapi sialnya, uang tidak bisa diolah seperti makanan—mungkin itu alasan mengapa orang-orang sekarang lebih menghargai uang dan sulit menghargai makanan. Jangankan mengolah ulang makanan yang tersisa kemarin malam, sisa makanan yang baru dimasak pun bisa dibuang begitu saja.
Jika siklus padi itu kembali—setidaknya—kita bisa lebih menghargai makanan, atau mungkin ada jenis masakan baru dari olahan makanan sisa, dan tentunya, bila sirkulasi padi masih bertahan seperti dulu, barangkali lumbung akan memiliki nilai sebagaimana mestinya; meskipun tidak menutup kemungkinan tetap berevolusi menjadi lumbung yang tidak menyimpan padi, tetapi “dolar”.
Eh, ngomong-ngomong, lumbung yang dijadikan kamar hotel di daerah pariwisata juga sama nasibnya dengan lumbung saya. Ya, ya, lumbung yang menyimpan “dollar” itu kini juga “roboh” dihantam pandemi. Dan orang-orang mulai lagi bicara soal ketahanan pangan… [T]
MERAYAKAN Hari Kemerdekaan memang bukan sebuah keharaman. Wajar saja rakyat Indonesia merayakannya. Betapa tidak, karena kemerdekaan ini diraih dengan iuran darah para pejuang terd...
Semalam di tengah gempita dentuman suara sound sistem, saya mengkhayal dibayar 150 juta untuk mengajar 34 jam per minggu, wah pasti kaki saya tidak akan pernah pegal saat berdiri d...
KETIKA mengantar seorang teman untuk membeli sepatu sebagai keperluan bekerja di sebuah instansi pemerintah, kami sempat terlibat obrolan singkat yang pada intinya alas kaki tidak...
BANGKUNG mepalu adaang di Buleleng, jeg pasti rame! Asal gratisss! Iya, babi betina saling sruduk digelar di Buleleng, pasti ramai penontonnya. Apalagi Slank pentas gratisan. Kutik...
MENJELANG Hari Galungan biasanya banyak warga adat menggelar karya gede di Pura. Karya Gede di sebuah Pura merupakan hari yang ditunggu-tunggu warga. Di situ banyak orang akan mema...
ADA semacam mitos yang tampaknya bisa menghantui keluarga Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Buleleng dalam Pilkada, Februari 2017. Yakni, kenyataan bahwa sejak era refor...
AKU adalah ruh sebuah negeri. Negeri nun jauh di sana. Tubuhku bersandar pada pegunungan yang berbaris rapi. Di hadapan mataku terhampar laut utara yang begitu tenang. Mungkin kare...
HALO, kawan sebangsa dan setanah air, sudah makan apa hari ini? Tahu? Tempe? Semoga Tuhan selalu memudahkan rejeki kita, agar tahu dan tempe selalu dapat terbeli. Tahu dan tempe m...
KISAH percintaan memang tak pernah habis jika dibicarakan. Virus-virus cinta dapat tumbuh di mana saja dan kapan saja. Tak seorangpun bisa menduga hal tersebut. Salah satu ajang ya...
I dan Ni oleh banyak orang dianggap title “wong jaba” padahal ini adalah honorific yang generic. I dan Ni adalah honorific. I semacam Mr dan Ni semacam Ms. I dan Ni bukan hanya di...