Seorang guru besar bidang Antropologi yang sangat konsisten menjaga kultur ilmiah, baik di kampus maupun di luar kampus, Prof. Dr. Nengah Bawa Atmadja, MA., memasuki masa purnatugas sebagai pengajar di Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Singaraja, per 17 Februari 2021.
Seorang muridnya yang kemudian menjadi sahabat kental di dunia pendidikan dan penelitian, Dr. Luh Putu Sendratari, M.Hum., mempersembahkan sekumpulan puisi kepada Sang Profesor, guru yang amat dikaguminya itu. Puisi? Ya, puisi.
Sungguh menarik. Puisi, karya sastra yang kerap dicibir sebagai tumpukan kata-kata khayalan, dipersembahkan kepada seorang guru besar yang selama ini dikenal sangat ketat memegang teguh sikap-sikap ilmiah. Kesannya berlawanan, tapi dua hal itu -- puisi dan karya ilmiah – sesungguhnya punya hubungan erat. Khayalan biasanya tumbuh juga dari pertanyaan-pertanyaan ilmiah. Karya ilmiah banyak muncul dari tumpukan khayal di kepala.
DI AWAL KU MENGENALMU Pantai Indah, Medio Nopember 2020
Awal aku tak mengenalmu sebagai guru Yang kukenal hanyalah sosok yang BIASA SAJA Persisnya aku tak mengenalmu Aku asyik dengan duniaku sebagai mahasiswa baru Penuh gaya Pesolek Cuek bebek Gagap, maklum saja migran baru Tentangmu di awal tatapanku Yang kutau KAU hanyalah Engkau Sosok yang Kurus Maaf … Lusuh Kuyu… Maaf LAGI: tidak kaya, tinggal di rumah kontrakkan Tidak bermobil Biasa dengan vespa bututmu… Engkau saat itu bukan guru yang populer Cirinya… Akrab sama murid Doyan becanda Jadi tempat curhat… Kayaknya hanya itu yang kutahu, ciri guru popoler saat aku jadi muridmu di ERA LALU Jalan setapak mengarahkanku tentangmu lebih dari sekedar yang kutatap di awal Di lembah gunung Di amparan sawah yang amat luas Kaki kecilmu berlari-lari Konon, hati dan kakimu selalu kau bawa berlari Hanya untuk mengejar mimpi Keluar dari stigma anak desa yang… Kucel Miskin Lugu Yang teramat menyakitkan stigma kebodohan Semangat yang kuat Hasrat membara Dan ternyata tidak cukup itu, Engkau termasuk anak yang berasal dari Tuan Tanah Pantas saja, jenjang sekolahmu lancar Entah latah atau memang mimpi yang dirajut dari awal, Takdirmu membawa pilihanmu masuk di sekolah keguruan Akhirnya, Lahirlah anak di sudut desa yang paling sudut Di lembah gunung dan hamparan sawah Dengan Ke Riang an Pulang Membawa SELEMBAR ijazah Yang menjadi gengsi keintelektualanmu Sebagai anak desa di desa yang paling sudut Menjadi ilmuwan terhormat
Itu adalah puisi Dr. Luh Putu Sendratari, M.Hum., yang ditulis bersama suaminya, Dr. I Ketut Margi, M.Si., yang juga pengajar di Undiksha Singaraja.
Puisi itu terkumpul dalam buku puisi berjudul “Beri Aku Secarik Kertas, Antologi Puisi Persembahan untuk Prof. Dr. Nengah Bawa Atmadja, M.A.” yang diterbitkan Mahima Institute Indonesia. Seperti juga puisi “Di Awal Ku Mengenalmu”, puisi lain dalam buku itu semuanya bercerita tentang hubungan Sendratari dan suaminya dengan Prof. Bawa, baik saat kuliah maupun saat sama-sama menjadi pengajar di Undiksha.
Buku puisi persembahan untuk Prof Bawa Atmaja
“Ucap syukur tak terperi atas limpahan kondisi sehat yang telah diberi Sang Pencipta, hingga puisi ini dapat terselesaikan sesuai rencana. Perasaan senang dan gejolak emosi menyertai selama proses penyelesaiannya. Tanpa pelibatan emosi kiranya puisi ini tidak akan pernah selesai,” kata Luh Putu Sendratari.
Luh Putu Sendratari menuturkan, latar lahirnya puisi ini semata-mata didorong oleh memori panjang yang mengikuti perjalanan kami bersama Prof Bawa Atmadja. “Perjalanannya yang penuh dinamika tampaknya sayang jika hanya disimpan dalam benak saja,” ujarnya.
Dengan menulis puisi, Luh Putu Sendratari tentu saja tak hendak menjadi penyair, atau bercita-cita menjadi penyair. Dalam kata pengantarnya, ia menyebutkan bahwa ia sangat menyadari kemampuan menulis puisi jauh dari standar sastrawan pada umumnya. Namun, berbekal keberanian mencoba dan semangat menuangkan unek-unek ternyata tidak sanggup mengerem kehendak melahirkan puisi untuk dipersembahkan kepada guru/ bapak/teman yang legend, Prof. Dr. Nengah Bawa Atmadja, MA.
Jika kata-kata ilmiah tak sanggup menyampaikan perasaan, maka puisi bisa membantu untuk mengangungkapkannya.
Guru Besar yang Sederhana
Luh Putu Sendratari mulai mengenal Prof Bawa pada tahun 1980, saat iamulai menjadi mahasiswa di Jurusan Sejarah, FKG (FakultasKeguruan) Universitas Udayana yang kini menjadi Undiksha.
“Kesan mendalam yangtetap melekat terhadap beliau adalah penggunaan bahasayang sederhana sehingga mudah bisa mengerti apa yangdijelaskan. Prinsip yang beliau pegang jika bisa dengan caramudah mengapa dibuat sulit. Kesan lainnya adalah jenaka,” kata Luh Putu Sendratari.
Meski bahasanya sederhana dan jenaka, Prof Bawa tak boleh diragukan konsistensinya terhadap kultur ilmiah yang senantiasa berupaya memegang teguh sikap-sikap ilmiah sebagai seorang ilmuwan. Dengan konsistensinya itulah Prof Bawa menjadi figur yang selalu dijadikan orientasi dalam spirit mengajegkan budaya akademik.
Kenapa puisi?
“Agak aneh memang seorang Prof Bawa yang penulis kenal sebagai sosok ilmuwan yang tidak familiar dengan puisi atau karya seni lainnya, tiba-tiba disodorkan bacaan puisi oleh anak didiknya. Namun, puisi ini memang sengaja disiapkan untuk melengkapi perhatian Prof Bawa terhadap hal yang tidak biasa,” kata Luh Putu Sendratari.
Luh Putu Sendratari meyakini puisi pastilah bahasa bermantra yang memuat rasa dari penulisnya, yakni perasaan tertentu terhadap sesuatu yang dianggap penuh makna. Melahirkan puisi kiranya tidak perlu menunggu peristiwa luar biasa yang akan menginspirasi, terhadap hal yang tampak biasa-biasa saja bisa menjadi puisi yang bermakna.
“Misalnya, kami pernah jalan-jalan mendalami fenomena badak yang dihormati, mengamati salib di tengah sawah. Semua itu pengalaman unik bersama Prof Bawa yang sekaligus suatu situasi yang menggugah naluri ilmiah kami sebagai anak didiknya. Hanya melalui jalanjalan, mengendap dalam memori, menjadi puisi. Semoga, Ida Sang Hyang Widhi Wasa senantiasa menjaga simakrama kami selaku anak didiknya dengan senantiasa mengingat spirit akademik yang telah ditanamkan. Astungkara!” cerita Sendratari.
Prof . Dr. Nengah Bawa Atmadja, MA., lahir di Tabanan, tepatnya di Desa Riang gede, Penebel, 17 Februari 1951. Ia menyelesaikan S1 di IKIPN Malang, lalu mendapatkan gelar magister dan doktor di Universitas Indonesia. Selain mengajar di Undiksha, ia juga mengajar di pascasarjana Unud Denpasar. Selain itu juga mengajar di pascasarjana UNHI Denpasar dan IHD (kini Universitas Hindu Darma IGB Sugriwa). Jabatan terakhirnya di Undiksha adalah Dekan Fakultas Hukum dan Ilmu Sosial.
Sebagai seorang profesor dalam bidang ilmu-ilmu sosial, ia punya perhatian sangat besar terhadap persoalan-persoalan adat, budaya dan tradisi di Bali. Bukunya yang ditulisnya banyak sekali. Dari yang banyak itu terdapat hasil-hasil penelitian yang kerap menjadi perbincangan hangat di Bali, seperti tajen dan jogged porno.
Soal tajen ia menulis buku berjudul “Tajen di Bali : Perspektif Homo Complexus”. Buku itu ditulis Anantawikrama Tungga Atmadja, Luh Putu Sri Ariyani dan diterbitkan Pustaka Larasan dan IBBik Undiksha, Tahun : 2015. Soal joged porno, ia menulis buku “Komodifikasi tubuh perempuan: joged" ngebor" Bali”.
Ingin tahu lebih banyak tentang Prof Bawa, baca buku-bukunya. Baca seperempat saja dari semua buku dan artikelnya di berbagai jurnal dipastikan kadar intelektual kita akan menggelembung. Apalagi baca semua bukunya. Apalagi ngobrol sama Pak Prof.
Selamat menjalankan purnatugas, Pak Prof. Mengabdilah terus untuk ilmu pengetahuan…. [T]
JIKA menyaksikan Lomba Baca Puisi tingkat SMP dalam rangka Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, kekhawatiran bahwa generasi muda semakin jauh dari sastra tampaknya tidak berala...
UJUNG telunjuk dan jari tengah itu bergerak lincah di atas papan beroda sepanjang tak lebih dari sepuluh sentimeter. Sesaat papan skateboard mungil itu meluncur, lalu melompat. La...
PEMBUKAAN Singaraja Literary Festival (SLF), Jumat, 3 Juli 2026, berlangsung berbeda dari kebiasaan. Bukannya diawali dengan tari penyambutan tradisional seperti Panyembrama, Seka...
SOSOK-SOSOK perempuan bergerak perlahan menari di atas panggung, mengenakan caping petani dan membawa slepan (daun kelapa yang sudah tua) sebagai simbol kedekatan dengan alam. Mel...
KALAU puisi adalah sebuah negeri, maka Dr. Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd. adalah warga-negara yang paling mencintai negerinya. "I love poetry", tulisnya dalam buku barunya M...
PADA 3 Juli 2026 digelar pameran senirupa yang cukup menarik, pameran senirupa ini, menurut saya, lahir dari keyakinan bahwa seni adalah ‘bahasa universal’ yang mampu menjembatani...
DUA PULUH lima tahun lalu, tepat saat 2 bulan setelah Milenium ketiga dimulai, segerombol anak muda yang menyebut diri mereka Kamasra (Keluarga mahasiswa Seni Rupa) STSI Den...
MANUSIA adalah makhluk yang gemar mengembara.
Tubuhnya berada di sini, tetapi pikirannya berlari ke hari esok. Atau sebaliknya, tubuhnya telah meninggalkan kemarin, tetapi bati...
Sorak-sorai penonton menyemangati temannya ketika tampil sebagai peserta lomba Matajog (egrang bambu) dalam ajang Jantra Tradisi Bali serangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII,...