Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar
10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi pada tulisan. Satu kolom pada...
Sebanyak 27 perupa menggelar pameran bertajuk ‘’Move On’’ di Bidadari Art Space, Mas-Ubud yang berkolaborasi dengan Lepud Art Management. Pameran yang berlangsung pada 13 Februari hingga 13 Maret 2021.
Para perupa itu; Made Wiradana, Kadek Armika, Nyoman Sujana Kenyem, Romi Sukadana, Anyon Muliastra, Dedy Reru, Loka Suara, Wijaya Sutha, Duatmika Bodrex, Made Arya Palguna, I Ketut Tenang, I Wayan Sudarna Putra, Made Suparta Wijaya, I Made Subrata, I Kadek Dedy Sumantra Yasa, Ito Joyo Atmojo, I Ketut Suwidiarta, Made "Kaek" Dharma Susila, Putu Bonuz Sudiana, Teguh Ritma Iman, I Made Dolar Astawa, I Kadek Susila Dwiyana, Ponk Hantaguna, Nyoman Adiana, Kamau Abayomi, Handy Saputra dan I Gede Made Surya Darma.
Di tengah situasi dan kondisi seperti ini, para perupa hadir membawa optimisme. Mereka berbagi cerita lewat bahasa rupa dan mencoba membuka ruang kontemplasi dan apresasi, sehingga muncul kegairahan baru pada era baru, untuk selalu bergerak, move on, berkarya dan mengambil ikmah positif dari pandemi.
Pameran ini digelar mengambil moment Valentine, dikaitkan dengan situasi bangsa saat ini. Dalam konteks ini Valentine sesungguhnya tak hanya sempit bermakna cinta kasih dua pasangan. Tetapi bisa dimaknai lebih luas, yakni kasih sayang yang hakiki terhadap sesama, dan juga alam lingkungan beserta isinya. Terlebih, ketika warga dunia sedang berjuang menghadapi pandemi Covid-19, menabur spirit kasih sayang, suatu keniscayaan. Ketika wabah pandemi Covid -19 makin meluas, tak ada kata lain selain bergotong royong menanggulangi pandemi, saling menjaga, dan saling membantu.
Owner Bidadari Art Space, Hiromi Wada menyambut baik pameran MoVe On ini. Baginya "move on" penting dilakukan pada masa pandemi. Move on, bermakna terus bergerak, terus berubah, tidak kekal. Ketidakkekalan menempati inti pemikiran Buddha dan merupakan norma di dunia. Semuanya terus berubah. Pandemi ini telah mendorong transisi besar bagi semua orang, termasuk mereka yang mencari nafkah pada seni.
Orang harus terus berubah. Untuk menghadapi pandemi ini, tinggalkan sistem lama dan buat yang baru. Itu juga menciptakan produk baru. Setiap orang dihadapkan pada siklus seperti itu. Hal yang sama berlaku untuk Bidadari Art Space, yang telah mendukung, tidak hanya para seniman, tetapi juga produsen makanan, kerajinan dan produsen lainnya.
Sementara itu I Gede Made Surya Darma, Founder Lepud Art Management menyampaikan, pada masa pandemi ini tentu semua pihak merasakan kegelisahan dan kekhawatiran yang sama, entah kapan kondisi pelik ini berakhir. Lepud Art Management mencoba berbagi cerita dalam karya seni tentang kegelisahan kawan-kawan seniman melalui pameran seni rupa bertema "Move On" ini. Tema itu diambil untuk mengajak kita semua, para seniman dan penikmat seni, agar bangkit dari keterpurukan di masa pandemi ini. Dengan kemajuan teknologi, kita mencoba beradaptasi dengan keadaan. Dengan adanya pandemi ini, kita saling berbagi cerita, dalam kegiatan kesenian.
‘’Berbekal pengalaman berorganisasi membuat festival dan pameran senirupa, kami hadir bergandengan tangan dengan semua pihak untuk menjaga atmosfir berkesenian. Kali ini kami bergandengan tangan dengan Bidadari Art Space,” kata Surya Darma, yang juga perupa yang telah banyak berpameran di dalam dan luar negeri.
Atas terselenggaranya pameran ini Surya Darma menghaturkan ucapan terima kasih kepada Ibu Hiromi Wada dan Bapak Made Sudiana yang sudah memfasilitasi pameran. Demikian pula ucapan terima kasih disampaikan kepada Prana Santi dan Mas Ito Atmojo yang sudah mendonasi pameran ini. Juga Bapak Handy Saputra telah membeli lukisan Surya Darma, untuk membiayai pameran tersebut. Termasuk semua kawan seniman yang sudah ikut bergabung dalam pameran kali ini. “Semoga semua kebaikan datang dari segala penjuru dan kita selalu dilimpahkan kesehatan dan kerahayuan,’’ ujar Surya Darma. [T][*]
10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi pada tulisan. Satu kolom pada...
SEKAA Dramatari Arja Sudhamala ini baru pertamakali pentas di ajang Pesta Kesenian Bali (PKB). Bahkan, sekaa kesenian tradisional Bali yang memadukan unsur drama, tari, dan nyanyi...
LAGU “A Salty Dog” oleh Procol Harum (1969), dengan lirik karya Keith Reid, adalah elegi tentang pelayaran terakhir, tentang manusia yang berangkat dengan keberanian, namun akhirn...
PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa kehadiran Presiden Prabowo Subianto sempat menimbu...
“Kalau mau menjadi penulis hebat, tulis yang unik dan autentik.” Kalimat itu meluncur dari mulut sastrawan Bali, Gde Aryantha Soethama, dalam acara ‘NGERUMPI’: Ngobrol Se...
MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa. Apalagi ketika ia mulai berbicara dengan logat...
DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku diajari bahwa Barong adalah pelindung, bukan pemangsa....
Yang Tua yang Tak Mau Purna Segara punya pantai sebagai batas gelombangSungai punya sempadan untuk batas aliranTetapi tidak bagi yang tua yang tak mau purnaMereka tak punya bat...
“Mari kawan bersama kita bekerja, bersihkan lingkungan….” ITU adalah penggalan tembang yang menjadi salah satu hal menarik dari pementasan kesenian janger tradisi d...