Michel Platini Menuai Karma di Stade de France
Menjelang kick-off, sambil sesekali menatap langit-langit Stade de France, Antoine Griezmann khidmat menyanyikan La Marseillaise, ekspresi Christiano Ronaldo datar-datar saja melaf...
KI HAJAR DEWANTARA (KHD) mendidik diri dengan keras, tekun, lalu membaginya dalam Taman Siswa yang beliau kembangkan.
KHD bukan produk pendidikan Belanda kolonial. Bukan produksi kampus. Sekalipun KHD di masa mudanya menamatkan pendidikan dasar di ELS (Sekolah Dasar Eropa/Belanda), dan sempat melanjut ke STOVIA (Sekolah Dokter Bumiputera) — tidak sampai tamat karena sakit — ia "bukan produk kolonial". KHD bekerja sebagai penulis dan wartawan di Sediotomo, Midden Java, De Expres, Oetoesan Hindia, Kaoem Moeda, Tjahaja Timoer, dan Poesara. Sebagai penulis KHD dikenal sangat ulet dan handal, dengan bahasa lugas anti kolonial dan feodalime.
Sebelum berpulang KHD sempat menerima gelar Doctor Honoris Causa (DR HC). Namun, kelihatannya ini tidak mungkin terjadi tanpa “jebakan Bung Karno”. Kalau saja beliau tidak dipaksa, dan "bercanda-canda dan dirayu" Bung Karno dalam menerima gelar DR HC, beliau tidak membutuhkan gelar itu di masa tuanya. Beliau kelihatannya "dijebak" Bung Karno, akhirnya terselenggara penganugrahan tersebut.
Soekarno, bagaimanapun seorang presiden, sekalipun tetap selamanya "murid" KHD, tampak dalam foto penganugrahan DR HC itu mereka dengan malu-malu dan tertawa-senyum melakukan seremonial kecil penganugrahan DR HC, dengan meminjam stempel UGM. Ini momentum baik agar UGM sah menjadi kampus negara dengan penganugrahan DR HC ini. Jadi yang diangkat sebenarnya bukan yang menerima DR HC — karena KHD tidak perlu diangkat-angkat lagi namanya telah harum melambung ke langit — tapi kampus UGM yang diangkat namanya ketika KHD mau menerima DR HC.
Sebenarnya bukan kali pertama Soekarno "menjebak" KHD.
Ketika Indonesia merdeka, nama KHD langsung dimasukkan menjadi Menteri Pendidikan mendampingi Soekarno. Namun, KHD mengundurkan diri karena alasan dunia pendidikan yang ia bangun tidak sama dengan dunia pendidikan yang dicita-citakan. KHD mundur 3 bulan kemudian.



Tiga bulan "dijebak" Soekarno, mundur dan memilih untuk mendampingi Sekolah Taman Siswa. Hatinya bukan "hati pejabat". Jiwanya mengajar, bersama anak-anak dan Taman Siswa, KHD bukan sosok yang silau jabatan.
Pemberian gelar Doctor Honoris Causa kepada Ki Hajar Dewantoro dilangsungkan di Siti Hinggil Kraton Yogyakarta, pada hari Dies Natalis jang ke VII tgl. 19 Desember 1956. Tempat pengukuhan itu tidak di kampus, tapi di Kraton Yogyakarta, dimana memang KHD bagian dari keluarga besar kebangsawanan Yogyakarta. Mungkin saja kalau tidak dilantik di "rumah sendiri" dan dihadiri Soekarno secara khusus, kemungkinan tidak hadir dan tidak bersedia diberikan DR HC.
Begitulah DR HC kepada KHD itu "diboncengi" Presiden Soekarno. Bukti bakti dan hormat seorang guru Taman Siswa kepada pendiri Taman Siswa — Soekarno pernah menjadi guru di Taman Siswa Bandung di masa mudanya.
Dua tahun setelah pengukuhan gelar tersebut KHD berpulang di Yogyakarta, tanggal 28 April 1959.

Soekarno, sekali lagi dengan bakti mendalam, menjadikan hari lahir KHD tanggal 2 Mei sebagai Hari Pendidikan Nasional, melalui Surat Keputusan Presiden RI No. 305 tahun 1959 yang tertanggal pada 28 November 1959.
Soekarno tiada henti terkagum dan mengakui tiada sosok pendidikan yang sebanding dengan KHD. Cita-cita luhur pada pendidikan manusia tidak pernah pupus. Tidak bisa ditukar dengan jabatan apapun.
Pidato Seokarno tentang pendidikan yang monumental adalah "Bertjita-tjitalah setinggi bintang di langit!" Ini diucapkan oleh Presiden Soekarno pada peringatan hari pendidikan nasional di Istana Olah raga Gelora Bung Karno Senajan Djakarta pada tgl. 2 Mei 1964.

Dengan menjadikan kelahiran KHD sebagai Hari Pendidikan, Soekarno selanjutnya memberi amanat agar cita-cita KHD tidak padam. Kisah sejarah dunia pendidikan di Indonesia perlu tahu dan tetap pengenanng, pada 3 Juli 1922, Ki Hajar mendirikan Nationaal Onderwijs Instituut Tamansiswa atau Perguruan Taman Siswa, yang bertujuan "memberikan kesempatan dan hak pendidikan yang sama bagi para pribumi jelata Indonesia seperti yang dimiliki para priyayi atau orang-orang Belanda".
Perguruan Taman Siswa berkembang di seluruh Jawa sampai di Bali. Pendidikan awal kemerdekaan tidak pernah bisa membayangkan bisa tumbuh tanpa Taman Siswa.
Kesahajaan Ki Hajar Dewantara tercermin dalam kebijakan pendidikannya yang terbuka untuk rakyat jelatah atau semua orang. Pada titik ini kita penting belajar pada KHD, bahwa pendidikan untuk semua, dan pengetahuan untuk semua. [T]
PIDATO PRESIDEN SOEKARNO DALAM PENGANUGRAHAN DOCTOR HONORIS CAUSA KI HAJAR DEWANTARA
— Siti Hinggil Kraton Yogyakarta, 19 Desember 1956.
"Saudara-saudara sekalian, saja akan berbitjara singkat.
"Nama saja ditjantumkan dalam programa atjara resepsi ini, untuk ikut-ikut mengutjapkan kata sambutan, atas promosi Ki Hadjar Dewantara scbagai Doktor Honoris Causa.
"Saja akan bitjara singkat, oleh karena pada malam ini, Ki Hadjar Dewantara telah ditjondro oleh pelbagai pembitjara pembitjara, pembitjara-pembitjara itu tadi saudara-saudara menjondro Ki Hadjar Dewantara sebagai orang daripada keluarga Taman Siswa.
"Saudara Sarino bitjara sebagai orang Taman Siswa, saudara Ketua Panitia bitjara sebagai orang keluarga Taman Siswa, saudara Soendoro bitjara pandjang-lebar sebagai orang Taman Siswa djuga. Saja akan bitjara tidak sadja sebagai orang dari keluarga Taman Siswa, tetapi saja bitjara atas nama "SEGENAP RAKJAT INDONESIA JANG DELAPAN PULUH-DJUTA". Saja bitjara atas nama "NEGARA REPUBLIK INDONESIA”
"Di dalam kwalitet itulah saja merasa berbahagia, dapat ikut mengagungkan asmanja Ki Hadjar Dewantara. Ki Hadjar Dewantara adalah putera Indonesia jang Besar. Bahkan bagi saja persoonlijk, saja selalu menganggap Ki Hadjar Dewantara sebagai saja punja saudara tua, sebagai saudara Kangmas, bahkan sebagai diutjapkan saudara Semaun, pula sebagai guru saja.
"Di dalam pemberian gelar Doktor Honoris Causa, sebenarnja Universitas Gadjah Mada kurang tepat dan kurang adil, djikalau Universitas itu mendahulukan saja daripada Ki Hadjar Dewantara.
"Ki Hadjar Dewantara sebagai tadi saja katakan, adalah seorang putera Indonesia jang besar tiap-tiap bangsa saudara-saudara, tiap-tiap bangsa jang besar, mempunjai putera-putera jang besar. Tiap-tiap bangsa jang besar mempunjai eksponen-eksponen jang besar kalibernja. Maka bangsa Indonesia bolehlah berbahagia, mempunjai seorang eksponen jang besar sebagai Ki Hadjar Dewantara.
"Saja persoonlijk, saudara-saudara, merasa berbahagia, pada waktu saja masih muda dapat "NGLESOT” pada kaki Ki Hadjar Dewantara. Saja termasuk pemuda-pemuda jang berbahagia, dapat maguru kepada orang-orang Indonesia jang besar. Maguru kepada almarhum Kjai Hadji Achmad Dahlan, maguru kepada Doktor E.F.E. Douwes Dekker jang kemudian bernama Setiabudi. Maguru kepada Dokter Tjipto Mangunkusumo, maguru kepada Raden Mas Suwardi Surjaningat jang kemudian bernama Ki Hadjar Dewantara maguru kepada Saudara Semaun, jang saja unduh dari Moskow, maguru pada eksponen eksponen lain. Oleh karena itulah saja dapat merasakan, saudara, bahwa bangsa Indoneaia Insja Allah Subchanahu watta ‘ala, dapat mendjadi suatu bangsa jang besar. Oleh karena sudah ternjata, bangsa Indonesia sudah dapat melahirkan putera puteranja jang besar.
"Bagi saja saudara-saudara, jang sekarang duduk dalam dunia alam politik, bagi saja terutama sekali saja melihat Ki Hadjar Dewantara bersama-sama Dr. E.F.E. Douwes Dekker Setiabudi, bersama dengan Dokter Tjipto Mangunkusumo, sebagai bapaknja politilk Nasionalisme Indonesia. Alangkah baiknja, djikalau pemuda-pemuda djaman sekarang, jang diantara mereka itu ada jang mengedjek Ki Hadjar wantara, menginsjafi bahwa Ki Hadjar Dewantara adalah salah seorang bapak politik nasionalisme Indonesia.
"Malahan saudara saudara, nama Ki Hadjar Dewantara di dalam waktu jang achir-achir ini, hidup berkobar-kobar lagi di dalam dada saja. Oleh karena saja di waktu jang achir-achir ini, sedang prihatin, merasakan perpetjahan-perpetjahan, pertikaian-pertikaian di kalangan bangsa Indonesia sendiri. Saja ingat, bahwa kira-kira 33 tahun jang lalu, Ki Hadjar Dewantara, Dr. E.F.E. Douwes Dekker Douwes Dekker, Dokter Tjipto Mangunkusumo, sebagai pemimpin pemimpin dari Indische Partj, telah memberi tjontoh kepada bangsa Indonesia, apa jang harus diperbuat oleh pemimpin-pemimpin partai politik djikalau ada kekatjauan di dalam kalangan bangsa.
"Pada waktu itu, Ki Hadjar Dewantara, Dokter Tijpto Mangunkusumo, Dr. E.F.E. Douwes Dekker dan beberapa nasionalis-nasionalis lain, jang mendjadi pemimpin dari Indische Partij, oleh karena dilihat bangsa Indonesia terlalu terpetjah – belah oleh partai-partai politik, maka atas inisiatip Dr. E.F.E. Douwes Dekker, Tjipto Mangunkusumo, Ki Hadjar Dewantara, dikuburkan Indische Partij, saudara-saudara.
"Untuk memberi tjontoh kepada bangsa Indonesia, bahwa persatuan bangsa adalah harus diutamakan di atas segala hal. Maka oleh karena itu saudara-saudara, saja minta kepada segenap rakjat Indonesia, supaja merenungkan hal ini.
"Manakala kita semuanja beriang gembira, melihat bahwa Ki Hadjar Dewantara dimuliakan oleh Universitas Gadjah Mada, sebagai Doktor Honoris Causa dalam ilmu Kebudajaan.
"Manakala kita beriang gembira, bahwa salah seorang putera Indonesia jang besar, mendapat kehormatan besar di atas persadanja ilmu pengetahuan dan ilmu kebudajaan, marilah kita semuanja, memikirkan akan nasibnja bangsa Indonesia dikemudian hari, jang kemudian hari itu tergantung dari pada keadaan dihari sekarang. "Bersatulah rakjat Indonesia, sebagai jang selalu diandjurkan.
Menjelang kick-off, sambil sesekali menatap langit-langit Stade de France, Antoine Griezmann khidmat menyanyikan La Marseillaise, ekspresi Christiano Ronaldo datar-datar saja melaf...
MASIH ingat dulu orang tua kita sering menasehati dan melarang agar tidak duduk di bantal yang ada di tempat tidur. Jika hal itu dilakukan konon bisa membuat bisulan atau dalam ba...
Judul Film: Petani Terakhir # Sutradara: Dwitra J. Ariana # Produser: Maria Ekaristi & Agung Bawantara # Produksi: Sanggar Siap Selem, 2016. PERMASALAHAN kehidupan petani di In...
DI Bali, selama berabad-abad, seni-seni yang berakar pada tradisi, terus lahir. Dan tentu saja sangat beragam. Jaman dulu seni tak hanya lahir dari tangan seniman karawitan seperti...
Pelawak drama gong, I Wayan Tarma (62) yang terkenal dengan nama Dolar, meninggal Sabtu (9/7) sekitar pukul 05.30 Wita. Ia meninggal ketika seni drama gong yang melambungkan namany...
DNA literasi berbangsa terbentuk sungguh unik sejak dulu kala. Nenek moyang bangsa Indonesia merupakan penutur andal di dunia. Ini dibuktikan dengan adanya beragam cerita rakyat da...
TRADISI adalah perayaan kebersamaan. Juga di Bali. Untuk menjaga kebersamaan nyama Bali mempertahankan sekaligus tetap merayakan tradisi di era digital ini. Sebut saja tradisi magi...
GELIAT seni di Bangkalan, Pulau Madura, Jawa Timur, kembali semarak. Di bulan ramadhan ini gaung kegiatannya sampai merambah ke Desa Arosbaya. Seperti yang terjadi Minggu (3/7). Se...
PERADABAN dunia mengenal sedikit orang hebat. Einstein, Newton, Galileo, adalah manusia-manusia hebat, seperti juga Napoleon, Socrates, Machiavelli, Karl Marx, Adam Smith, Shakespe...
UNGKAPAN “apalah artinya sebuah nama”, bagi saya memiliki makna kebalikannya. Dalam realitas budaya dan adat, nama memiliki banyak arti dan makna, mulai dari yang sederhana hingg...