Belajar Kesetiaan dari Anjing Bali
JANGAN mengaku setia kalau belum pelihara anjing bali. Jangan mengaku pecinta anjing kalau makan daging anjing. Jangan mengaku petugas peternakan kalau kerjanya membunuh anjing sem...
KI HAJAR DEWANTARA (KHD) mendidik diri dengan keras, tekun, lalu membaginya dalam Taman Siswa yang beliau kembangkan.
KHD bukan produk pendidikan Belanda kolonial. Bukan produksi kampus. Sekalipun KHD di masa mudanya menamatkan pendidikan dasar di ELS (Sekolah Dasar Eropa/Belanda), dan sempat melanjut ke STOVIA (Sekolah Dokter Bumiputera) — tidak sampai tamat karena sakit — ia "bukan produk kolonial". KHD bekerja sebagai penulis dan wartawan di Sediotomo, Midden Java, De Expres, Oetoesan Hindia, Kaoem Moeda, Tjahaja Timoer, dan Poesara. Sebagai penulis KHD dikenal sangat ulet dan handal, dengan bahasa lugas anti kolonial dan feodalime.
Sebelum berpulang KHD sempat menerima gelar Doctor Honoris Causa (DR HC). Namun, kelihatannya ini tidak mungkin terjadi tanpa “jebakan Bung Karno”. Kalau saja beliau tidak dipaksa, dan "bercanda-canda dan dirayu" Bung Karno dalam menerima gelar DR HC, beliau tidak membutuhkan gelar itu di masa tuanya. Beliau kelihatannya "dijebak" Bung Karno, akhirnya terselenggara penganugrahan tersebut.
Soekarno, bagaimanapun seorang presiden, sekalipun tetap selamanya "murid" KHD, tampak dalam foto penganugrahan DR HC itu mereka dengan malu-malu dan tertawa-senyum melakukan seremonial kecil penganugrahan DR HC, dengan meminjam stempel UGM. Ini momentum baik agar UGM sah menjadi kampus negara dengan penganugrahan DR HC ini. Jadi yang diangkat sebenarnya bukan yang menerima DR HC — karena KHD tidak perlu diangkat-angkat lagi namanya telah harum melambung ke langit — tapi kampus UGM yang diangkat namanya ketika KHD mau menerima DR HC.
Sebenarnya bukan kali pertama Soekarno "menjebak" KHD.
Ketika Indonesia merdeka, nama KHD langsung dimasukkan menjadi Menteri Pendidikan mendampingi Soekarno. Namun, KHD mengundurkan diri karena alasan dunia pendidikan yang ia bangun tidak sama dengan dunia pendidikan yang dicita-citakan. KHD mundur 3 bulan kemudian.



Tiga bulan "dijebak" Soekarno, mundur dan memilih untuk mendampingi Sekolah Taman Siswa. Hatinya bukan "hati pejabat". Jiwanya mengajar, bersama anak-anak dan Taman Siswa, KHD bukan sosok yang silau jabatan.
Pemberian gelar Doctor Honoris Causa kepada Ki Hajar Dewantoro dilangsungkan di Siti Hinggil Kraton Yogyakarta, pada hari Dies Natalis jang ke VII tgl. 19 Desember 1956. Tempat pengukuhan itu tidak di kampus, tapi di Kraton Yogyakarta, dimana memang KHD bagian dari keluarga besar kebangsawanan Yogyakarta. Mungkin saja kalau tidak dilantik di "rumah sendiri" dan dihadiri Soekarno secara khusus, kemungkinan tidak hadir dan tidak bersedia diberikan DR HC.
Begitulah DR HC kepada KHD itu "diboncengi" Presiden Soekarno. Bukti bakti dan hormat seorang guru Taman Siswa kepada pendiri Taman Siswa — Soekarno pernah menjadi guru di Taman Siswa Bandung di masa mudanya.
Dua tahun setelah pengukuhan gelar tersebut KHD berpulang di Yogyakarta, tanggal 28 April 1959.

Soekarno, sekali lagi dengan bakti mendalam, menjadikan hari lahir KHD tanggal 2 Mei sebagai Hari Pendidikan Nasional, melalui Surat Keputusan Presiden RI No. 305 tahun 1959 yang tertanggal pada 28 November 1959.
Soekarno tiada henti terkagum dan mengakui tiada sosok pendidikan yang sebanding dengan KHD. Cita-cita luhur pada pendidikan manusia tidak pernah pupus. Tidak bisa ditukar dengan jabatan apapun.
Pidato Seokarno tentang pendidikan yang monumental adalah "Bertjita-tjitalah setinggi bintang di langit!" Ini diucapkan oleh Presiden Soekarno pada peringatan hari pendidikan nasional di Istana Olah raga Gelora Bung Karno Senajan Djakarta pada tgl. 2 Mei 1964.

Dengan menjadikan kelahiran KHD sebagai Hari Pendidikan, Soekarno selanjutnya memberi amanat agar cita-cita KHD tidak padam. Kisah sejarah dunia pendidikan di Indonesia perlu tahu dan tetap pengenanng, pada 3 Juli 1922, Ki Hajar mendirikan Nationaal Onderwijs Instituut Tamansiswa atau Perguruan Taman Siswa, yang bertujuan "memberikan kesempatan dan hak pendidikan yang sama bagi para pribumi jelata Indonesia seperti yang dimiliki para priyayi atau orang-orang Belanda".
Perguruan Taman Siswa berkembang di seluruh Jawa sampai di Bali. Pendidikan awal kemerdekaan tidak pernah bisa membayangkan bisa tumbuh tanpa Taman Siswa.
Kesahajaan Ki Hajar Dewantara tercermin dalam kebijakan pendidikannya yang terbuka untuk rakyat jelatah atau semua orang. Pada titik ini kita penting belajar pada KHD, bahwa pendidikan untuk semua, dan pengetahuan untuk semua. [T]
PIDATO PRESIDEN SOEKARNO DALAM PENGANUGRAHAN DOCTOR HONORIS CAUSA KI HAJAR DEWANTARA
— Siti Hinggil Kraton Yogyakarta, 19 Desember 1956.
"Saudara-saudara sekalian, saja akan berbitjara singkat.
"Nama saja ditjantumkan dalam programa atjara resepsi ini, untuk ikut-ikut mengutjapkan kata sambutan, atas promosi Ki Hadjar Dewantara scbagai Doktor Honoris Causa.
"Saja akan bitjara singkat, oleh karena pada malam ini, Ki Hadjar Dewantara telah ditjondro oleh pelbagai pembitjara pembitjara, pembitjara-pembitjara itu tadi saudara-saudara menjondro Ki Hadjar Dewantara sebagai orang daripada keluarga Taman Siswa.
"Saudara Sarino bitjara sebagai orang Taman Siswa, saudara Ketua Panitia bitjara sebagai orang keluarga Taman Siswa, saudara Soendoro bitjara pandjang-lebar sebagai orang Taman Siswa djuga. Saja akan bitjara tidak sadja sebagai orang dari keluarga Taman Siswa, tetapi saja bitjara atas nama "SEGENAP RAKJAT INDONESIA JANG DELAPAN PULUH-DJUTA". Saja bitjara atas nama "NEGARA REPUBLIK INDONESIA”
"Di dalam kwalitet itulah saja merasa berbahagia, dapat ikut mengagungkan asmanja Ki Hadjar Dewantara. Ki Hadjar Dewantara adalah putera Indonesia jang Besar. Bahkan bagi saja persoonlijk, saja selalu menganggap Ki Hadjar Dewantara sebagai saja punja saudara tua, sebagai saudara Kangmas, bahkan sebagai diutjapkan saudara Semaun, pula sebagai guru saja.
"Di dalam pemberian gelar Doktor Honoris Causa, sebenarnja Universitas Gadjah Mada kurang tepat dan kurang adil, djikalau Universitas itu mendahulukan saja daripada Ki Hadjar Dewantara.
"Ki Hadjar Dewantara sebagai tadi saja katakan, adalah seorang putera Indonesia jang besar tiap-tiap bangsa saudara-saudara, tiap-tiap bangsa jang besar, mempunjai putera-putera jang besar. Tiap-tiap bangsa jang besar mempunjai eksponen-eksponen jang besar kalibernja. Maka bangsa Indonesia bolehlah berbahagia, mempunjai seorang eksponen jang besar sebagai Ki Hadjar Dewantara.
"Saja persoonlijk, saudara-saudara, merasa berbahagia, pada waktu saja masih muda dapat "NGLESOT” pada kaki Ki Hadjar Dewantara. Saja termasuk pemuda-pemuda jang berbahagia, dapat maguru kepada orang-orang Indonesia jang besar. Maguru kepada almarhum Kjai Hadji Achmad Dahlan, maguru kepada Doktor E.F.E. Douwes Dekker jang kemudian bernama Setiabudi. Maguru kepada Dokter Tjipto Mangunkusumo, maguru kepada Raden Mas Suwardi Surjaningat jang kemudian bernama Ki Hadjar Dewantara maguru kepada Saudara Semaun, jang saja unduh dari Moskow, maguru pada eksponen eksponen lain. Oleh karena itulah saja dapat merasakan, saudara, bahwa bangsa Indoneaia Insja Allah Subchanahu watta ‘ala, dapat mendjadi suatu bangsa jang besar. Oleh karena sudah ternjata, bangsa Indonesia sudah dapat melahirkan putera puteranja jang besar.
"Bagi saja saudara-saudara, jang sekarang duduk dalam dunia alam politik, bagi saja terutama sekali saja melihat Ki Hadjar Dewantara bersama-sama Dr. E.F.E. Douwes Dekker Setiabudi, bersama dengan Dokter Tjipto Mangunkusumo, sebagai bapaknja politilk Nasionalisme Indonesia. Alangkah baiknja, djikalau pemuda-pemuda djaman sekarang, jang diantara mereka itu ada jang mengedjek Ki Hadjar wantara, menginsjafi bahwa Ki Hadjar Dewantara adalah salah seorang bapak politik nasionalisme Indonesia.
"Malahan saudara saudara, nama Ki Hadjar Dewantara di dalam waktu jang achir-achir ini, hidup berkobar-kobar lagi di dalam dada saja. Oleh karena saja di waktu jang achir-achir ini, sedang prihatin, merasakan perpetjahan-perpetjahan, pertikaian-pertikaian di kalangan bangsa Indonesia sendiri. Saja ingat, bahwa kira-kira 33 tahun jang lalu, Ki Hadjar Dewantara, Dr. E.F.E. Douwes Dekker Douwes Dekker, Dokter Tjipto Mangunkusumo, sebagai pemimpin pemimpin dari Indische Partj, telah memberi tjontoh kepada bangsa Indonesia, apa jang harus diperbuat oleh pemimpin-pemimpin partai politik djikalau ada kekatjauan di dalam kalangan bangsa.
"Pada waktu itu, Ki Hadjar Dewantara, Dokter Tijpto Mangunkusumo, Dr. E.F.E. Douwes Dekker dan beberapa nasionalis-nasionalis lain, jang mendjadi pemimpin dari Indische Partij, oleh karena dilihat bangsa Indonesia terlalu terpetjah – belah oleh partai-partai politik, maka atas inisiatip Dr. E.F.E. Douwes Dekker, Tjipto Mangunkusumo, Ki Hadjar Dewantara, dikuburkan Indische Partij, saudara-saudara.
"Untuk memberi tjontoh kepada bangsa Indonesia, bahwa persatuan bangsa adalah harus diutamakan di atas segala hal. Maka oleh karena itu saudara-saudara, saja minta kepada segenap rakjat Indonesia, supaja merenungkan hal ini.
"Manakala kita semuanja beriang gembira, melihat bahwa Ki Hadjar Dewantara dimuliakan oleh Universitas Gadjah Mada, sebagai Doktor Honoris Causa dalam ilmu Kebudajaan.
"Manakala kita beriang gembira, bahwa salah seorang putera Indonesia jang besar, mendapat kehormatan besar di atas persadanja ilmu pengetahuan dan ilmu kebudajaan, marilah kita semuanja, memikirkan akan nasibnja bangsa Indonesia dikemudian hari, jang kemudian hari itu tergantung dari pada keadaan dihari sekarang. "Bersatulah rakjat Indonesia, sebagai jang selalu diandjurkan.
JANGAN mengaku setia kalau belum pelihara anjing bali. Jangan mengaku pecinta anjing kalau makan daging anjing. Jangan mengaku petugas peternakan kalau kerjanya membunuh anjing sem...
MAHASISWA baru, di mana pun, mau tak mau, akan mengawali “kuliah” dengan melakukan adaptasi dan pengenalan lingkungan kampus. “Kuliah” awal itu di Indonesia biasa disebut Ospek (Or...
TANGGAL tujuh belas Agustus adalah peringatan, perayaan, dan perenungan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Semua orang tahu itu. Pada tanggal 17 Agustus pada setiap tahunnya, sej...
KALAU seseorang dinilai bicara panjang lebar tetapi tak ada isinya, lazimnya orang itu disebut mengumbar omong kosong. Orang macam begini dianggap lebih buruk tinimbang seorang pen...
KAMPUS adalah tempat kaderisasi bagi para pemimpin bangsa dan negara. Di suatu negara kita mengenal adanya pemerintahan, pada umumnya pemerintahan diselenggarakan dan dijalankan ol...
“DENGAN melewati tahapan hidup dari Sudra menuju Wesya, dari Wesya menuju Satria, dari Satria menuju Brahmana, seseorang mencapai Moksha,” guru saya pernah berucap demikian suatu h...
UNTUK yang ketiga kalinya, saya menginjakkan kaki di Desa Mausamang Kiralela di Kecamatan Alor Timur, NTT. Bersahabat lebih dekat dengan desa ini membuat saya kecanduan untuk pergi...
ADA banyak cara merayakan Kemerdekaan. Seperti warga sekitar sungai Tukad Unda, Klungkung. Di situ, suasana 17 Agustus 2016 berbeda dari sebelumnya. Dari jembatan Tukad Unda terben...
Indonesia tanah airku Tanah tumpah darahku Di sanalah aku berdiri Jadi pandu ibuku ……. TIAP kali menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya atau mencermati teksnya, saya selalu te...
MUNGKIN banyak yang belum tahu bahwa salah satu putra Buleleng ikut berperan dalam terbentuknya Republik Indonesia. Namanya, Mr. I Gusti Ketut Pudja. Dia menjadi satu-satunya waki...