Tuah Wanita Bali - Kebahagiaan saat Memberi
LAKI-LAKI menjadikan wanita sengsara, anak membuatnya bahagia. Sungguh? Betapa menyesakkan kisah ini, tapi ia bisa menjadi ungkapan dari zaman ke zaman: anak lebih dibutuhkan oleh...
Aku termasuk orang dengan intensitas nongki (nongkrong) yang cukup tinggi di kalangan teman-teman, sebatas ingin menikmati kesendirian atau sekadar ngobrol meluapkan keluh kesah di kantor. Tentunya, tak lengkap jika tak memesan makanan/minuman di tempat nongkrong.
Kalau aku pribadi, aku cenderung memilih tempat nongkrong yang memiliki banyak varian menu dan pastinya murah meriah. Maka dari itu, warung kecil atau kafe-kafe chill ala milenial adalah pilihan yang kerap aku kunjungi. Biasanya, menu-menu di tempat ini sangat beragam mulai dari menu rumahan seperti nasi goreng, nasi jingo, nasi rawon, soto, tipat, ayam geprek, bahkan mi goreng/kuah.
Beberapa kali, ketika aku nongki dengan teman-teman, aku memesan mi goreng karena memang sedang ingin memakan makanan instant tersebut. Namun, respon ini sering aku dapatkan dari teman-teman saat aku memesan mi goreng;
“Ihh ngapain mesen mie? Di rumah kan bisa buatnya?!”
Seketika aku terdiam dan berpikir, “Iya juga ya!”
Namun setelahnya, aku mencoba berargumen dengan teman-teman aku
“Tapi kan semua menu disini juga bisa kita buat di rumah? Nasi goreng, soto, tipat. Kan semua bisa,” tangkasku
“Iya emang bisa, tapi mi instant itu level cara buatnya yang paling gampang di antara menu-menu yang lainnya,” sahut salah seorang teman
“Lagian, kalo lagi nongkrong diluar, pesen makan yang beda-lah. Masak iya mesen makanan yang sama juga kayak di rumah, haha…” sahut teman yang lain sembari tertawa.
“Tapi beda tau. Mie goreng buatan warung tuh kayak lebih lengkap sama telur dan sayurnya dan lebih enak aja. Kalo kita yang buat dirumah, ya rasanya kurang rame aja gitu,” komentar teman lainnya yang ternyata sepaham denganku.
“Lagian, aku di rumah jarang juga makan mie, sekali-kali boleh lah mesen mie di luar,” jawabku dengan nada pelan.
Hingga kini, perdebatan tentang apakah mie instant ini perlu ada atau tidak didaftar menu di warung atau kafe masih saja menjadi topik yang menarik untuk dibahas sembari bersantai menunggu menu datang.
Namun, aku yakin banyak pembaca pasti berpikir sah-sah saja bagi menu mie instant ada didaftar menu karena itu hak setiap penjual bahkan hak pembeli untuk memesannya. Aku pun setuju demikian, akan tetapi, hal menarik dari perdebatan ini sesungguhnya adalah apakah tidak buang-buang duit untuk membeli sesuatu yang sudah jelas secara instant bisa kita buat di rumah atau kos?
Haha, kalau diikirkan lagi memang tidak penting sekali rasanya topik tulisan kali ini. namun aku hanya ingin berbagi keresahan saja tentang eksistensi dari menu mie instant yang selama ini selalu diperdebatkan saat aku memesannya di warung. Kalau menurut kalian gimana? Apakah seribet ini juga untuk memesan mie instant di warung atau kafe? [T]
LAKI-LAKI menjadikan wanita sengsara, anak membuatnya bahagia. Sungguh? Betapa menyesakkan kisah ini, tapi ia bisa menjadi ungkapan dari zaman ke zaman: anak lebih dibutuhkan oleh...
BANYAK dari kita geli melihat seorang biker begitu sayang pada sepeda motornya. Setiap pagi dilap, dielus, ditepuk-tepuk. Malam sebelum tidur dilihat lagi, dilap, dielus lagi. Sea...
PAGI-PAGI di awal Juli aku ditelepon dramawan Putu Satria Kusuma. “Ole, Yudane sedang di Singaraja, tolong temani dia. Aku lagi di Denpasar,” kata Putu tentu dengan gaya bicara yan...
KITA bangsa yang pendek ingatan. Apa boleh buat. Sampai tingkat tertentu, dalam berkomunikasi pun tak ketinggalan kita memilih cara-cara ringkas. Bahkan jika itu harus dengan menyi...
KALAU sedang rikuh, kalau sedang tak kuat menahan pusing karena televisi terus saja menayangkan cerita-cerita seram, maka marilah kita mencoba mengingat satu sosok: Ibu. Kita akan...
Cerpen: I Putu Supartika TIDAK ada yang tahu sejak kapan pura kecil di tengah sawah itu berdiri. Yang pasti orang-orang di sekitar pura tahu pura itu sudah ada sejak kelahiran mere...
HIRUK-PIKUK perhelatan akbar sepakbola yang begitu menyedot antusiasme dunia dalam sebulan terakhir usai sudah. Piala Eropa (Euro) dan Copa America Centenario 2016 berakhir dengan...
PERNAH jadi trend sebuah berita bahwa ada sekolah di Kabupaten Gianyar yang hanya punya satu orang siswa kelas VI. Banyak kalangan berpendapat, dan tidak sedikit menyoroti bahwa in...
PESTA Kesenian Bali (PKB) ke-38 tahun 2016 berakhir. Banyak pentas seni lewat begitu saja, tapi banyak juga meninggalkan bekas dan kesan di hati sejumlah orang. Para seniman, terut...
WANITA itu terlihat pasrah. Matanya terpejam. Seolah bersiap melepaskan ruh dari raganya yang telah mati. Bagian bawah tubuhnya mengelupas, menjelma serpihan-serpihan tembaga. Itul...