Topeng Tugek Carangsari – Memainkan Topeng Mengolah Karakter
KALANGAN Ayodya di Taman Budaya Bali, malam itu begitu riuh. Gelak tawa dan tepuk tangan terus berganti. Penonton berjejalan. Duduk berdesak-desakan. Banyak yang akhirnya duduk les...
Apa sesungguhnya panggung itu? Bagaimana bentuknya? Rupanya? Manakah yang dapat disebut panggung? Manakah yang bukan? Jika kita mengamini unsur teater—sebagaimana yang biasa terdefinisikan—yakni, ada panggung, ada aktor, ada penonton, namun pada suatu saat ada ruang yang tak biasa untuk dikategorikan sebagai panggung, bisakah kerja yang kita lakukan pada ruang-ruang ini disebut panggung teater? Dalam konteks kerja di ruang digital misalnya, bagaimana panggung mesti didefinisikan kemudian? Mesti disikapi kemudian?
Pertanyaan semacam ini jadi semakin sering berkelindan di kepala saya pada tahun belakangan. Terutama ketika kerja teater dipaksa untuk beradaptasi pada situasi pandemi. Semakin dicari kemungkinannya, semakin beragam pula kenyataan yang bisa ditemukan, khususnya pada persoalan panggung. Panggung hari ini tak lagi hanya sebatas tempat di mana kita berpijak, di mana kita mempertontonkan ekspresi, gesture dan segala piranti keaktoran lainnya, di mana set dan properti ditata sedemikian rupa, atau cahaya lampu dijatuhkan. Panggung bukanlah ruang hampa yang menunggu sutradara dan aktor datang, mengisi kekosongan ruang di dalamnya. Panggung adalah entitas hidup yang terus menerus bergerak, membangun sejarah dirinya, bahkan hidup kita sendiri.
Dalam konteks ini, saya ingin menangguhkan terlebih dahulu proyeksi panggung teater di masa depan. Justru sebaliknya, situasi yang memungkinkan panggung dibaca sebagai sesuatu yang tak terbayangkan, membuat diri kembali merenungi kerja teater yang selama ini dilakukan bersama kawan-kawan dalam menyikapi ruang, yang justru tak bisa disebut panggung pada umumnya. Karena keterbatasan yang kami miliki, kebanyakan pertunjukan biasa diselenggarakan pada ruang alternatif. Situasi ini bukan malah membuat kami menyerah dengan keadaan, melainkan jadi sebab buat menemukan hal-hal yang barangkali tak bisa ditemukan pada panggung konvensional. Bahwa panggung dan ruang memiliki hubungan yang saling terkait satu sama lain.
Hal ini saya sadari ketika berproses semasa kuliah di Singaraja. Tahun 2011, saat menggelar pementasan drama kuliah ‘Upacara Tengah Malam’ karya Oka Rusmini, saya dan kawan-kawan kebingungan di mana mesti menggelar pentas. Kampus Bawah yang biasa digunakan pentas kala itu, sedang masa pembangunan ulang. Sementara Sasana Budaya dan Gedung RRI Singaraja pun tengah dipergunakan untuk acara. Hanya tinggal Gede Manik-lah satu-satunya gedung yang tersisa sebagai pilihan. Ruang yang teramat besar, yang lebih banyak digunakan untuk konser band, tentu akan tampak seperti baju kedodoran bagi sebuah pertunjukan teater.
Kami menyiasatinya dengan membagi panggung dalam tiga bagian, yakni panggung atas, tengah, dan panggung penonton, sementara penonton sendiri ditempatkan pada bagian samping. Pada detik pertama pentas, hal ini tampak mengejutkan karena perspektif pertunjukan terbagi dalam dua kubu. Bagian samping kiri dan samping kanan. Namun gaung ruang, vokal pemain yang tenggelam, koreografi yang melempem, serta lampu yang tak begitu terang menjadikan penonton kehilangan fokus permainan. Alhasil pentas malam itu menuai kegagalan.
Mungkin karena kegagalan itu jugalah, secara tak sadar membuat saya mencari kemungkinan lain pada panggung-panggung lainnya. Hampir di setiap pentas, khususnya dalam kerja bersama kawan-kawan Teater Tebu Tuh kala itu, ruang-ruang alternatif kami cari dan gali kemungkinan-kemungkinannya. Mulai dari lapangan, basement, toilet, tangga dan lain sebagainya. Dari hal ini, temuan-temuan yang didapatkan dalam panggung lebih banyak pada tataran eksplorasi ruang yakni bagaimana cara untuk mendekatkan jarak panggung dan penonton, mencari bentuk pentas, komposisi blocking, koreografi, dinamika pentas, penggunaan ornamen panggung, dan hal-hal lain yang memungkinkan panggung untuk diisi dengan berbagai artistik permainan.
Di antara pentas yang dilakukan, ada satu pengalaman unik pada 201. Pada waktu itu bersama kawan-kawan Komunitas Cemara Angin, saya berkesempatan untuk membuat pertunjukan ‘Orang Asing’ karya Rupert Brooke terjemahan D.Djajakusumadi tengah basement kampus bawah Undiksha. Pada suatu adegan, pemain berteriak begitu kencangnya, diikuti musik yang berasal dari bunyi seng diinjak sedemikian rupa menghasilkan letupan suara yang menggema karena ruang yang cenderung semi terbuka-tertutup. Peristiwa ini begitu menghantui pikiran saya saat itu. Beberapa tahun kemudian, merupakan cikal bakal saya memaknai ruang sebagai sesuatu yang mesti ‘disingkap’ keberadaannya.
Boleh dikata pemahaman ini adalah kelanjutan dari apa yang saya temukan sebelumnya. Pada bagian pertama, saya maknai sebagai pengalaman ‘mengeksplorasi ruang’. Pada proses eksplorasi ruang, ruang-ruang alternatif yang saya gunakan sebagai panggung lebih banyak disikapi sebagai objek. Tak memiliki suara, tak memiliki narasi. Sebuah ruang netral yang memungkinkan penghuninya untuk menempati dan mengisinya dengan segala laku artistik teater. Sementara pada bagian kedua, saya maknai sebagai pengalaman ‘menyingkapkan ruang’. Jika mengeksplorasi ruang disikapi sebagai objek, menyingkapkan ruang justru disikapi sebagai subjek. Ruang kami posisikan sebagai sesuatu yang hidup, yang mempunyai narasinya sendiri. Maka tugas sutradara, tugas pemain dan tim produksi bukanlah menempati ruang mana suka. Melainkan berdialog dengan ruang tersebut. Membiarkan sang ruang menyingkapkan dirinya pada kita. Menyatakan hal yang ingin dinyatakan pada kita.
Kualitas semacam ini baru saya rasakan ketika pentas bersama Teater Kalangan dalam ‘Daftar Isi dan Kenangan yang Tak Lekang’ berdasar respon buku kumpulan cerpen karya Juli Sastrawan di Rumah Belajar Komunitas Mahima pada 2017 lalu. Pada pentas tersebut, saya mencoba tak melakukan eksplorasi sebagaimana biasa yang terjadi pada pertunjukan sebelumnya. Seperti namanya, Rumah Belajar Komunitas Mahima adalah rumah yang dialihfungsikan menjadi tempat pentas dan diskusi sastra. Struktur bangunan yang cenderung sempit sebagai tempat pentas membuat pergerakan aktor menjadi terbatas. Pada titik inilah, saya melihat kemungkinan lain dalam pentas.
Saya biarkan penonton untuk duduk mana suka, sementara adegan-adegan dibuat seintim dan seminimalis mungkin mulai dari gerak, komposisi, koreografi, ekspresi, dan vokal aktor. Sementara tempat bermain aktor semuanya dirajut dari kebiasaan penghuni rumah menyikapi ruang. Di mana saja mereka melintas, perlakuan mereka terhadap ruang, perubahan yang terjadi pada ruang, serta hal-hal yang melenceng atau yang tak terduga terjadi pada saat latihan para aktor. Semua kemudian dirajut dalam satu kesatuan pentas dengan memposisikan ruang sama halnya dengan aktor. Maka pentas tak hanya menyajikan komposisi aktor semata, penonton juga diberi celah menyadari perubahan ruang ketika aktor bermain di dalamnya.
Lalu, apakah semua itu cukup untuk menguraikan bagaimana definisi ruang dalam panggung pertunjukan? Saya rasa tidak. Hal-hal semacam ini baru merupakan serpihan keterbacaan saya pribadi bersama kawan-kawan dalam memahami ruang dan panggung. Ada juga misalnya pengalaman lain yang kami sebut sebagai provokasi ruang. Di mana sejarah dan sosial sebuah ruang justru dipertanyakan ulang keberadaannya untuk mencederai kemapanan konstruksi ruang di kepala penonton sebagaimana yang hadir dalam pertunjukan ‘Joged Adar, Kekasihmu dan Kesibukan Melupakannya’ bersama Teater Kalangan pada 2018 lalu. Selain itu ada saat di mana ruang dibaca dalam bingkai disiplin lain. Sebab interpretasi akan ruang juga tak bisa dilepaskan dari struktur berbagai lintasan ilmu yang punya agenda dan kepentingan epistemiknya masing-masing.
Tapi lagi-lagi tetaplah itu belum cukup untuk menjelaskan ruang sebagai panggung pertunjukan. Alih-alih semakin terang pembacaan kami atas ruang dan panggung, justru ada saja hal-hal baru yang menantang untuk diulik lebih dalam lagi. Pada akhirnya tulisan ini pun merupakan catatan bersambung yang terbuka untuk diisi kembali dengan uraian kemungkinan pembacaan akan ruang dan panggung lainnya. Sebab bukan diri saja yang berada pada posisi menjelaskan ruang dan panggung, boleh jadi sebaliknya, ruang dan panggunglah yang menguraikan diri kita. Maka perlu juga kiranya membiarkan ruang dan panggung menyingkapkan dirinya kepada kita. [T]
Denpasar, 2021
______
KALANGAN Ayodya di Taman Budaya Bali, malam itu begitu riuh. Gelak tawa dan tepuk tangan terus berganti. Penonton berjejalan. Duduk berdesak-desakan. Banyak yang akhirnya duduk les...
JIKA di atas meja belajar anda terdapat dua buah benda yaitu gadget dan buku, manakah yang akan anda pilih? Saya percaya, demi sinetron kesukaan ibu-ibu di tivi, kebanyakan dari a...
LAGU anak-anak itu kadang unik, terutama liriknya. Saat Taman Kanak-Kanak dulu kita tidak begitu hirau dan memang tak banyak mengerti arti dan maksud lagunya itu apa. Cuma nyanyi d...
BALI merupakan kepulauan seribu pura yang telah terkenal sejak zaman dahulu. Masyarakat Bali tak lepas dari Tri Hita Karana yang merupakan landasan kehidupan beragama dan beradat....
JIKA benar harga rokok setinggi langit biru, dan jika benar harga tinggi itu bisa menghentikan orang merokok, dan (siapa tahu) nanti benar-benar tak ada yang merokok, bagaimana nas...
PERNAH nyuluh jangkrik? Zaman saya kecil, di desa saya di Jembrana, nyuluh jangkrik (memburu jangrik malam hari) adalah kegemaran saya dan teman sebaya. Jauh-jauh sebelumnya, bapak...
Cerpen: Putri Handayani HAMPIR setiap hari Griya Siwa tidak pernah sepi dari orang-orang yang ngayah1. Mulai dari membuat sarana upakara sampai meracik tirta, semua dilakukan oleh ...
KELAHIRAN istilah 'simakrama' menarik untuk ditelusuri. Awalnya istilah ini yang lebih mengarah pada padanan kata 'silahturahmi', yang mencerminkan keinginan untuk berbicara dan sa...
ADA serombongan remaja sedang berebut peran. Mereka akan menjadi pelakon sandiwara dalam perayaan Agustusan tingkat RT. Peran konglomerat, menteri, dokter, mahasiswa, semua mereka...
GARIS berliku itu menyerupai sungai. Lebar di hulu kemudian menyempit di hilir. Warnanya hijau, biru, dan jingga. Garis berliku serupa sungai itu membelah lukisan menjadi dua bagia...