Tentang Lauk yang Dipindahkan Diam-Diam dari Piring MBG
SIDANG pembaca yang budiman, sebagian besar dari kita mungkin tidak pernah mendengar orang tua mengucapkan kata cinta setiap hari. Generasi orang tua Indonesia, terutama yang tumb...
Pandemi covid-19 baik di negara kita, juga dunia hingga saat ini belum tampak ujung akhir pemecahannya. Harus diakui, keadaan pandemi yang berlarut membuat sebagian masyarakat kita terpecah cara pandang dalam bagaimana menangani wabah ini. Ada yang manut anjuran pemerintah, beberapa lainnya harus tetap berusaha menyesuaikan diri dalam kondisi saat ini, hingga yang tidak percaya sama sekali dengan adanya wabah saat ini.
Pro kontra tentang wabah pun sampai pada pembahasan cara kita beragama. Cukup kencang seruan beberapa kalangan yang meminta persembahyangan seyogyanya dilakukan bak kita dalam keadaan normal sebelum masa pandemi. Tidak jarang pula beberapa orang bertanya pada saya, “anda lebih takut virus, atau Tuhan?” Untuk itu saya jawaban saya selalu sama. Saya akan berkata, “saya meyakini bahwa wabah ini merupakan wujud kerja Tuhan sebagaimana tertuang dalam hukum Rta yang muaranya mengajarkan kita untuk melakukan Brata “
Mari kita elaborasi sedikit pandangan sederhana saya ini. Dalam agama yang saya anut (Hindu) mengajarkan bahwa umat percaya akan adanya Tuhan (Satya Sat) dan mengimani kebenaran Tuhan. Disebutkan pula bahwa percaya akan Tuhan berarti pula percaya akan hukum yang ditentukan oleh Tuhan. Hukum Tuhan yang murni kemudian disebut dengan Rta. Adapula yang menyebut hukum Rta dalam ajaran Hindu merupakan tatanan tentang bagaimana semesta bekerja. Tentu dengan segala keterbatasannya, manusia tidak memiliki kapasitas untuk mengerti cara kerja hukum ini secara menyeluruh.
Jika demikian, maka segala gerak semesta mulai dari bertiupnya angin, turunnya hujan, aliran sungai, deburan ombak, gunung meletus, gempa bumi, hingga terjadinya wabah merupakan bagian dari hukum ini, yang juga berarti bagian dari kehendak Tuhan. Pertanyaannya kemudian, mengapa wabah ditimpakan pada kita sebagaimana peristiwa-peristiwa lain?
Keyakinan saya hingga saat ini, tujuannya adalah agar kita semua melakukan Brata. Brata dalam arti luas tentu saja. Secara harafiah, Brata bermakna pengendalian diri, pantangan, dan ujian kepatuhan kita. Tujuannya sebagaimana tersurat dalam lontar wrtti sasana, adalah untuk mencapai kesucian bathin dan menuju kehidupan yang lebih baik. Semisal, saat hari raya nyepi Catur Brata Penyepian meminta kita untuk mengendalikan diri kita dalam aspek indriya yang meliputi tidak menyalakan api, tidak bepergian, tidak bekerja, dan tidak bersenang-senang. Contoh lain, hari raya siwaratri dirayakan dengan brata siwaratri untuk meningkatkan kesucian rohani, mengekang hawa nafsu, hingga merenungi perbuatan.
Maka tidak berlebihan rasanya mengatakan jika pandemi sebagai bagian dari perwujudan hukum Tuhan menuntut kita untuk mencapai tujuan brata sebagaimana tersebut di atas. Selanjutnya, brata apa yang kita harus lakukan dalam masa seperti sekarang ini?
Kita diajarkan untuk hidup lebih bersih dengan mencuci tangan sesudah bersentuhan dengan benda maupun manusia. Kita juga, dalam rentang waktu setahun ke belakang lebih rajin untuk membersihkan diri kita. Sebagaimana banyak disebut sebelumnya bahwa kebersihan adalah sebagian dari iman. Pengendalian lain adalah dalam hal rasa syukur. Acapkali kita lupa mengucap syukur akan nikmat yang dikaruniakan pada kita oleh Tuhan dan cenderung lari padaNya saat kita ditempa masalah. Menjalani hidup selama pandemi sendiri pada saya menuntut saya untuk melihat kebelakang. Betapa yang saya miliki dulu sesungguhnya merupakan limpahan rahmat Tuhan, pun begitu sekarang. Itupun dahulu saya masih sering mengeluh ketika dilimpahkan rahmat.
Brata dalam makna pengendalian indriya berarti juga mengendalikan tutur kata. Terpecahnya masyarakat kita, sekali lagi dalam apa yang saya Imani, juga merupakan akibat kurangnya pengendalian dalam tutur kata, berikut dengan perbuatan yang kurang sesuai dengan ucapan. Terlebih media mengekspresikan ide, suara, dan cara pandang ada dalam berbagai kanal yang bisa sesukanya kita pilih.
Brata terakhir menyangkut keimanan terhadap Tuhan YME. Anjuran agar tidak berkerumun di tempat peribatan bukan berarti melarang kita beragama. Sebaliknya, saya memandang ini sebagai kesempatan untuk saya lebih mendekatkan diri pada Tuhan. Sering dahulu saya berpikir bahwa datang kehadapan Tuhan melalui tempat peribatan merupakan satu satunya wujud bhakti utama yang bisa dilakukan. Namun kemudian kita ketahui bahwa Tuhan sesungguhnya ada dimana-mana, memenuhi Bhuwana, tidak terpengaruh dan tidak berubah. Maka boleh juga rasanya untuk berinterpretasi bahwa hukum Tuhan yang sedang terjadi ini untuk menyadarkan saya bahwa bhakti padaNya bisa dilakukan mengikuti sifat Tuhan tersebut.
Tentu sekali lagi ini hanya pandangan kecil saya mengenai bagaimana saya mengimani apa yang sedang terjadi melalui tulisan ini. Pandangan-pandangan lain pasti ada mengikuti keyakinan masing-masing yang juga patut dihargai. Maka demikian tulisan singkat ini saya akhiri sembari berdoa agar kita semua mampu melewati ini semua bersama-sama. [T]
SIDANG pembaca yang budiman, sebagian besar dari kita mungkin tidak pernah mendengar orang tua mengucapkan kata cinta setiap hari. Generasi orang tua Indonesia, terutama yang tumb...
MENGUNJUNGI Desa Pedawa di Kecamatan Banjar, Buleleng, yang terkenal dengan adat dan budaya yang unik, bagi publik akademik di kalangan kampus, bukan hanya untuk tujuan wisata, na...
PERNAHKAH Anda menyadari bahwa hidup kita hari ini perlahan-lahan dikendalikan oleh mantra tiga kode huruf? Dunia modern adalah rimba aksara yang serbacepat. Demi menghemat ene...
“Dini lade Pak Ngurah Rai nginep ajak pasukanne. Likangi ada, dini ada. Kak sing nawang, nak teka peteng. Di kenkenne, semengan ada bedik jumah. Nak, mekaad peteng, teka peteng. K...
Ketika diumumkan lomba dimulai, suasana ruangan mendadak dipenuhi suara riuh, sorak-sorai dan tepuk tangan sebagai dukungan dari penonton, suporter atau rekan satu hotel ataupun s...
JANGAN sepelekan tradisi menganyam. Seniman Bali, I Ketut Putrayasa membawa tradisi anyaman itu mendunia. Ia dipercaya membuat empat patung yang akan dijadikan ikon kampus di Turk...
PEED Aya atau Pawai Budaya dalam rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII tahun 2026 akan hadir dengan wajah baru yang lebih dinamis dan atraktif. Pertunjukan seni berjalan ini...
KEMAJUAN teknologi digital telah mengubah cara manusia berkomunikasi, memperoleh informasi, dan belajar. Dalam hitungan detik, seseorang dapat mengakses berbagai sumber pengetahua...
DERAP langkah beranjak naik, kain tirai perlahan mulai disingkapkan, lalu dengan segera bunyi-bunyian kendang, tembang dan segala perangkat kesenian jaranan, bergema meneror kedua...
LANGIT biru di atas pantai dan laut, di daerah Peninsula Island, Nusa Dua, Bali, dipenuhi warna-warni layang-layang yang menari mengikuti hembusan angin laut, Minggu 7 Juni 2026....