Buleleng Terkaya di Bali, Sesungguhnyalah Tak Perlu Investor
DI Bali hanya dua kabupaten yang memiliki danau sekaligus laut: Buleleng dan Tabanan. Bangli punya danau besar tapi tak punya laut. Semua kabupaten lain punya laut, tapi lacur tak...
Pandemi covid-19 baik di negara kita, juga dunia hingga saat ini belum tampak ujung akhir pemecahannya. Harus diakui, keadaan pandemi yang berlarut membuat sebagian masyarakat kita terpecah cara pandang dalam bagaimana menangani wabah ini. Ada yang manut anjuran pemerintah, beberapa lainnya harus tetap berusaha menyesuaikan diri dalam kondisi saat ini, hingga yang tidak percaya sama sekali dengan adanya wabah saat ini.
Pro kontra tentang wabah pun sampai pada pembahasan cara kita beragama. Cukup kencang seruan beberapa kalangan yang meminta persembahyangan seyogyanya dilakukan bak kita dalam keadaan normal sebelum masa pandemi. Tidak jarang pula beberapa orang bertanya pada saya, “anda lebih takut virus, atau Tuhan?” Untuk itu saya jawaban saya selalu sama. Saya akan berkata, “saya meyakini bahwa wabah ini merupakan wujud kerja Tuhan sebagaimana tertuang dalam hukum Rta yang muaranya mengajarkan kita untuk melakukan Brata “
Mari kita elaborasi sedikit pandangan sederhana saya ini. Dalam agama yang saya anut (Hindu) mengajarkan bahwa umat percaya akan adanya Tuhan (Satya Sat) dan mengimani kebenaran Tuhan. Disebutkan pula bahwa percaya akan Tuhan berarti pula percaya akan hukum yang ditentukan oleh Tuhan. Hukum Tuhan yang murni kemudian disebut dengan Rta. Adapula yang menyebut hukum Rta dalam ajaran Hindu merupakan tatanan tentang bagaimana semesta bekerja. Tentu dengan segala keterbatasannya, manusia tidak memiliki kapasitas untuk mengerti cara kerja hukum ini secara menyeluruh.
Jika demikian, maka segala gerak semesta mulai dari bertiupnya angin, turunnya hujan, aliran sungai, deburan ombak, gunung meletus, gempa bumi, hingga terjadinya wabah merupakan bagian dari hukum ini, yang juga berarti bagian dari kehendak Tuhan. Pertanyaannya kemudian, mengapa wabah ditimpakan pada kita sebagaimana peristiwa-peristiwa lain?
Keyakinan saya hingga saat ini, tujuannya adalah agar kita semua melakukan Brata. Brata dalam arti luas tentu saja. Secara harafiah, Brata bermakna pengendalian diri, pantangan, dan ujian kepatuhan kita. Tujuannya sebagaimana tersurat dalam lontar wrtti sasana, adalah untuk mencapai kesucian bathin dan menuju kehidupan yang lebih baik. Semisal, saat hari raya nyepi Catur Brata Penyepian meminta kita untuk mengendalikan diri kita dalam aspek indriya yang meliputi tidak menyalakan api, tidak bepergian, tidak bekerja, dan tidak bersenang-senang. Contoh lain, hari raya siwaratri dirayakan dengan brata siwaratri untuk meningkatkan kesucian rohani, mengekang hawa nafsu, hingga merenungi perbuatan.
Maka tidak berlebihan rasanya mengatakan jika pandemi sebagai bagian dari perwujudan hukum Tuhan menuntut kita untuk mencapai tujuan brata sebagaimana tersebut di atas. Selanjutnya, brata apa yang kita harus lakukan dalam masa seperti sekarang ini?
Kita diajarkan untuk hidup lebih bersih dengan mencuci tangan sesudah bersentuhan dengan benda maupun manusia. Kita juga, dalam rentang waktu setahun ke belakang lebih rajin untuk membersihkan diri kita. Sebagaimana banyak disebut sebelumnya bahwa kebersihan adalah sebagian dari iman. Pengendalian lain adalah dalam hal rasa syukur. Acapkali kita lupa mengucap syukur akan nikmat yang dikaruniakan pada kita oleh Tuhan dan cenderung lari padaNya saat kita ditempa masalah. Menjalani hidup selama pandemi sendiri pada saya menuntut saya untuk melihat kebelakang. Betapa yang saya miliki dulu sesungguhnya merupakan limpahan rahmat Tuhan, pun begitu sekarang. Itupun dahulu saya masih sering mengeluh ketika dilimpahkan rahmat.
Brata dalam makna pengendalian indriya berarti juga mengendalikan tutur kata. Terpecahnya masyarakat kita, sekali lagi dalam apa yang saya Imani, juga merupakan akibat kurangnya pengendalian dalam tutur kata, berikut dengan perbuatan yang kurang sesuai dengan ucapan. Terlebih media mengekspresikan ide, suara, dan cara pandang ada dalam berbagai kanal yang bisa sesukanya kita pilih.
Brata terakhir menyangkut keimanan terhadap Tuhan YME. Anjuran agar tidak berkerumun di tempat peribatan bukan berarti melarang kita beragama. Sebaliknya, saya memandang ini sebagai kesempatan untuk saya lebih mendekatkan diri pada Tuhan. Sering dahulu saya berpikir bahwa datang kehadapan Tuhan melalui tempat peribatan merupakan satu satunya wujud bhakti utama yang bisa dilakukan. Namun kemudian kita ketahui bahwa Tuhan sesungguhnya ada dimana-mana, memenuhi Bhuwana, tidak terpengaruh dan tidak berubah. Maka boleh juga rasanya untuk berinterpretasi bahwa hukum Tuhan yang sedang terjadi ini untuk menyadarkan saya bahwa bhakti padaNya bisa dilakukan mengikuti sifat Tuhan tersebut.
Tentu sekali lagi ini hanya pandangan kecil saya mengenai bagaimana saya mengimani apa yang sedang terjadi melalui tulisan ini. Pandangan-pandangan lain pasti ada mengikuti keyakinan masing-masing yang juga patut dihargai. Maka demikian tulisan singkat ini saya akhiri sembari berdoa agar kita semua mampu melewati ini semua bersama-sama. [T]
DI Bali hanya dua kabupaten yang memiliki danau sekaligus laut: Buleleng dan Tabanan. Bangli punya danau besar tapi tak punya laut. Semua kabupaten lain punya laut, tapi lacur tak...
INI adalah komentar seorang teman pebisnis sukses, orang Bali yang tinggal di Amerika “Orang Bali harusnya ajarkan anak-anaknya berbisnis bukan hanya sembahyang”. Dan comment yang...
WABAH Pokémon Go sepertinya sudah masuk ke ceruk kehidupan orang Bali. Di Pulau Seribu Pura ini, tentu bukan hal aneh jika sarang Pokémon banyak terdapat di Pura. Di Pura besar ata...
Cerpen: Ni Kadek Desi Nurani Sari Purnama pasah, tiga anak bajang berjalan melenggang ke arah barat tempat di mana, rusuk seorang ibu tersesat jalan pulang. Mereka kembara, membawa...
BUNGA KECOMBRANG (1 ) Pada kelopak mudaku kau temukan rasa yang enggan pergi dari tiap ujung papila Kau terbakar rasa larut dalam liur kuntum kuntumku membuat...
SALAH satu cara mengatasi kerumitan pilihan hidup dalam dunia, --- yang mana orang-orangnya kian jauh dari kesempatan untuk berbeda adalah mengikuti ke mana arah pemikiran pergi,...
"Itulah pekerjaan, saya profesional, keluarga tahu saya bekerja sebagai penari joged, tidak jual diri," KERUMUNAN tampak dari kejauhan. Iringan suara gamelan rindik berpadu dengan...
HARI sekolah tiba. Orang tua harap-harap cemas. Apakah si anak bisa berprestasi di sekolah. Jika iya tentunya membanggakan. Namun, hilangkan harapan itu. Baiknya, jangan paksa anak...
Judul: Magening # Pengarang: Wayan Jengki Sunarta # Penerbit: Kakilangit Kencana # Tahun: April 2015 # Tebal: vi, 164 halaman # ISBN: 978-602-8556-53-8 899.221 3 NOVEL Magening...
PADA suatu masa, tak terlalu lama, di negeri ini pernah ada penggemar cicak dan ada penggemar buaya, ada juga yang suka melihat ribut-ribut antara keduanya. Tapi saya sendiri lebih...