Genjek Kolosal, Politik Warna, dan Kebiasaan Buruk Politikus
RIBUAN sekaa genjek dari pelbagai penjuru di tanah Karangasem, Bali, tumpah ruah di Taman Ujung, Karangasem, Rabu (10/8/2016) siang. Ada yang datang menggunakan truk, mobil pik-up,...
Sudah memasuki tahun 2021, entah tahun 2020 terlewati begitu cepat atau lambat saya tidak bisa menafsirkannya begitu saja. Sebab akan memiliki perbedaan arti jika dibedah menurut beberapa versi yang telah saya lewati. Misalnya jika saya mengingat 2020 dari segi ketika rebah-rebahan, itu akan terasa begitu sangat lama sebab sepanjang 2020 memang terlalu banyak anjuran untuk diam dan mengurung diri di rumah guna sekaligus mengurangi siklus rantai penyebaran Covid-19.
Tapi jika saya pikirkan dari segi kerja-kerja yang saya lakukan, tahun 2020 begitu sangat cepat bagi saya sebab rasanya tidak banyak hal yang saya lakukan untuk sekedar membuat dan meletakkan pencapaian-pencapaian kecil untuk diri. Tidak banyak, dan bahkan hanya sedikit sekali rasanya kerja-kerja yang saya lakukan khususnya terhadap teater.
Tapi saya percaya sekecil apapun pencapaian yang sudah digapai hal itu tetap menjadi penting untuk diingat, jika boleh mengumpamakan sesuatu yang sudah saya lewati selama kurang lebih dua setengah tahun bersama Teater Kalangan perjalanan saya dari waktu ke waktu seperti batu peluru pada ketapel yang dimainkan seseorang. Kadang mengenai sasaran, kadang melenceng, atau bahkan tidak sampai kepada sasaran jadi tidak bisa dikatakan hampir mengenai sasaran ataupun melenceng. Sebab itu tergantung dari seberapa besar gaya otot seorang pemain ketapel untuk menarik pegas pada ketapel yang kemudian akan menghasilkan sebuah energi gerak.
Jika pemain tersebut menarik dengan gaya otot yang besar, akan menghasilkan kecepatan dan energi yang besar juga pada gerak peluru yang ditembak untuk mengenai sasaran. Namun sebaliknya jika energi yang digunakan kecil, dia akan menimbulkan gaya yang kecil dan tidak beraturan bisa jadi bentuknya melengkung seperti air yang keluar dari patung pancuran kodok yang keluar dari mulutnya di kolam-kolam renang.
Jika saya ibaratkan pada sebuah kerja-kerja saya yang telah berlalu, saya curiga jangan-jangan penyebab saya sedikit mencapai hal tersebut karena saya kecil dalam mengambil energi untuk menarik pegas pada ketapel, sehingga jangankan untuk mengenai sasaran sampai saja tidak pada yang pernah saya harapkan sebagai sasaran pada tahun sebelumnya. Kemudian saya mengira-mengira dan menjabarkan apa yang salah pada sebuah permainan tembak sasaran ini, pada alat permainanya kah atau keahlian saya dalam membidik suatu sasaran. Saya rasa hal itu terjadi karena kurang jelinya saya melihat sasaran, atau malah saya tidak mengetahui sasaran saya? Wah, semakin pusing saya bermain tembak ketapel ini.
Baiklah untuk mempermudah saya dalam mengumpamakan diri saya dengan permainan ketapel, saya mempunyai ide untuk menjabarkan hal-hal itu menjadi beberapa bagian :
Dalam permainan ini saya rasa niat adalah hal yang penting untuk selalu kita pelihara agar nantinya menjadi sebuah tindak lanjutan dalam melakukan apapun. Tak terkecuali dalam permainan ketapel ini, tanamkan dalam diri untuk meniatkan diri ingin bermain ketapel. Sehingga sampai pada suatu kesadaran pikiran apa yang harus dilakukan setelah dirasa niat sudah matang ingin bermain ketapel.
Ketika niat tadi sudah dirasa matang, maka hal selanjutnya yang patut untuk dipikirkan adalah alat dan bahan-bahan untuk membuat ketapel. Seperti cabang ranting berbentuk “Y”, benang karet, dan alas peluru. Kita harus mempersiapkan segala bahan yang diperlukan, mengumpulkan satu persatu hal tersebut. Entah dengan mencarinya atau membelinya, itu tergantung selera dan kekuatan kita untuk mengira-mengira. Ingat jangan sampai kehilangan niat, niat harus selalu dipelihara di sini, kalau tidak kita hanya akan berandai-andai untuk bergerak membuatnya.
Di sini lah kita diuji untuk mengasah kretifitas serta menjadikan proses ini sebagai taruhan atas niat yang kita rawat di awal tadi, proses ini menjadi penting dan sangat religius saya kira. Kenapa religius? Jika saja nantinya dalam pembuat ketapel kita tidak konsentrasi dan tidak serius, bisa saja nantinya ranting itu patah ketika memahat untuk pengikat karetnya. Artinya kita harus mengulang itu dari awal. Atau karetnya terputus, syukurnya kalau kita membeli lebih, kalau tidak? Ya artinya sama, kita harus mengulang dari awal. Intinya ini harus sangat serius dikerjakan karena menyangkut semuanya, baik kelanjutan proses serta niat di awal tadi. Kita harus menuangkan hati, pikiran, serta tubuh ke dalam proses membuat ketapel dari tahap ke tahap. Makanya saya katakana ini adalah proses perjalanan yang sangat spiritual dan religius.
Proses ini juga penting untuk dipersiapkan dalam proses selanjutnya ketika dirasa ketapel yang sudah dibuat siap untuk dimainkan. Bagaimana kita tahu bahwa ketapel sudah siap untuk dimainkan? Baiklah, saya kira untuk mengira-ngira itu pertama kita bisa lihat dari perasaan kita ketika melihat bentuk ketapel yang kita buat, jika timbul perasaan merasa keren dan bahagia, itu artinya ketapel siap dipakai. Kedua, kita persiapkan peluru baik itu dari batu krikil kecil atau apapun yang sekiranya berbentuk bulat kecil seperti batu misalnya biji-bijian buah. Tembak saja dulu asal-asalan, sampai nanti timbul lagi perasaan merasa keren dan merasa bahagia. Jika sudah, siapkan peluru sebanyak-banyaknya.
Ini dia, proses yang sangat membingungkan dan kadang membuat kita berpikir ulang bahkan berulang-ulang. Untuk apa membuat ketapel? Ini sedikit filsuf jika berpikir dan balik ke awal niat tadi. Kadang kala kita sangat menggebu-gebu membuat niat untuk sesuatu, tanpa kita tahu sasaran yang mana yang akan menjadi fokus. Katakanlah sekarang misalnya kita membuat ketapel untuk mencari buah, buah yang seperti apa? Apakah mencari buah stroberi kita membutuhkan ketapel? Katakanlah sekarang jika kita memilih buah yang ada di ketinggian pohon. Pohon yang seperti apa? Sebab logiskah kita menembak buah kelapa yang sangat erat itu dengan ketapel?
Maka kita lupakan saja soal mencari buah. Kita ganti untuk berburu hewan, tetapi pertanyaanya tetap sama. Hewan yang seperti apa? Memburu ikan di dalam laut, perlu ketapel? Betapa filsufnya kita mulai berpikir untuk mencari sasaran yang ingin kita tembak. Mari, untuk mempermudah ini kita sama-sama sepakati kegunaan ketapel yang kita buat untuk latihan menembak sasaran saja, agar tidak pusing dengan banyak pertanyaan-pertanyaan filsuf tadi. Sebab ini adalah satu-satunya hal paling mudah untuk menentukan sasaran, kita cukup ambil kemasan air mineral botol yang bekas kemudian isi air sedikit agar tidak mudah jatuh saat tertiup angin, lalu taruh beberapa meter dari tempat anda ingin menembak sasaran. Usahakan tempatnya terbuka dan jauh dari keramaian, misalnya tanah lapang. Jika sudah, selamat bermain!
Kemudian kita mulai bertanya-tanya, apakah korelasi antara tahun 2021 dengan cara membuat ketapel? Hal yang ingin saya sampaikan sekiranya adalah bahwa pada proses pengandaian ini saya mencoba menaruh niat untuk menggapai suatu hal, dan tentu dalam niat-niat tersebut banyak hal pula yang harus dibangun serta dipersiapkan. Kemudian menentukan sebuah impian serta cita-cita yang dirasa begitu absurd jika dipikirkan kembali.
Saya mencoba merealitaskan dan mencoba membuat sasaran itu dari hal-hal yang mudah dan ada. Kemudian menajdikan harapan itu sebagai peluru, membidiknya secara teliti bertaruh dengan niat, bekal, dan harapan yang ada pada tubuh saat ini. Menjelma sebuah ketapel yang kini ditarik oleh pemainnya dan tassssshhh! Kena atau tidak pada sasaran? Mari kita mulai tahun ini dengan menentukan niat dan sasaran. Masalah kena atau tidak, itu urusan alam. Selamat tahun baru, salam dari Teater Kalangan untuk tahun 2021 ini. Semoga kita sama-sama mengenai sasaran.[T]


RIBUAN sekaa genjek dari pelbagai penjuru di tanah Karangasem, Bali, tumpah ruah di Taman Ujung, Karangasem, Rabu (10/8/2016) siang. Ada yang datang menggunakan truk, mobil pik-up,...
PEREMPUAN mana sih yang tidak menginginkan tubuh indah dan dipuji banyak orang? Memiliki tubuh indah adalah impian setiap perempuan di dunia. Tapi, bagaimana dengan perempuan yang...
“Mama, please take this badge off of me, I can’t use it anymore.” (Knockin’ on Heaven’s Door - Bob Dylan) JAUH sebelum seniman besar pengusung musik balada itu berbicara murung pe...
KULIAH Kerja Nyata (KKN) seringkali menjadi senjata tajam yang dengan segala keunikannya dapat memisahkan pasangan yang bahkan telah menjalin hubungan selama bertahun-tahun. Karena...
Catatan Harian Sugi Lanus 10 Agustus 2016 . APA Bahasa Bali "Happy Birthday" & "Happy Anniversary"? Jawaban untuk pertanyaan itu adalah "rahajeng dina otonan" dan "rahajen...
BOLEH jadi, setelah membaca tulisan ini saya menjadi cukup terkenal karena mendapat protes dari kelompok pro KKN tanpa cinlok atau cinta lokasi. Bagaimana tidak, pendapat saya just...
SIAPA pun yang bicara jalur shortcut Denpasar-Singaraja selalu tampak bersemangat. Optimis. Seakan-akan setelah jalur shortcut terwujud, masyarakat akan langsung sejahtera. Padaha...
SELEBRITI artinya orang terkenal, termasyur, tersohor. Untuk menjadi terkenal, banyak hal bisa dilakukan. Jika seseorang berbuat aneh-aneh, masuk dalam kategori pemecah rekor, dia...
KULIAH Kerja Nyata (KKN) mahasiswa dulu dan sekarang itu sangat jauh berbeda. Sekitar tahun 1970-an hingga 1980-an KKN benar-benar program yang ditunggu-tunggu masyarakat desa. Mah...
Judul Buku : Badriyah # Pengarang : Ayu Weda # Penerbit : Gambang Buku Budaya # Tahun Terbit : Maret 2016 # Jumlah Halaman : xiv + 207 halaman # ISBN : 978-602-6776-15-0 PEREMPUAN...