Topeng Tugek Carangsari – Memainkan Topeng Mengolah Karakter
KALANGAN Ayodya di Taman Budaya Bali, malam itu begitu riuh. Gelak tawa dan tepuk tangan terus berganti. Penonton berjejalan. Duduk berdesak-desakan. Banyak yang akhirnya duduk les...
Śāstra berasal dari dua kata yakni ‘Śās’ dan ‘tra’. ‘Śās’ yang berati alat, dan ‘tra’ yang berati ukur. Jadi Śāstra adalah alat ukur yang dipakai dalam kehidupan sehari-hari. Yang mana Śāstra ini bagaikan cahaya dalam melakukan suatu aktivitas keseharian.
Di Bali banyak karya śāstra yang dapat dijadikan cerminan kehidupan. Dan śāstra juga bisa dijadikan pondasi. Dengan kita mengetahui serta memahami berbagai jenis karya śāstra dan mampu menemukan nila-nilai yang dapat diimplementasikan dalam kehidupan. Maka kita dapat memperkokoh pondasi diri kita dan kita mampu berbagi dengan orang lain.
Sejatinya kita belajar śāstra bisa dengan guru dan belajar śāstra yang banyak agar pondasi diri kita tetap kuat dan kokoh. Sebagai mana yang tersirat di dalam Geguritan Sucita II pada pupuh Ginanti yang berbunyi:
Maguru masih pang liyu śāstrané sahi wacénin, mlahang nyaringin ring manah, pang bakat sarinnya sami, né ncén jelé dadi tinggal, sané tuhu anggén margi. (Jlantik, 2006:77)
[Bergurulah supaya banyak śāstra yang sering kita baca, hati-hati menimbang [menyaring] pada diri sendiri, supaya kita mendapatkan semua sarinya [inti], yang mana tidak baik bisa kita tinggalkan, yang baik dan kita ketahui dapat dipakai sebagai jalan]
Saya rasa kutipan tersebut sangat jelas menguraikan tentang śāstra yang notabena sebagai jalan atau sebagai cerminan dalam kehidupan. Dan kita dapat membaca dan memahami berbagi jenis karya śāstra namun itu, perlu kita saring karena ada beberapa karya śāstra yang sangat pingit. Kendati pun itu dibaca harus di dampingi oleh guru atau tutor yang berpengalaman dibidangnya. Tujuan dari kita membaca atau memahami berbagai karya śāstra tiada lain adalah untuk mendapatkan sari atau inti dari sastra tersebut.
Setiap śāstra yang ada di Bali pasti memiliki inti sari dan makna yang terkandung di dalamnya. Dalam pencarian inti dan makna diperlukan suatu metode sebagai pengantar untuk menemukan sebuah makna yang tersirat dalam karya śāstra. Metode yang mudah diterapkan adalah dengan cara membaca sebuah teks atau karya śāstra.
Dengan membaca kita akan menemukan sebuah esensi baru dan tantangan yang baru untuk menemukan sebuah inti dan sebuah makna. Ketika kita membaca karya śāstra dan sudah menemukan sebuah makna yang terkandung di dalamnya. Sedikit tidaknya kita memahami apa inti sari yang ada di dalam sebuah karya śāstra. Ketimbang kita tidak pernah membaca sebuah karya śāstra, kita bisa dikatakan sebagai orang tuna/bodoh. Sebagai mana yang diungkapkan dalam gaguritan sucita pada pupuh ginanti yang berbunyi:
Paplajahan dahat liyu, adwa tuhu tan kauningin, tuna śāstra ngardi iwang, babandingan twara polih, enggal ngugu né tan saja, tatwa jati tan demenin. (jlantik, 2006:77)
[Pelajaran itu sangat banyak, pelajaran itu bagaikan cahaya yang tidak diketahui, dengan kita tidak mengetahui śāstra dapat menyebabkan kita salah [bodoh], jika dibandingkan kita tidak akan mendapatkan apa-apa, dan cepat percaya terhadap hal-hal yang tidak benar, selain pelajaran śāstra, tatwa yang sejati pun tidak disukai.]
Melihat kutipan di atas, bahwa ketika kita tidak suka dengan śāstra, tatwa dan belajar yang sungguh-sungguh maka kita akan bodoh. Dan kita tidak akan mendapatkan apa-apa. Dan lebih parah lagi jika kita tidak mengetahui śāstra maka kita dengan mudahnya orang untuk menipu kita. Karena kita akan mudah percaya terhadap hal-hal yang kebenarannya belum dapat diuji atau belum dapat dibuktikan dengan yang nyata. Artinya kebenarannya masih mengambang. Sejatinya śāstra, dan tatwa dapat menguatkan pondasi diri kita. Karena dengan memahami śāstra, dan tatwa kita mampu untuk mempertahankan dan mengokohkan pondasi yang sudah kita bangun dengan cara belajar.
Dan sering kita dengan sebuah celontengan yang berbunyi: ulah aluh elah alih, gangsaran tindak kirangan wiweka. Jika dalam arti dari kata tersebut bahwa kita dituntut untuk berpikir serta menggunakan segala taktik dan pola pikir kita untuk melakukan sesuatu hal. Karena dengan kita berpikir serta mempertimbangkan berbagai resiko. Dengan kita menggunakan pikiran maka sedikit tidaknya resiko itu dapat kita netralkan. Dan kita menjadi gampang dalam melakukan sebuah aktifitas, dan kita disuruh untuk tetap berpatokan kepada śāstra maupun tatwa.
Karena dalam śāstra maupun tatwa sudah diberikan sebuah petuah yang patut diimplementasikan ke dalam kehidupan sehari-hari. Namun, sampai kapankah śāstra, maupun tatwa bisa membangun sebuah pondasi yang fundamental di kalangan generasi muda? [T]
Refrensi
KALANGAN Ayodya di Taman Budaya Bali, malam itu begitu riuh. Gelak tawa dan tepuk tangan terus berganti. Penonton berjejalan. Duduk berdesak-desakan. Banyak yang akhirnya duduk les...
JIKA di atas meja belajar anda terdapat dua buah benda yaitu gadget dan buku, manakah yang akan anda pilih? Saya percaya, demi sinetron kesukaan ibu-ibu di tivi, kebanyakan dari a...
LAGU anak-anak itu kadang unik, terutama liriknya. Saat Taman Kanak-Kanak dulu kita tidak begitu hirau dan memang tak banyak mengerti arti dan maksud lagunya itu apa. Cuma nyanyi d...
BALI merupakan kepulauan seribu pura yang telah terkenal sejak zaman dahulu. Masyarakat Bali tak lepas dari Tri Hita Karana yang merupakan landasan kehidupan beragama dan beradat....
JIKA benar harga rokok setinggi langit biru, dan jika benar harga tinggi itu bisa menghentikan orang merokok, dan (siapa tahu) nanti benar-benar tak ada yang merokok, bagaimana nas...
PERNAH nyuluh jangkrik? Zaman saya kecil, di desa saya di Jembrana, nyuluh jangkrik (memburu jangrik malam hari) adalah kegemaran saya dan teman sebaya. Jauh-jauh sebelumnya, bapak...
Cerpen: Putri Handayani HAMPIR setiap hari Griya Siwa tidak pernah sepi dari orang-orang yang ngayah1. Mulai dari membuat sarana upakara sampai meracik tirta, semua dilakukan oleh ...
KELAHIRAN istilah 'simakrama' menarik untuk ditelusuri. Awalnya istilah ini yang lebih mengarah pada padanan kata 'silahturahmi', yang mencerminkan keinginan untuk berbicara dan sa...
ADA serombongan remaja sedang berebut peran. Mereka akan menjadi pelakon sandiwara dalam perayaan Agustusan tingkat RT. Peran konglomerat, menteri, dokter, mahasiswa, semua mereka...
GARIS berliku itu menyerupai sungai. Lebar di hulu kemudian menyempit di hilir. Warnanya hijau, biru, dan jingga. Garis berliku serupa sungai itu membelah lukisan menjadi dua bagia...