Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar
10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi pada tulisan. Satu kolom pada...
Bali kental akan tradisi, budaya, adat-istiadat. Di sisi yang lain, Bali juga terkenal dengan adanya dialek. Dialek di setiap daereh di Bali berbeda-beda. Ini yang menjadikan Bali, meski kecil, namun sangat beragam.
Dialektologi merupakan cabang ilmu bahasa yang fokus terhadap dialek-dialek.
Kabupaten Bangli adalah salah satu kabupaten yang di Bali yang memiliki desa bali mula/bali aga sekaligus juga “desa bali dataran”. Desa bali mula/bali aga berada di sejumlah kecamatan. Dan “bali dataran” kebanaykan berda pada daerah perkotaan/kota Bangli.
Bali mula/bali aga lebih dominan berada di Kecamatn Kintamani. Karena Kintamani adalah salah satu kecamatan yang secara geografis memang benar berada di daerah pegunungan.
Kecamatan Kintamani memiliki desa bali mula yang kental dengan bahasa, budaya, adat-isitiadat. Salah satu desa bali mula yang terletak di Kecamatan Kintamani adalah Desa Kedisan. Desa Kedisan yang konon merupakan desa bali mula yang memiliki peradaban yang sangat tua dan panjang. Warga Desa Kedisan juga menggunakan dialek bali mula yang unik karena dialek yang di gunakan oleh Desa Kedisan, jarang dapat kita temui di daerah lain. Salah satu contohnya yaitu:
Okék nyen! Jika kita dengar dialek tersebut mungkin tidak akan mengerti. Dialek tersebut jarang digunakan oleh daerah lain. Dialek tersebut saya temukan di Desa Kedisan, Kintamani. Jika diartikan logat tersebut memiliki arti “Masak ya!?” Kedengarannya pun sangat unik.
Selain itu, di Desa Kedisan, Kintamani, masih terdapat beberpa kosa kata yang jarang saya temukan di daerah lain. Bisanya dialek yang mereka gunakan dalam melakukan interaksi sosial semasa kerabatnya. Saya akan mencoa membuat sebuah dialog yang menggunakan dialek Desa Kedisan.
Kata-kata yang bercetak tebal merupakan dialek khas Desa Kedisan, Kintamani, yang jarag saya temukan di daerah lain. Dialek di atas merupakan dialek keseharian masyarakat Desa Kedisan, Kintamani. Dialek tersebut masih dapat kita temukan sampai sekarang. Jika kita artikan kata demi kata yang bercetat tebal tersebut. Dapat kita lihat dibawah ini:
Kata tersebut sengaja saya pilah agar memudahkan dalam mengartikan kata bercetak tebal diatas. Disamping itu juga, agar memudahkan dalam membaca dialog diatas. Selain itu, dialek tersebut menjadi ciri-ciri dari Desa Kedisan, Kintamani. Yang dapat membedakan Desa Kedisan dengan yang lainnya, sekaligus memicu timbulnya suatu persaudaran baru dan keberagaman. Maka dari itu, dialek ini sangat penting untuk dilestarikan dan dipertahankan di tengah gerusan zaman modrenisasi.
Namun, seiring perkembangan zaman yang serba ITE seakan-akan dialek itu akan dilupakan. Karena masuknya budaya asing dan bahasa asing ke Bali sedikit demi sedikit dialek ini akan menurun. Maka dari itu, sudah sepantasnya kita semua mengambil andil dalam pelestarian dialek. Apakah diaelek ini akan tetap lestari di tengah arus globalisasi? [T]
10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi pada tulisan. Satu kolom pada...
SEKAA Dramatari Arja Sudhamala ini baru pertamakali pentas di ajang Pesta Kesenian Bali (PKB). Bahkan, sekaa kesenian tradisional Bali yang memadukan unsur drama, tari, dan nyanyi...
LAGU “A Salty Dog” oleh Procol Harum (1969), dengan lirik karya Keith Reid, adalah elegi tentang pelayaran terakhir, tentang manusia yang berangkat dengan keberanian, namun akhirn...
PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa kehadiran Presiden Prabowo Subianto sempat menimbu...
“Kalau mau menjadi penulis hebat, tulis yang unik dan autentik.” Kalimat itu meluncur dari mulut sastrawan Bali, Gde Aryantha Soethama, dalam acara ‘NGERUMPI’: Ngobrol Se...
MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa. Apalagi ketika ia mulai berbicara dengan logat...
DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku diajari bahwa Barong adalah pelindung, bukan pemangsa....
Yang Tua yang Tak Mau Purna Segara punya pantai sebagai batas gelombangSungai punya sempadan untuk batas aliranTetapi tidak bagi yang tua yang tak mau purnaMereka tak punya bat...
“Mari kawan bersama kita bekerja, bersihkan lingkungan….” ITU adalah penggalan tembang yang menjadi salah satu hal menarik dari pementasan kesenian janger tradisi d...