Sudah setahun lebih saya tinggal untuk bekerja di Niseko, Hokkaido, Jepang. Kawasan tempat saya bekerja ini tersohor akan ski resort-nya, yang mana hotel-hotel mengedepankan ketersediaan ski-in dan ski-out.
Di Bali hotel seperti berlomba mencari lokasi terdekat dengan bibir pantai. Tentu agar tamu, keluar dari kamar, langsung bisa berjemur ke pantai atau nyebur ke laut. Tapi hotel di kawasan ski ini, seperti Niseko Village, Hirafu, Annupuri, dan Hanazono ini, seakan berlomba membuat kamar sedekat mungkin dengan ski area. Jadi begitu tamu telah mengenakan atribut ski yang aduhai ribetnya itu, tamu bisa segera meluncur berski-ria dan kembali juga dengan berski menuju hotel.
Kalau sunset Bali terkenal dengan beach viewnya, sementara Niseko, tentu saja dengan layer saljunya. [Foto: Riris Sanjaya]
Jadi jangan heran kalau pemain ski kelas berat, akan memilih kamar yang luasnya tidak seberapa tapi begitu keluar pintu lobi langsung bisa meluncur di atas salju, dibandingkan ditawari free upgrade ke private townhouse yang mewah dan megah tapi harus naik mobil dulu sebelum bermain ski.
Tentang keribetan pakaian ski? Aduh, makebek sekali, Jon! Saya yang sudah setahun di daerah itu, pada akhirnya mencoba ski untuk pertama kalinya pada 5 Januari 2021, setelah memasuki Winter Season kedua saya di Niseko. Saya sungguh termehek-mehek dengan kelengkapan pakaian ski yang harus saya kenakan demi kelancaran acara ber-ski itu.
Dari atas hingga bawah, dimulai dari helmet, goggle, neck warmer, dalaman heattech teknologi Jepang atas dan bawah, atasan cukup tebal, jaket ski, celana ski, gloves, kaos kaki, ski boots. Kemudian untuk perlengkapan, menggunakan ski poles dan tentu saja ski boardnya. Inilah adalah salah satu alasan saya menunda-nunda percobaan ski sejak tahun lalu.
Area First Timer. [Foto: Riris Sanjaya]
Ketika awal saya datang, saya sungguh tidak memiliki keberanian mencoba ski meskipun tertarik. Alasannya ada beberapa, salah satunya malas keluar uang untuk biaya asuransi ski, sewa pakaian, sewa alat, dan tentu saja paling takut kalau sampai cedera. Saya sungguh berhati-hati akan setiap kegiatan yang saya lakukan selama bekerja di Jepang ini, terpisah dari anak, suami, dan keluarga besar. Jangan sampai membuat khawatir dan tentu saja harus pintar menjaga diri karena tinggal sendiri.
Tahun lalu segala kelengkapan ski dan snowboard disediakan oleh penyedia jasa sewa di dalam hotel. Tapi sehubungan dengan usaha mencegah penyebaran virus Covid-19, beberapa item tidak lagi disewakan, seperti goggles dan gloves. Saat saya mencoba mengenakan skiboots, akhirnya rasa penasaran saya terselesaikan.
Saya kerap mengernyitkan dahi ketika melihat para tamu berlalu lalang di depan lobi berjalan seperti robot punyah. Jalannya per langkah demi langkah, kemudian agak miring-miring seperti habis minum sake. Ternyata bentuk ski boots memang tidak mengijinkan kaki kita berdiri lurus. Hahaaa dasar first timer!
Memang segala sesuatu kalau tidak kita coba sendiri, bisanya cuma bertanya-tanya dalam hati, atau kalau buat tipe yang lebih rajin dari saya, tanya-tanya Mbah Google.
Usai membayar biaya rental alat-alat ski dengan melampirkan approval form dari manager, saya mendapat potongan harga 50%, saya dan Jaycy yang telah menghubungi salah satu teman instruktur untuk mengajari kami bermain ski, beriringan menuju ski area. Tentu saja, area FirstTimer. Hahahaa
Pokoknya biar pernah [Foto: Riris Sanjaya]
Ah, rasanya menakjubkan ketika saya menyadari saya masih dibolehkan mencoba hal baru. Saya pikir saya sudah cukup tua untuk memulai, terutama dalam hal olahraga. Saya merasa sebagai seorang ibu yang sudah melahirkan dua kali, tubuh saya sebaiknya hanya melakukan relaksasi ringan saja, jogging dan yoga sudah maksimal. Tapi kini, saya malah menikmati sensasi meluncur di atas salju dengan ketidaktakutan untuk jatuh dan terjerembab.
Saya terinspirasi oleh para tamu jepang. Mereka sudah terbilang renta secara usia, tetapi berjiwa pelita. Sejak Winter Season 2020 dimulai, dari 1 Desember, saya ditugaskan di front desk. Setiap hari main job saya adalah menangani check-in dan check-out. Dari menyambut kedatangan tamu-tamu yang pasangan muda, kemudian keluarga, hingga saya terkesan akan banyaknya kakek dan nenek yang datang bermalam dengan tujuan utama bermain ski. Bukan paruh baya, tapi sungguh sudah lanjut usia.
Magic carpet, menuju ski base camp. [Foto Riris Sanjaya]
Teman instruktur, Hana-chan, orang Taiwan yang mahir bahasa Jepang dan Inggris. [Foto: Riris Sanjaya]
Once in a lifetime! {fptp Riris Sanjaya]
Mereka terlihat lihai dan sungguh mandiri mengurusi seluruh perlengkapan ski yang sudah mereka kirim dari rumah masing-masing dengan layanan takkyubin, jadi mereka tidak usah sibuk menyewa alat karena sudah membawa peralatan andalan sesuai ukuran mereka. Dan, herannya lagi, mengingat perjalanan dari bandara sampai Niseko kurang lebih 3 jam, usai check-in mereka langsung bergegas ganti pakaian dan langsung meluncur. Tinggallah saya yang terbelalak di lobi melihat para lansia penuh stamina.
Ada tamu-tamu yang datang setiap tahun, ada yang datang dalam satu bulan yang sama berkali-kali, ada pula yang menginap selama 3 bulan hampir selama winterseason. Tamu-tamu ini kami golongkan menjadi VIP, superrepeaterguests, yang tentu saja nama dan preference kamarnya sudah kami siapkan betul. Berbeda dengan tahun lalu, karena border ditutup untuk kedatangan WNA, kami hanya memiliki tamu domestik. Itupun jumlahnya menurun karena GoToCampaign, program diskon dari pemerintah kepada seluruh penduduk Jepang untuk menghidupkan kembali perekonomian negara, dihentikan sementara akibat merebaknya kembali kasus Covid-19.
Ah, pengalaman bermain ski pertama saya, sungguh menyenangkan sekaligus menyedihkan pada saat yang sama. Saya senang bisa menikmati salju segar Niseko yang terkenal dengan istilah JapanPowder leluasa seperti dalam privatearea, tetapi ngenes karena sadar tidak banyak tamu-tamu yang bisa datang meluncur di area ski karena kendala pandemi.
Eh, sebentar! Tentu saja saya merasa bebas dan leluasa tidak ada banyak orang, karena saya dan Jaycy saja yang masuk kelas First Timer. Hahhaaaa. [T]
DALAM berbagai diskusi mengenai kewirausahaan, ada satu narasi yang terus berulang seperti sebuah gema yang tak kunjung reda. Ketika seorang calon wirausaha ditanya mengenai apa y...
SETELAH melewati rentetan perawatan medis yang panjang dan melelahkan, pernahkah Anda berbisik pada diri sendiri, "Apakah tubuh ini akan kembali seperti sediakala?"
Pertanyaan...
PAGI INI saya teringat mendiang Ida Bagus Ketut Dharma Santika Putra, sahabat dan guru kami dalam dunia sastra dan budaya di Jembrana-Bali, yang telah berpulang pada 21 Januari 20...
KRISIS iklim bukan lagi ramalan apokaliptik di makalah-makalah seminar melainkan kenyataan di depan mata semua bangsa. Ayolah jujur mengakui ironi ini: hutan-hutan terbaik yang be...
"YANG kami bangun bukan sekadar ruang publik yang indah, tetapi juga ruang yang mampu mengingatkan masyarakat akan perjalanan panjang Kota Singaraja," ujar Bupati Buleleng, dr. I...
JAUH sebelum psikolog modern David Dunning dan Justin Kruger merumuskan Dunning-Kruger Effect pada tahun 1999, pujangga Jawa Kuno telah meramalkan akan datang orang-orang yang dan...
HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai marmer rumah mewah di kawasan elit. Suara temba...
MENJELMA KATA DI KURUSETRA BERANDA
mata-mata telingasulih gaduh suaralahir ribuan kekata
jemari adalah ujung belatirobek halus di layar tanduskebajikan serta kebijakan berbe...
TEPAT hari Sabtu, 13 Juni 2026, saat Renon sedang menyengat, ribuan orang memadati kawasan Monumen Perjuangan Rakyat Bali di Denpasar. Di tengah gemuruh tabuh dan warna-warni busa...
RAHWANA adalah nama yang kerap kali tidak membutuhkan pengantar. Ia hadir lebih dulu dari ceritanya; datang sebagai prasangka sebelum sempat dikenali secara utuh dalam epik Ramaya...