Puisi-puisi Putu Intan Juliantika | Lintang Perahu Pegat
LINTANG PERAHU PEGAT Dari perut bundaPertama kalinya aku hidupDari perut bundaPertama kali aku dipeluknya Tak ingat apa yang terjadi sebelumnyaTak tahu apa yang terjadi ke d...
Pada tanggal 1 Agustus 2002 Kulidan Kitchen mengadakan pameran seni dengan tema kedaulatan pangan di masa pandemi. Pameran ini merupakan suara dari para seniman untuk memperhatikan kedaulatan pangan dan akses pangan yang adil bagi semua kalangan di masa pandemi. Masing masing seniman menuangkan gagasan kreatifnya di berbagai sarana.
Di dinding ruang galeri sisi selatan, ada satu lukisan yang unik. Keunikannya terletak pada media yang digunakan dalam karya seni tersebut yaitu kardus bekas kemasan barang elektronik yang dipotong berbentuk persegi panjang dengan ukuran sekitar 44 inch dan lebar hampir 31 inch.

Kardus bekas dilukis dengan tinta china berwarna hitam dan putih serta dihiasi dengan tulisan. Hasil lukisan itu tampak seperti gambar nyata berwarna hitam putih. Kehandalan Slinat di sini yaitu memanfaatkan wadah pengemasan barang yang biasanya dibuang setelah diambil isinya menjadi media untuk bersuara lewat paduan kuas dan tinta. Hasil dari karya ini diberi judul “Pariwisata Macet Jalan Raya Lancar”.
Saat lukisan tersebut diamati dari kiri ke kanan, akan tampak tiga hal yaitu: tulisan di kiri atas, seorang perempuan yang memikul hasil panen dari ladang sambil mengenakan masker penutup wajah dan tulisan di kanan bawah. Tiga hal ini mengandung pesan yang berkaitan satu sama lain yang kemudian dapat mengundang suatu pertanyaan mengenai posisi pertanian dan pariwisata dalam kehidupan sosial ekonomi Bali.
Tulisan di kiri atas berupa korona, pariwisata macet, jalan raya lancar. Dijabarkan dalam suatu paragraf dapat diungkapkan bahwa sejak pandemi covid-19 melanda seluruh dunia termasuk Indonesia, jumlah kunjungan wisatawan mancanegara dan domestik yang datang ke Bali menurun drastis. Banyak negara melarang warganya melancong ke luar negeri. Pemerintah daerah di Indonesia memberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat hingga Pembatasan Sosial Berskala Besar untuk mencegah penularan virus. Pariwisata terpukul keras hingga pertumbuhan di sektor tersebut nyaris 0%.
Masyarakat Bali sudah merasakan bagaimana beratnya memelihara akomodasi pariwisata seperti perawatan gedung, fasilitas untuk tamu dan peralatan penunjang kegiatan bisnis di tengah sepinya pemasukan. Puluhan ribu pekerja dirumahkan bahkan di PHK. Ratusan ribu yang masih bekerja di gaji tak tentu karena pengurangan jam kerja.
Mereka pusing tujuh keliling untuk mencukupi kebutuhan ekonomi. Para pekerja ini sulit memperoleh nutrisi yang layak sehingga perlu diadakan bantuan sosial. Saatnya mempertanyakan pariwisata massal yang berlangsung karena ketidakadilan terhadap pekerja sering terjadi. Perlu diadakan diskusi publik hingga rapat umum mengenai pariwisata yang berkeadilan sosial.
Di sisi lain, volume kendaraan yang datang dari luar Bali mengalami penurunan. Sepinya kunjungan menyebabkan jumlah kendaraan yang terparkir meningkat karena rendahnya penyewaan dan perjalanan. Ditambah dengan himbauan PKM dan pembatasan kerumuman publik , lalu lintas di Bali lebih lengang daripada biasanya. Ada sedikit hal baik di tengah masalah berat yaitu waktu tempuh ke tempat tujuan lebih singkat juga tingkat kebisingan yang mereda. Bagi yang amat tidak suka bising, ini membawa segelintir kebahagiaan.
Geser kedua bola mata ke tengah, akan dijumpai gambar seorang petani perempuan yang mengenakan masker menjual hasil panen ke pasar. Ini menandakan wabah covid 19 berdampak serius pada warga di pedesaan. Di Bali setengah atau lebih total konsumsi hasil pertanian, peternakan dan perikanan dilakoni oleh sektor pariwisata seperti rumah makan, hotel, dan tempat wisata. Belum lagi vila dan penginapan murah yang menyediakan dapur buat pada pelancong yang sering ke pasar atau swalayan membeli bahan makanan.
Rendahnya tingkat keramaian di pusat perbelanjaan dan banyaknya pekerja dirumahkan menyebabkan penurunan konsumsi makanan di sana maupun di pinggir jalan atau kios makanan kecil untuk menghemat pengeluaran. Roda perekonomian melambat. Para petani yang biasa bergantung pada hal-hal tersebut kewalahan karena banyak sekali produknya yang tidak terserap sehingga selisih hasil penjualan dengan biaya produksi amat tipis bahkan lebih besar yang kedua sehingga mengalami kerugian.
Banyak pedagang pasar tradisional menyadari menurunnya permintaan terhadap produk yang biasa dijajakan. Ini dipengaruhi oleh lesunya pariwisata Bali karena dua per tiga penduduk Bali secara langsung maupun tidak langsung hidup dari pariwisata. Kecilnya pendapatan memaksa untuk membeli sedikit.
Di bawah gambar lengan kanan , terdapat tulisan yang bunyinya bercocok tanam, panen makan, subak macet. Lahan hijau di Bali terus dikikis demi pariwisata. Sawah dan kebun ditutupi bangunan dan beton untuk melayani wisatawan dan kendaraan. Daerah resapan air menipis.
Pendirian vila dan penginapan dapat dikatakan nyaris liar. Tidak ada informasi apakah semua itu sudah memenuhi ketentuan Izin Mendirikan Bangunan atau Analisa Dampak Lingkungan bagi bangunan besar seperti hotel berbintang. Penegakan hukum tata ruang tidak dijalankan dengan tegas.
Air yang seharusnya mengaliri sawah, pekarangan dan kebun yang terdapat tanaman dapat dimakan dialihkan untuk vila dan hotel. Ini yang membuat subak jadi macet. Konsekuensinya, sawah sulit mendapat pasokan air yang vital bagi produksi beras. Kemudian, beras yang dihasilkan dari lahan tersebut tidak maksimal. Hal ini mendorong para petani semakin meninggalkan mata pencahariannya lalu mendorong subak beralih fungsi untuk dapat uang dalam jumlah banyak dan singkat supaya hidup layak.
Dalam hubungan antara sawah, ruang hijau dan bangunan yang membetoni lahan, wisatawan asng ingin menikmati Bali yang otentik dengan subak dan kebun sayur dan buah tropis dimana jarang ada di kebanyakan negara asal wisatawan ini melancong. Terus terkikisnya sawah dan kebun yang ditanami tanaman yang dapat dimakan, semakin membuat udara jadi gerah karena beton dan aspal membuat gas rumah kaca tidak diserap menjadi nutrisi bagi tanaman untuk hasilkan oksigen. Lahan hijau berbentuk kebun organik yang diselingi pepohonan tinggi dan hutan berfungsi untuk penyerapan dan penampungan air saat hujan. Keduanya berfungsi sebagai nutrisi bagi manusia.
Dalam hal ini, ekowisata subak Sembung di Denpasar utara menjadi oase di tengah himpitan lahan beton. Ia adalah contoh dimana produksi pangan berjalan bersamaan dengan pariwisata. Di situ menjadi tempat yang menampung keragaman flora dan fauna kota Denpasar. Akses yang dekat dari kota menjadi daya tariknya untuk dikunjungi.
Masyarakat dapat menelusuri persawahan sekaligus memperoleh udara yang lebih segar. Pengelolaannya dilakukan oleh komunitas di sana. Uang dari biaya parkir kendaraan menjadi pendapatan tambahan untuk petani di situ.
Untuk ke depannya, perlu dibangun sejenis pusat informasi dimana menyajikan sejarah pendirian subak Sembung, jenis tanah dan kandungan kimia tanah di situ, dan keragaman hayati hewan dan tumbuhan serta perannya dalam menjadikan padi hidup layak. Ini membuat pengunjung lebih menghargai ekosistem sawah. Berpotensi menjadi wisata ilmiah karena pengunjung mendapat ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan kehidupan sehari hari yaitu peran tanah, biotanya serta hewan lain di sawah dalam produksi beras.
Pemerintah semestinya memodali petani di sana untuk mendirikan tempat penggilingan sekam dan pengolahan jerami padi serta limbah sekam untuk menjadi suatu produk bernilai ekonomi yang akan meningkatkan taraf hidup petani sehingga mereka mendapat semakin banyak manfaat yang berkelanjutan dari merawat subak. Di sinilah peran pemerintah dalam penelitian dan pengembangan.
Di masa pandemi ini juga ada komunitas seka teruna yang bercocok tanam seperti di Kebun Berdaya yang terletak di banjar Tegeh Sari, Desa Pakraman Tonja, Kota Denpasar. Komunitas di Banjar tersebut mengelola kebunnya dari membabat semak lalu ditanami horticultura. Ada juga yang membangun kolam lele di situ. Ini berarti memproduksi vitamin, serat dan protein dalam satu lokasi.
Dalam budidaya lele, para pemuda ini kreatif dalam mensiasati mahanya pakan yaitu membudidayakan magot. Jika ketiga pesan dalam karya seni itu ditarik kesimpulan dalam satu kalimat maka intinya adalah jagalah pertanian di tengah dominasi ekonomi pariwisata karena manusia jauh lebih butuh nutrisi daripada pariwisata. [T]
LINTANG PERAHU PEGAT Dari perut bundaPertama kalinya aku hidupDari perut bundaPertama kali aku dipeluknya Tak ingat apa yang terjadi sebelumnyaTak tahu apa yang terjadi ke d...
ADA bunyi-bunyi yang hidup begitu lama di sekitar kita hingga akhirnya menghilang dari ingatan. Ia pernah hadir setiap hari, melintas di jalan-jalan kampung, menyelinap di antara...
DENPASAR – TATKALA.CO | Seniman-seniman dari Kabupaten Buleleng tampil dengan ciri khas Bali Utara pada Peed Aya (Pawai) Pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 202...
Antara Takdir dan Kebebasan: Pertanyaan Tua yang Tak Pernah Usai Sejak manusia mulai bertanya tentang dirinya sendiri, satu pertanyaan selalu muncul: apakah hidup ini ditentuka...
Tari Siwanataraja selalu menjadi bagian penting dalam Peed Aya (Pawai Budaya) pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) setiap tahunnya. Tari yang disajikan secara megah dengan iringan...
“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you, baby ….” Ponsel Garu masih mengalunkan musik tersebut berulang-ulang di tengah hu...
JESS BUAT PRANITA DEWI Meong-meong alih je bikule—suara itu melintas dari pelataran purake satelit, kabel bawah laut, ruang transit;atma mengikutinya seperti temayang berpindah...
BULELENG – TATKALA.CO | “Festival ini merupakan ruang bersama untuk menunjukkan potensi dan kreativitas masyarakat. Melalui kegiatan seperti ini, kita dapat memperkuat jati diri d...
Ida Kade Saka Rosanta, yang kerap dipanggil Gus Moyo memamerkan karya rupanya di Rumah Berdaya, jalan Raya Sesetan 280 Denpasar. Selain lukisan, Gus Saka juga memajang hasil ngebo...
SEJAK kapan sebuah kata harus tunduk pada makna yang kaku? Padahal, di tengah masyarakat, makna kata itu justru tumbuh dan meluas. Bagi seorang epigraf dan arkeolog, kata ...