Puisi-puisi Putu Intan Juliantika | Lintang Perahu Pegat
LINTANG PERAHU PEGAT Dari perut bundaPertama kalinya aku hidupDari perut bundaPertama kali aku dipeluknya Tak ingat apa yang terjadi sebelumnyaTak tahu apa yang terjadi ke d...
Kebudayaan masyarakat masa lampau merupakan catatan sejarah yang sangat penting dan berharga. Kebudayaan tersebut dapat menjadi pedoman atau pegangan hidup bagi masyarakat masa kini dan masa yang akan datang, sehingga perlu untuk tetap mempelajari dan mewariskannya.
Salah satu kebudayaan tersebut ialah seni patung. Istilah patung dalam ilmu kepurbakalaan (arkeologi) disebut arca. Arca dalam Bahasa Sansekerta disebut bera, vigraha, atau vimba, yang berarti perwujudan dewa. Orang-orang India kemudian menggunakan istilah tanu dan rupa untuk arca guna mendekati rasa ke-Tuhanan. Arca bukan hanya merupakan sebuah karya seni semata, namun arca memiliki peranan yang penting dalam kegiatan peribadatan dan diikat oleh sejumlah ketentuan- ketentuan.
Siwa adalah salah satu tokoh dewata dalam hinduisme, sebagai dewa trimurti bersama-sama dengan Brahma dan Wisnu. Diantara ketiga dewa ini, Siwa berkedudukan paling tinggi. Kedudukan superior, yang dimiliki Siwa diuraikan dalam filsafat Saiwa-Siddhanta. Ajaran pokok filsafat Saiwa-Siddhanta adalah bahwa Siwa merupakan realitas tertinggi. Keberadaan jiwa atau roh pribadi adalah inti sari yang sama dengan Siwa, tetapi tidak identik.
Secara umum Siwa digambarkan bermahkota jatamakuta dengan hiasan ardhacandrakapala, merepresentasikan bahwa Siwa sebagai dewa penguasa dunia (Jagatnata), bertanggung jawab pada kehidupan sekaligus kematian dunia ini. Dilihat dari susunan bentuknya hiasan tersebut merupakan gabungan bulan sabit (ardhacandra) dengan tengkorak (kapala). Bulan sabit adalah simbol kehidupan atau mulainya kehidupan. Bulan sabit muncul setelah bulan mati dan setelah lima belas hari menjadi paripurna (bulan penuh) dan kembali mati (setelah purnama).
Dengan simbol ardhacandra, Siwa bertanggung jawab pada keberlangsungan hidup dunia ini. Ia yang menghidupkan, ia juga yang melenyapkan (menjadikan tiada). Kematian disimbolkan dengan hiasan kapala (tengkorak). Ciri-ciri badaniah lainnya, Siwa memiliki mata ketiga terdapat pada dahi dan membawa atribut aksamala, trisula, camara, kalasa, dan lain-lain.
Lalu sebenarnya seperti apa patung/arca dewa Siwa ini diwujudkan berdasarkan arca-arca kuno yang pernah ditemukan di Bali? Arca-arca dewa Siwa kuno ini dapat kita lihat satu di Pura Putra Bhatara Desa/Pura Desa Alit, Bedulu-Gianyar dan yang lain di Pura Pingit Melamba, Bunutin-Kintamani.
Arca Siwa di Pura Desa Alit digambarkan dengan sikap duduk ardhaparyangka (kaki kiri bersila dan kaki kanan ditekuk ke bawah) di atas padma, menggunakan jatamakuta (rambut yang dibentuk sebagai mahkota) berhiaskan ardhacandrakapala, bertangan empat (tangan kiri belakang memegang camara, tangan kanan dan kiri depan di lutut, namun telapak tangan telah patah, tangan kanan belakang memegang aksamala, tangan kanan depan di atas paha, tetapi bagian telapak patah), menggunakan kalung, upavita, gelang tangan dan kaki.
Dipandang dari gaya, arca tersebut berbentuk proporsional, muka menunjukkan ekspresi kedewataan (divine expresion), dan lemah lembut. Arca ini tergolong tipe dari abad VIII-IX Masehi. Adapun ciri-ciri dari arca periode tersebut antara lain lemah lembut, kegemuk-gemukan, bersikap tenang, mata setengah terbuka mengarah ke ujung hidung.

Sementara itu, arca Siwa di Pura Pingit Melamba yang digambarkan duduk bersila di atas asana padma ganda memiliki ciri-ciri kedewataan yang sama, bertangan empat masing-masing membawa atribut tangan kanan belakang membawa aksamala, dan tangan kiri belakang membawa kamandalu yang bertangkai dengan posisi jari manis dan kelingking menekannya. Tangan depan dalam sikap yogamudra, yaitu tangan kanan di atas tangan kiri, namun gaya seni yang ditampilkan agak kekaku-kakuan (istilah teknis yang sering digunakan untuk identifikasi gaya seni arca di Indonesia). Gaya seni seperti ini muncul pada abad X-XI Masehi.

Sumber Rujukan
LINTANG PERAHU PEGAT Dari perut bundaPertama kalinya aku hidupDari perut bundaPertama kali aku dipeluknya Tak ingat apa yang terjadi sebelumnyaTak tahu apa yang terjadi ke d...
ADA bunyi-bunyi yang hidup begitu lama di sekitar kita hingga akhirnya menghilang dari ingatan. Ia pernah hadir setiap hari, melintas di jalan-jalan kampung, menyelinap di antara...
DENPASAR – TATKALA.CO | Seniman-seniman dari Kabupaten Buleleng tampil dengan ciri khas Bali Utara pada Peed Aya (Pawai) Pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 202...
Antara Takdir dan Kebebasan: Pertanyaan Tua yang Tak Pernah Usai Sejak manusia mulai bertanya tentang dirinya sendiri, satu pertanyaan selalu muncul: apakah hidup ini ditentuka...
Tari Siwanataraja selalu menjadi bagian penting dalam Peed Aya (Pawai Budaya) pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) setiap tahunnya. Tari yang disajikan secara megah dengan iringan...
“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you, baby ….” Ponsel Garu masih mengalunkan musik tersebut berulang-ulang di tengah hu...
JESS BUAT PRANITA DEWI Meong-meong alih je bikule—suara itu melintas dari pelataran purake satelit, kabel bawah laut, ruang transit;atma mengikutinya seperti temayang berpindah...
BULELENG – TATKALA.CO | “Festival ini merupakan ruang bersama untuk menunjukkan potensi dan kreativitas masyarakat. Melalui kegiatan seperti ini, kita dapat memperkuat jati diri d...
Ida Kade Saka Rosanta, yang kerap dipanggil Gus Moyo memamerkan karya rupanya di Rumah Berdaya, jalan Raya Sesetan 280 Denpasar. Selain lukisan, Gus Saka juga memajang hasil ngebo...
SEJAK kapan sebuah kata harus tunduk pada makna yang kaku? Padahal, di tengah masyarakat, makna kata itu justru tumbuh dan meluas. Bagi seorang epigraf dan arkeolog, kata ...