Jika menyebut Djadja Laklak Pancasari, artinya itu adalah laklak milik I Gede Rena Purdiasa alias Renggo. Warungnya, ya, di Desa Pancasari, Sukasada, Buleleng, tepatnya di tepi timur Jalan Raya Singaraja-Bedugul.
Renggo berjualan laklak di tempat itu sejak 16 September 2017. Saat baru beberapa bulan berjualan, laklaknya langsung terkenal karena jaja bali ramuan Renggo itu berwarna-warni. Ada hijau, kuning, dan merah. Seperti warna tiga partai peserta Pemilu di zaman Orde Baru.
Jika dihitung dari September 2017 sampak akhir tahun 2020, artinya warung Djadja Laklak Pancasari itu sudah buka dan melayani pembeli selama tiga tahun plus tiga bulan. Memang belum terlalu lama untuk bisa disebut sebagai warung kuliner legendaris.
Para pelanggan Djadja Laklak Pancasari
Namun, jangan salah. Selama 3 tahun 3 bulan itu, laklak yang diproduksi Warung Djadja Laklak Pancasari dan sudah dimakan orang, totalnya sebanyak 1.404.000 biji laklak. Lha, hitungan dari mana itu?
Sang ahli laklak, I Gede Rena Purdiasa alias Renggo, memaparkan pada masa sebelum pandemi Warung Djadja Laklak menghabiskan kira-kira 7 hingga 14 kilogram tepung beras untuk membikin laklak setiap harinya. Pada masa pandemi Covid-19, kira-kira mulai Maret 2020, tepung beras yang dihabiskan sekitar 5 hingga 7 kilogram.
Mari kita ambil rentang jumlah kira-kira tepung beras yang dihabiskan sejak sebelum pandemi sampai saat pandemi, yakni sekitar 5 sampai 14 kilogram. Dari rentang itu, kita ambil angka rata-rata di tengah, yakni rata-rata 10 kilogram tepung beras yang dihabiskan setiap hari. Sehingga dalam sebulan Warung Djadja Laklak menghabiskan sekitar 30 kilogram tepung.
Menurut Renggo, setiap sekilo tepung beras menghasilkan sekitar 120 biji laklak. Sesuai hitungan rata-rata 10 kilogram tepung beras perhari, maka dalam sehari laklak yang dihasilkan sebanyak 1.200. Dalam sebulan totalnya 36.000 biji laklak. Nah, dalam rentang 3 tahun 3 bulan atau dalam rentang 39 bulan, laklak yang sudah diproduksi dan yang sudah dikonsumsi oleh pelanggan sebanyak 1.404.000 biji laklak, atau dibulatkan jadi 1,4 juta.
Wow. Jika laklak sebanyak itu dideretkan di atas mulusnya jalan aspal Pancasari-Bedugul, kira-kira berapa panjang jalan yang ditutupi laklak?
Sekarang, pertanyaannya, siapa saja yang makan laklak di Warung Djadja Laklak Pancasari?
“Yang sempat menikmati laklak saya banyak. Ada srtis seperti Jun Bintang, Jentung, artis lawak Rare Kual, Puja Astawa, dan banyak lagi,” kata Renggo.
Selain artis, ada juga banyak pejabat, baik dari Pemkab Buleleng, maupun dari Pemkab Badung, Tabanan, atau dari Pemkot Denpasar. Banyak juga pejabat dan dosen dari Undiksha yang kerap singgah di warung Djadja Laklak Pancasar.
Tentu yang paling banyak adalah orang-orang biasa, atau orang luar biasa, yang tak dikenal. Pelanggan dari Singaraja akan singgah jika hendak ke Denpasar, demikian juga pelanggan dari Denpasar akan singgah di warung laklak itu jika hendak ke Singaraja.
Satu porsi laklak dijual Rp 5.000. Satu porsi isinya 5 biji laklak. Artinya satu laklak harganya Rp 1.000.
Warung Djadja Laklak Pancasari di pinggir jalan raya Singarajja-Bedugul
Lokasinya gampang ditemukan. Dari arah Denpasar/Bedugul, begitu memasuki gerbang perbatasan dengan tulisan Selamat Datang di Buleleng, mulailah putar gas motor atau injak gas mobil tipis-tipis. Jangan ngebut jika tak ingin kelewatan.
Nah, sekitar satu atau dua menit dari perbatasan, pandanglah ke kanan. Di situ tampak warung kecil, di depannya terdapat plang nama yang cukup mencolok dengan tulisan huruf kapital; DJADJA LAKLAK PANCASARI. Di bawah tulisan terdapat logokopi Banyuatis.
Jika dari arah Singaraja, gas mulai dipelankan mulai dari pintu masuk lapangan golf Bali Handara yang belakangan laris dijadikan tempat selfie atau foto-foto bersama keluarga. Tak sampai dua menit, lihat di kiri. Saat bertemu plang nama agak menjulang yang cukup mencolok dengan tulisan huruf kapital; DJADJA LAKLAK PANCASARI, berhentilah. Anda sudah ada di depan warung laklak itu.
Warung yang dijadikan tempat bikin laklak memang kecil. Tapi, masuklah ke belakang. Di situ ada tempat ngopi sekaligus tempat menyantap laklak dengan nyaman. Bisa sambil ngobrol sepuasnya, lalu pesan laklak lagi, kopi lagi, ngobrol lagi. Sip, pokoknya. [T]
Ini pergelaran tari Bali biasa, tetapi orang-orang yang hadir justru membludak. Maklum, pentas seni itu dibawakan oleh anak-anak dari Sekolah Luar Biasa (SLB), sehingga setiap sel...
GEMERLAP cahaya panggung di Gedung Ksirarnawa mempertegas para penari tampil dengan karakter dan busana yang berbeda. Beragam busana itu tentu bukan hiasan semata, tetapi mendukun...
Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan
Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan dunia, term...
SORE itu, Senin, 15 Juni 2026, suasana di Toko Kopi TUKU Renon tampak lebih ramai dari biasanya. Di antara antrean pelanggan yang datang silih berganti, sejumlah pegiat media dan...
SIDANG pembaca yang budiman, kemarin pagi saya mampir ke pom bensin, dititipi istri saya buat isi motornya yang hampir kosong tangkinya. Seperti jutaan orang Indonesia lainnya, sa...
Kabupaten Buleleng, tepatnya di Desa Anturan, terdapat sebuah ritual peruwatan yang masih hidup dan diwariskan secara turun-temurun. Namanya Bebayuhan Sanan Empeg. Ritual inilah y...
DI tengah modernisasi layanan pertanahan dan penerapan sertifikat elektronik, kasus sertifikat palsu dan sertifikat ganda masih terus bermunculan. Fenomena ini menimbulkan pertany...
PESTA Kesenian Bali (PKB) tahun 2026 ini telah memasuki tahun ke-48. Atmosfernya sudah tampak lewat berbagai atribut luar ruang yang dipasang, seperti baliho. Namun, entah mengapa...
DI tengah demonstrasi mahasiswa yang memprotes pemborosan anggaran, kenaikan biaya hidup, dan berbagai proyek pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada rakyat, Marx dan Marcu...
SEJAK pagi langit mendung, angin membuat barisan pohon kelapa di halaman Roemah Tumbuh Kembang menari. Padahal sudah satu minggu ini Palembang dibakar matahari. 14 Juni 2026, tepa...