Puisi-puisi I Wayan Sumahardika# Elegi Koper Tua
. ELEGI KOPER TUA Mungkin inilah saat mengemasi hati masing-masing. Memasukkannya dalam koper lusuh yang lapar. Hanya bisa mengunyah sepi sendiri. Sementara ...
Menurut cerita dari beberapa kawan yang spiritual dan sudah sampai pada tingkatan tinggi, konon semakin orang meningkat tapanya, makin meningkat juga gairah seksnya. Kedua hal itu [tapa dan seks] katanya dengan sangat meyakinkan, didasari oleh satu hal yang sama. Hal itu adalah Kama. Dengan cara yang lebih meyakinkan lagi, para sahabat saya itu berbaik hati menceritakan kepada saya salah satu bagian dari kakawin Arjuna Wiwaha. Tepatnya pada bagian ketika Arjuna digoda oleh tujuh bidadari.
Singkat padat dan jelas cerita itu mengalir ke telinga saya dan ke otak saya. Intinya, Arjuna yang semakin memperteguh tapanya konon juga semakin meninggi juga libidonya. Ketinggian dari libido itulah yang disimbolkan oleh bidadari. Saya tidak bertanya, dan seolah-olah mengerti apa yang mereka maksud dengan libido. Barangkali yang dimaksud dengan libido, adalah Kama.
Di ujung dari cerita itu, mereka dengan mata berbinar menerjemahkan maksud dari cerita epic yang baru saja saya dengar. Katanya, jika kita bisa mengendalikan Kama, maka anugerah Shiwa akan kita dapatkan. Sama seperti Arjuna. Dengan agak ragu saya bertanya, apa anugerahnya? Super tegas jawaban mereka: Manusia Sakti, tingkatan Sadhasiwa!
Begitulah cerita kemenangan Arjuna versi sahabat-sahabat saya. Saya melihat kebahagiaan yang luar biasa ketika mereka menceritakan cerita itu kepada saya. Saya sebagai pendengar, bertugas mendengan dan memikirkan lagi segala cerita itu. Dahulu, sahabat saya yang lain pernah bertanya pada suatu diskusi kepada seseorang. Karena ia adalah orang yang cerdas, pertanyaannya dilandasi oleh suatu pernyataan. Pernyataannya begini.
“Segala hal yang dimenangkan di dalam cerita, sering kali justru kalah dalam dunia nyata. Jadi apa yang dimenangkan oleh pengarang, dan apa yang kalah dari dirinya di dunia nyata?”
Jawabannya masih saya ingat, tapi tidak akan saya ceritakan disini. Jawaban atas pertanyaan itu, ada di dalam konteks lain. Saya hanya ingin mengatakan, bahwa saya setuju dengan pertanyaan itu. “Jadi, bagaimana jika kita gagal mengendalikan Kama? Bahkan justru sebaliknya, kita yang dikendalikan olehnya?”.
Seks bagi mereka yang telah sah secara tradisi dan agama, tentu saja tidak bermasalah. Tapi bagaimana dengan mereka yang belum menikah, bahkan yang jomblo? Bagaimana caranya?
Pertanyaan itu barangkali dijawab oleh teman saya dalam hatinya masing-masing dengan kata: masturbasi. Kata ini masih tabu untuk dikatakan. Karena tidak sedikit orang yang jijik mengatakannya, tapi mempraktikkannya. Kata itu tidak juga keluar dari bibir manis mereka yang tadi menceritakan segala hal tentang kebaikan. Lalu saya bertanya dengan pelan, “Masturbasi?”. Jika iya, tidakkah itu dosa? Bahkan mengucapkannya saja dilarang oleh consensus masyarakat bermoral tinggi, apalagi melakukannya.
Jika itu dosa, biarlah kita lenyapkan pada malam Shiwa yang datang saban tahun! Begitu pikir saya. Apakah ada jaminan bahwa dosa masturbasi itu bisa dilebur saat malam Shiwa? ADA. Begini bunyinya.
viva (virya) pracyāvakaś caiva linggapradhvaṃsakas tathā
mucyate nātra saṃdehaḥ śivarātryāṃ śivārcanat [39]
[demikian juga laki-laki yang masturbasi dan yang mengudungi kemaluannya: tidak diragukan mereka akan terbebas sebagai hasil pemujaannya pada Shiwa di Malam Shiwa itu] [Palguna, 1998: 73]
Dengan berlindung kepada terjemahan atas sloka di atas, saya menyatakan bahwa masturbasi yang konon adalah dosa itu, bisa dibebaskan belenggunya dari kehidupan kita yang konon super suci ini. Cara pembebasannya adalah dengan terjaga sepanjang malam dan melakukan brata Shiwa. Jadi setelah masturbasi, orang bisa melakukan praktik Shiwaratri. Tapi bagaimana kalau masturbasi dilakukan saat Shiwaratri? [T]
. ELEGI KOPER TUA Mungkin inilah saat mengemasi hati masing-masing. Memasukkannya dalam koper lusuh yang lapar. Hanya bisa mengunyah sepi sendiri. Sementara ...
Kegiatan Lomba Esai Seni Rupa Tahun 2019 merupakan bagian dari upaya untuk memfasilitasi pelajar, seniman muda, akademisi seni, dan masyarakat umum dalam berkarya tulis, aga...
Hari pencoblosan pemilu 2019 sudah hampir tiba. Layaknya pasar, setiap orang mulai menimbang serius, menawar harga, berbasa-basi antara penjual-pembeli, atau sekedar lihat-lihat l...
Solipsisme, satu problem (paham) yang menjangkit massa dalam pusaran pilpres semenjak 2014 hingga 2019. Bahwa sayalah (keAKUan) satu-satunya ide dan pemikiran benar itu, yang ada...
My father is a great man. In an instant he could have many friends; a friend I never knew his name; I've never seen his face. Those friends always take dad to a secret place. Moth...
Hari itu, Selasa 12 Maret. Pagi hari aku bergegas ke Obonk. Bekerja. Kerja membantu Bli Komang mempersiapkan berbagai perlengkapan untuk berjualan. Perlengkapan sudah siap. Bl...
Di sisi jenazah ibu, satu anak, di antara sepuluh anak yang menangis, bercerita tentang pisang: Ibu selalu menjinjing sesisir pisang pada setiap sore, melangkah agak terburu di ja...
Akhir-akhir ini pasar moderen merambah Bali tidak hanya perkotaan tetapi juga perdesaan. Ada kritik menohok yang ditujukan kepada perilaku belanja kelas menengah . Kalau merek...
Bagi kalangan umum, akuntansi itu identik dengan uang, keuangan, atau Inggris-nya money, atau Arab-nya fulus. Bahkan ada yang agak ngejek-ngejek bilang belajar akuntansi...
“Ketika tubuh manusiawi dan bumi diasumsikan memiliki sifat-sifat kesamaan alami, keduanya harus dipahami sebagai berinteraksi dan tergantung. Misteri alam oleh karena itu harus m...