Komunikasi, Menangis, Tertawa, dan Politik
SEMPAT beredar di linimasa media sosial dan pemberitaan, Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Nanik S Dayang menangis tersedu-sedu seusai meminta maaf atas kasus keracunan massa...
Menurut cerita dari beberapa kawan yang spiritual dan sudah sampai pada tingkatan tinggi, konon semakin orang meningkat tapanya, makin meningkat juga gairah seksnya. Kedua hal itu [tapa dan seks] katanya dengan sangat meyakinkan, didasari oleh satu hal yang sama. Hal itu adalah Kama. Dengan cara yang lebih meyakinkan lagi, para sahabat saya itu berbaik hati menceritakan kepada saya salah satu bagian dari kakawin Arjuna Wiwaha. Tepatnya pada bagian ketika Arjuna digoda oleh tujuh bidadari.
Singkat padat dan jelas cerita itu mengalir ke telinga saya dan ke otak saya. Intinya, Arjuna yang semakin memperteguh tapanya konon juga semakin meninggi juga libidonya. Ketinggian dari libido itulah yang disimbolkan oleh bidadari. Saya tidak bertanya, dan seolah-olah mengerti apa yang mereka maksud dengan libido. Barangkali yang dimaksud dengan libido, adalah Kama.
Di ujung dari cerita itu, mereka dengan mata berbinar menerjemahkan maksud dari cerita epic yang baru saja saya dengar. Katanya, jika kita bisa mengendalikan Kama, maka anugerah Shiwa akan kita dapatkan. Sama seperti Arjuna. Dengan agak ragu saya bertanya, apa anugerahnya? Super tegas jawaban mereka: Manusia Sakti, tingkatan Sadhasiwa!
Begitulah cerita kemenangan Arjuna versi sahabat-sahabat saya. Saya melihat kebahagiaan yang luar biasa ketika mereka menceritakan cerita itu kepada saya. Saya sebagai pendengar, bertugas mendengan dan memikirkan lagi segala cerita itu. Dahulu, sahabat saya yang lain pernah bertanya pada suatu diskusi kepada seseorang. Karena ia adalah orang yang cerdas, pertanyaannya dilandasi oleh suatu pernyataan. Pernyataannya begini.
“Segala hal yang dimenangkan di dalam cerita, sering kali justru kalah dalam dunia nyata. Jadi apa yang dimenangkan oleh pengarang, dan apa yang kalah dari dirinya di dunia nyata?”
Jawabannya masih saya ingat, tapi tidak akan saya ceritakan disini. Jawaban atas pertanyaan itu, ada di dalam konteks lain. Saya hanya ingin mengatakan, bahwa saya setuju dengan pertanyaan itu. “Jadi, bagaimana jika kita gagal mengendalikan Kama? Bahkan justru sebaliknya, kita yang dikendalikan olehnya?”.
Seks bagi mereka yang telah sah secara tradisi dan agama, tentu saja tidak bermasalah. Tapi bagaimana dengan mereka yang belum menikah, bahkan yang jomblo? Bagaimana caranya?
Pertanyaan itu barangkali dijawab oleh teman saya dalam hatinya masing-masing dengan kata: masturbasi. Kata ini masih tabu untuk dikatakan. Karena tidak sedikit orang yang jijik mengatakannya, tapi mempraktikkannya. Kata itu tidak juga keluar dari bibir manis mereka yang tadi menceritakan segala hal tentang kebaikan. Lalu saya bertanya dengan pelan, “Masturbasi?”. Jika iya, tidakkah itu dosa? Bahkan mengucapkannya saja dilarang oleh consensus masyarakat bermoral tinggi, apalagi melakukannya.
Jika itu dosa, biarlah kita lenyapkan pada malam Shiwa yang datang saban tahun! Begitu pikir saya. Apakah ada jaminan bahwa dosa masturbasi itu bisa dilebur saat malam Shiwa? ADA. Begini bunyinya.
viva (virya) pracyāvakaś caiva linggapradhvaṃsakas tathā
mucyate nātra saṃdehaḥ śivarātryāṃ śivārcanat [39]
[demikian juga laki-laki yang masturbasi dan yang mengudungi kemaluannya: tidak diragukan mereka akan terbebas sebagai hasil pemujaannya pada Shiwa di Malam Shiwa itu] [Palguna, 1998: 73]
Dengan berlindung kepada terjemahan atas sloka di atas, saya menyatakan bahwa masturbasi yang konon adalah dosa itu, bisa dibebaskan belenggunya dari kehidupan kita yang konon super suci ini. Cara pembebasannya adalah dengan terjaga sepanjang malam dan melakukan brata Shiwa. Jadi setelah masturbasi, orang bisa melakukan praktik Shiwaratri. Tapi bagaimana kalau masturbasi dilakukan saat Shiwaratri? [T]
SEMPAT beredar di linimasa media sosial dan pemberitaan, Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Nanik S Dayang menangis tersedu-sedu seusai meminta maaf atas kasus keracunan massa...
BALI hari ini sedang kehilangan fungsi oase jiwa sebagai Pulau Dewata. Di balik senyum sumringah pariwisata dan wangi asep menyan majegau yang mengepul di setiap sudut pura, terse...
WAKTU itu saya melihat judul film ini di sebuah aplikasi/platform streaming lokal. Di antara kumpulan film indonesia lainnya, Surat Dari Praha cukup mengambil perhatian saya karen...
Lebih baik aku jadi debu di tanah bayu. Asal ku menyatu dalam perlawanan. Begitulah monolog Sayu Wiwit dalam drama musikal Rempeg: Bayu Tak Pernah Padam. Ditampilkan dan diprod...
DI Bali, tempat suci idealnya menjadi ruang hening: tempat manusia menundukkan kepala, menyucikan niat, dan menata hubungan dengan yang maha kuasa. Namun dalam praktik sosial yang...
BAIT PERTAMA Baris pertama,entah sudah kutulis untukmutentang singgah pertemuandan dekap hangat mata rayumulekat rindu seakan menjadi teman Baris kedua,Pertama kali senyum t...
TOKO jam itu selalu tutup setengah hari. Terletak di pojok Jalan Salemba, diapit warung kopi dan toko plastik, toko itu seperti tak peduli zaman. Namanya “Waktu & Anak-Anak...
ISTILAH sekaa gong sebunan, atau sekaa yang anggotanya berasal dari satu desa, belakangan mulai tak terdengar gaungnya. Kini, untuk ikut Pesta Kesenian Bali (PKB) misalnya, banyak...
ETIKA politik di Indonesia dewasa ini menghadapi tantangan serius yang bersifat multidimensional. Krisis kepercayaan publik terhadap institusi politik, menguatnya pragmatisme keku...
PENDIDIKAN tinggi seni hari ini tidak lagi cukup hanya berkutat pada penguasaan teknik di dalam studio atau penghapalan teori di ruang kelas. Tantangan abad ke-21 menuntut kemampu...