Jia CURATED 2025: Bali sebagai Episentrum Kreativitas Global
PULAU Dewata kembali membuktikan dirinya bukan sekadar destinasi wisata, melainkan laboratorium ide-ide kreatif dunia. Melalui Jia CURATED 2025, sebuah perayaan lima hari yang ber...
Menurut cerita dari beberapa kawan yang spiritual dan sudah sampai pada tingkatan tinggi, konon semakin orang meningkat tapanya, makin meningkat juga gairah seksnya. Kedua hal itu [tapa dan seks] katanya dengan sangat meyakinkan, didasari oleh satu hal yang sama. Hal itu adalah Kama. Dengan cara yang lebih meyakinkan lagi, para sahabat saya itu berbaik hati menceritakan kepada saya salah satu bagian dari kakawin Arjuna Wiwaha. Tepatnya pada bagian ketika Arjuna digoda oleh tujuh bidadari.
Singkat padat dan jelas cerita itu mengalir ke telinga saya dan ke otak saya. Intinya, Arjuna yang semakin memperteguh tapanya konon juga semakin meninggi juga libidonya. Ketinggian dari libido itulah yang disimbolkan oleh bidadari. Saya tidak bertanya, dan seolah-olah mengerti apa yang mereka maksud dengan libido. Barangkali yang dimaksud dengan libido, adalah Kama.
Di ujung dari cerita itu, mereka dengan mata berbinar menerjemahkan maksud dari cerita epic yang baru saja saya dengar. Katanya, jika kita bisa mengendalikan Kama, maka anugerah Shiwa akan kita dapatkan. Sama seperti Arjuna. Dengan agak ragu saya bertanya, apa anugerahnya? Super tegas jawaban mereka: Manusia Sakti, tingkatan Sadhasiwa!
Begitulah cerita kemenangan Arjuna versi sahabat-sahabat saya. Saya melihat kebahagiaan yang luar biasa ketika mereka menceritakan cerita itu kepada saya. Saya sebagai pendengar, bertugas mendengan dan memikirkan lagi segala cerita itu. Dahulu, sahabat saya yang lain pernah bertanya pada suatu diskusi kepada seseorang. Karena ia adalah orang yang cerdas, pertanyaannya dilandasi oleh suatu pernyataan. Pernyataannya begini.
“Segala hal yang dimenangkan di dalam cerita, sering kali justru kalah dalam dunia nyata. Jadi apa yang dimenangkan oleh pengarang, dan apa yang kalah dari dirinya di dunia nyata?”
Jawabannya masih saya ingat, tapi tidak akan saya ceritakan disini. Jawaban atas pertanyaan itu, ada di dalam konteks lain. Saya hanya ingin mengatakan, bahwa saya setuju dengan pertanyaan itu. “Jadi, bagaimana jika kita gagal mengendalikan Kama? Bahkan justru sebaliknya, kita yang dikendalikan olehnya?”.
Seks bagi mereka yang telah sah secara tradisi dan agama, tentu saja tidak bermasalah. Tapi bagaimana dengan mereka yang belum menikah, bahkan yang jomblo? Bagaimana caranya?
Pertanyaan itu barangkali dijawab oleh teman saya dalam hatinya masing-masing dengan kata: masturbasi. Kata ini masih tabu untuk dikatakan. Karena tidak sedikit orang yang jijik mengatakannya, tapi mempraktikkannya. Kata itu tidak juga keluar dari bibir manis mereka yang tadi menceritakan segala hal tentang kebaikan. Lalu saya bertanya dengan pelan, “Masturbasi?”. Jika iya, tidakkah itu dosa? Bahkan mengucapkannya saja dilarang oleh consensus masyarakat bermoral tinggi, apalagi melakukannya.
Jika itu dosa, biarlah kita lenyapkan pada malam Shiwa yang datang saban tahun! Begitu pikir saya. Apakah ada jaminan bahwa dosa masturbasi itu bisa dilebur saat malam Shiwa? ADA. Begini bunyinya.
viva (virya) pracyāvakaś caiva linggapradhvaṃsakas tathā
mucyate nātra saṃdehaḥ śivarātryāṃ śivārcanat [39]
[demikian juga laki-laki yang masturbasi dan yang mengudungi kemaluannya: tidak diragukan mereka akan terbebas sebagai hasil pemujaannya pada Shiwa di Malam Shiwa itu] [Palguna, 1998: 73]
Dengan berlindung kepada terjemahan atas sloka di atas, saya menyatakan bahwa masturbasi yang konon adalah dosa itu, bisa dibebaskan belenggunya dari kehidupan kita yang konon super suci ini. Cara pembebasannya adalah dengan terjaga sepanjang malam dan melakukan brata Shiwa. Jadi setelah masturbasi, orang bisa melakukan praktik Shiwaratri. Tapi bagaimana kalau masturbasi dilakukan saat Shiwaratri? [T]
PULAU Dewata kembali membuktikan dirinya bukan sekadar destinasi wisata, melainkan laboratorium ide-ide kreatif dunia. Melalui Jia CURATED 2025, sebuah perayaan lima hari yang ber...
SETIAP tanggal 17 Agustus, seluruh rakyat Indonesia bersatu dalam semangat nasionalisme untuk memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Di berbagai penjuru negeri dilaksan...
PANGGUNG Taman Budaya Candra Bhuana, Amlapura, Sabtu, 16 Agustus, 2025 kembali menjadi saksi geliat teater sekolah. Kali ini, dua komunitas teater muda hadir dengan semangat dan t...
FILM Sore: Istri dari Masa Depan sedang menjadi topik hangat di jagat sinema Indonesia. Hampir semua timeline media sosial saya mengulas Sore dari berbagai perspektif. Dua minggu...
“DI sebelah sana, Mas. Di depan makam yang runtuh itu,” tunjuk Nano saat saya bertanya di mana letak makam Van der Tuuk—sosok yang hendak saya ziarahi. Nano sudah bekerja sebagai...
Sepuluh tahun terakhir ini hidup saya lebih banyak dihabiskan di sebuah rumah kos di Denpasar. Sebelum itu, masa muda saya sempat berpindah-pindah. Setelah tamat SMA, setahun pert...
MEMBELI produk elektronik secara online kini makin populer di kalangan masyarakat. Akses yang mudah, pilihan banyak, dan harga bersaing, membuat e-commerce menjadi solusi bagi kam...
SAMPAI detik ini, pertanyaan itu masih mengganggu kepala saya. Apa itu Osmosia? Mengapa kata ini terdengar asing, seolah bukan berasal dari bahasa manapun? Saya mencarinya di kamu...
SEBETULNYA mudah sekali memahami betapa pentingnya hubungan baik antara dokter dan pasien itu. Ini didasari oleh kepentingan yang sama yaitu mewujudkan suatu kesembuhan. Kesembuha...
RUANG sastra daerah di sekolah sempit dan redup. Menurut Hidayat (2009) pembelajaran sastra daerah bersifat aktif reseptif karena siswa tidak dapat membaca karya sastra dengan ben...