Puisi-puisi Kiki Sulistyo || Hantu Rima, Pigmen Bunyi, Martiria

Kiki Sulistyo
by Kiki Sulistyo — Januari 02, 2021 in Puisi

Tatkala.co

Malam Penjagalan


wahai, pemapar ikhbar --berkatilah hewan ini dengan

hamun dan sifat dayus, sebelum dunia membuatnya kudus.


di kandang ia terkinjat, melihat tali-jerat seakan melihat

jalur gunung,  dataran anggara, molek-alam dalam

lukisan penduduk kota, tempat induk mengasah tanduknya.


tapi tanduk cuma jimat pintu rumah, setelah upacara dan

kelambur mantra melunturkan kutuk di tengah wabah.

tak ada amnesti untuknya, tak ada palu atau pandita.

harga daging berdering dalam tidur juragan, bilamana

penjagal itu melihat pagi terayun seperti kapak,


langit berminyak, 


dan udara bengkak bagai tertimbun lemak.


(2018)


Pigmen Bunyi



sudah lama seseorang menyisir rambut; suara terompet

merembet dari palet yang dibiarkan lengket. lukisan belum jadi,

sungai masih mengarsir kabut, polesan-polesan lembut.


pigmen bunyi dari seuntai nyanyi, setelah basah gaun terseret

di permukaan batu, seseorang menunggu, lembar air dibalik

dan kekosongan menerangi bagian paling tajam dari sirip ikan.


saat itu air pasti sudah jadi helai-helai lembut, seseorang meraba,

menemukan akar kata seraya memuji kemerduan warna dari ilham

yang berenang ke lubuk dalam; kanvas suara di dinding dunia.


sudah lama seseorang menatap, kavaleri waktu menetap di lukisan

yang belum jadi. sungai lengket dalam suara terompet dan ikan-ikan

mengarsir aransemen bagi seseorang yang tak akan kembali


(2019)


Martiria


dia mengerti, bangsa tak ada bila tak ada luka

maka disimpannya potret pengungsi dengan

latar merah-besi.          kampus-kampus yang mati,

hangus, lalu berdiri lagi bagai monumen api


“Merdeka!” ratapnya.


seketika itu juga seluruh gagasan beku, sedang

batu-batu terbang ke berbagai penjuru.

para mahasiswa menemuinya

melalui brosur dan paket pariwisata.

tak ada mesiu di mata mereka

senantiasa gembira, bagai budak distrik

mengenakan setelan batik.


maka bertutur saja dia perihal armada selatan

kaigun, gugus tulang dada, juga bangkai romusha

di jalur ladang. pita suaranya membujut, sekian

umur digulung takut, hingga kelakar yang

keluar terdengar seakan bakaran gambut.

(dan mereka ikut tertawa, mereka ikut tertawa)

kaftan dan pomade, hijab dan pantalon,

tugas akhir: wawancara dengan sejarah.

mereka merasa naik ikazuchi.  ikut perang, unggah

swafoto,     colek kawan-seperbudakan.


(2018)


Anjungan


piala untuk pikiran terlarang, di anjungan

setiap pengunjung menjunjung pujian bagi

para korban perang. rapat-rapat menyimpan

rapat-rapat budi pekerti sampai saat dibagikan

sebagai percobaan perusahaan obat-obatan;

untuk anak-anak pengungsi, untuk penyangsi

yang membakar diri, mandi api di lautan oligarki.

lalu jatuh socrates, setetes demi setetes,

memanjat machiavelli setali demi setali,

mencapai negara, dan demi demit,

semua parasit politik menggigit lidah pelawak

hingga gagak-gagak menukik ke dalam putik bunga,

mengisap sari luka agar bisa kita muntahkan lagi

sebagai bisa kata-kata.


[2019]


Hantu Rima


aku hantu rima, aku tak pernah takut

pada tuts piano, buku kafka, kodok di sepatu tentara

aku cinta pada logika, kalau kau logika, aku akan

bernyanyi di depan makammu setiap hari, awan

dinihari, lewat seperti kristen stewart, melirik

puisi lirik di kantung mata penderita kusta.

aku menjadi rima setelah pura-pura percaya

semua kata tak ada artinya, bagaimana bisa,

tanya saja pada rhoma irama, o, dia sang raja

yang malih jadi entang kosasih dalam kenangan

eka kurniawan


sst, sebenarnya aku ini pengungsi,

dari lipstik aung san suu kyi-


dan kau dengar kan kata seruling sebelum tertulis

kata seruling untuk kedua kali?


[2019]


Therese Kepada Camille

                                  : Zola


perahu telah terjungkir dan kulihat hidupmu yang getir

memenuhi langit hampa. saat itu juga aku ingin menyembah

ibumu, janda tua dungu yang merebutku dari tangan serdadu.

sering kuimpikan padang-padang afrika, macan dahan, dan perang

terbuka. aku gipsi dari gurun mati, dilemparkan ke kota kotor ini.


aku rindukan dadamu, tanah malit terbuka untuk aneka penyakit

tapi kerinduanku semata dusta, bibit bunga busuk baunya

terhidu hidung pembaca; di dalam kamar mati, kulihat kecemasannya

tenggelam bersama hantumu yang basah, berusaha mendengar

suaramu menggaruk-garuk pintu rumah


pembaca itu tidak berduka, ‘kematian’, katanya, ‘hanya statistika’

dan kami menyusulmu, mengulang peristiwa ketika Laurent

melemparmu ke danau terbuka, sebelum membalik  perahu,

seperti membalik halaman pertama sebuah buku

yang terus-menerus menyeru namaku.


(2020)


Periode Biru


dinding kupu-kupu. jantung beliamu. keheningan

batas pandang manakala bimasakti membuka

tabung malam. tanganku memetik senar akustik.

di lentik jarimu. dan musik tertarik ke orbit mistik.

debar dinding itu. kupu-kupu belia itu. kita berciuman

sebentar, sebelum sebentang tulang digurat di tengah

padang. tanda pedang. tanda perang. mereka menemukan

sepasang mumi telanjang. cahaya seketika pasang.

bulan dipasang di ketinggian. bayang-bayang bunyi.

bermekaran seperti puisi. jarijarimu memetiknya; nyanyi

sunyi. terasing dari mimpi. biru bumi.


(2020)    

Tag:
Avatar

Kiki Sulistyo

Related Posts