Razia Warung? Ah, Saya Selalu Sukses Puasa Dikurung Warung
SAYA geli membaca berita tentang razia warung saat Ramadhan. Razia yang katanya demi “mengamankan” masyarakat saat bulan puasa. Ini dilakukan setiap tahun. Ada apa dengan warung? A...
Penghabiasan tahun 2020, sebelas perupa memprakarsai pergelaran pameran bersama yang bertajuk “ Diarama Cronic “ di rumah Paros, Jl. Margapati, Br. Palak, Sukawati, Gianyar, Bali.
Sebelas perupa tersebut yakni I Kadek Rudiantara (Aboetd ), Made Astika Yasa, Putu Adi Suweca (CYX Daeng), I Kadek Dedy Sumantra Yasa, Ito Joyo Atmojo, I Gede Made Surya Darma, I Made ‘’Lun’’ Subrata, I Ketut Putra Yasa, I Gusti Made Wisatawan, Raden Bagus Surya Ningrat. Mereka menampilkan karya berupa lukisan, patung dan seni Instalasi.
Made “Kaek” Dharma Susila, founder Rumah Paros merespons positif semangat para perupa untuk memamerkan karyanya. Rumah Paros merupakan sebuah ruang seni yang dibangun berdasarkan konsep Asta Kosala Kosali, sistem arsitektur rumah Bali yang dibangun sejak 20 tahun yang lalu. Bale daja Rumah Paros yang biasanya digunakan untuk menerima tamu, difungsikan sebagai ruang berkesenian. Sebab, seni dan budaya sebagai dasar hospitality sangat penting dilestarikan.
‘’Pameran kali ini sangatlah penting sebagai penutup tahun 2020. Saya menyambut baik semangat teman seniman yang begitu tinggi, di tengah kondisi pandemi. Mereka ikut mempersiapkan pameran ini secara kilat yang digagas I Kadek Dedy Sumantra Yasa,” kata Made Kaek yang juga seniman dan pelaku pariwisata ini.
“Kami memfasilitasi ruangnya sebagai tempat untuk menampilkan karya kreatifnya. Tentu dengan segala keterbatasan di masa pandemi ini. Kami harapkan semua pengunjung menerapkan protokol kesehatan dengan 3 D—memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak, menimbang kasus COVID-19 masih melanda dunia,’’ tambahnya.

Dalam kesempatan itu Made Kaek juga mendorong seniman untuk selalu bersemangat. Jangan menyerah memperkaya kegiatan seni dan budaya di Indonesia melalui jalur kesenian. ‘’Sebab, itu merupakan panggilan batin kalian, salah satu dengan membuat karya seni. Kita membuat legacy dalam hidup ini,’’ ujarnya Made Kaek yang sudah melalang buana mengikuti kegiatan kesenian dan juga terlibat dalam pameran Made Wianta dan kawan kawan di Venice Bienale.
Merespons Pandemi
Tema Diorama Cronic itu diambil sebagai respons atas situasi Pandemi Covid 19 yang sudah kronis melanda dunia. Diorama diartikan sebagai benda miniatur, tiga dimensi untuk menggambarkan suatu pemandangan atau suatu adegan. Sedangkan kronis yang biasanya banyak dipakai dalam istilah kedokteran, menunjukkan kondisi atau sifat penyakit yang telah lama terjadi. Pada kondisi ini, penyakit bersifat persisten dan biasanya telah berdampak pada beberapa sistem tubuh. Sebelas seniman yang berpameran tersebut merespons kondisi dunia yang kronis, dengan karya dua dimensi dan tiga dimensi.
Dalam karya seni yang tiga dimensi bukan lukisan, ada karya dari I Gede Made Surya Darma yang merespon krisisnya dunia di masa Pandemi ini dengan menampilkan karya berupa foto performative, dengan judul blind In Paradise, dengan memotret sosok dirinya yang matanya ditutup dengan kain putih, yang sedang makan salad buah dan toest berupa pulau, sebagai simbul akan Bali yang bergelimang pariwisata, kita dibutakan dengan kenyamanan pariwisata tersebut, dan akhirnya di masa Pandemi ini Bali mendapat pukulan keras ekonomi, karena Bali pengasilan utamanya Pariwisata.
Karya I Kadek Dedy Sumantra Yasa ini bermakna bahwa dalam masa susah ini, ada satu jalan yaitu berserah kepada-Nya, hanya menggunakan kekuatan apa adanya simbul dari satu senar tersebut.

I Ketut Putrayasa, dengan karya Instalasi dengan judul “Apa Pertimbanganya” menampilkan Krupuk sebagai representasi masyarakat kelas bawah , yg mana pada saat - saat situsi kronik ( kronis) mereka perlu adanya sebuah kepastian bukanya selalu di gantung seperti miniatur( diorama) kehidupan yang di pertontonkan, dan seakan - akan kesulitan mereka hal yg seksi , gurih dan renyah .
Kehadiran dasi mewakili eksistensi kaum elit dan hak dalam meregulasi kebijakan , namun seringkali kebijakan hari ini terasa renyah ditelinga namun esok hari , Karya I Kadek Rudianta (Aboet) menampilkan karya Modipikasi Motor, yang dia rubah seperti monster makhluk imajiner, baginya dengan berkembangya indusitri yang begitu pesat, terkadang di masa Pandemi ini, dia rasakan industry itu seperti meneror kehidupan kita layaknya monster, motor modifikasi itu simbul dari kegelisahannya tersebut, karya dari Ito Joyoatmojo. Seniman Indonesia yang lama tinggal di Swiss ini meresponsnya dengan membuat lukisan yang bertema makanan dengan microdetail.

Baginya, dengan melukiskan objek makanan secara macro, sebagai simbol untuk merespons bahwasannya di berbagai daerah, dalam menjalankan hidup di masa pandemic, makanan itu sangat penting. Banyak keluarga harus berjuang keras untuk mendapatkan makanan. Karena itu, berbagi di masa pandemi sangatlah penting.
Made Lun Subrata menampilkan lukisan abstrak yang memperlihatkan seperti pulau yang sesak dengan kehidupan, namun di sisi lain ada cahaya. Ini mengandung pesan bahwa di masa yang susah ini, tentu masih ada jalan terang untuk kita bertahan hidup.
Seniman Buyung Mentari, meresponsnya dengan lukisan batik yang berbentuk abstrak, menyimbulkan tidak menentunya masa depan yang dia rasakan. Made Surata meresponsnya dengan melukiskan kejayaan buah Vanila. Dulu buah vanilla Bali adalah emas hijau yang paling bagus diekspor ke berbagai negara. Baginya, sebagai seorang seniman dan sekaligus petani, ia ingin menyampaikan kegelisahannya bahwa vanili Bali sudah mulai langka. Ini perlu dibudidayakan untuk menopang kehidupan petani.
Begitu juga seniman lainnya seperti Made Astika Yasa, Putu Adi Suweca (CYX Daeng ) I Gusti Made Wisatawan, Raden Bagus Surya, meresponsnya dengan karya lukisan dengan mix media untuk mengungkapan kegelisahanya tentang masalah COVID-19 yang kronis tersebut. Tentu dengan kegiatan kreatif ini, kita bisa release suasana hati yang sumpek, sebagai curahan jiwa yang serba terbatas. [T} [*]
SAYA geli membaca berita tentang razia warung saat Ramadhan. Razia yang katanya demi “mengamankan” masyarakat saat bulan puasa. Ini dilakukan setiap tahun. Ada apa dengan warung? A...
JUDUL tulisan ini merupakan tema diskusi Kupang Pesta Monolog yang coba menggali daya vital teater dan perannya dalam kehidupan konkret (aktual). Bahwa teater sebagai seni...
DI Bali, lumrah bila di tempat atau kawasan yang disucikan, jika melihat sesuatu, umpamanya benda, hewan atau binatang (langka), orang sering menyebutnya “Due”. (“Due” dibaca seper...
“KINI banyak pengarang muda yang bagus. Banyak sekali,” kata Seno Gumira Ajidarma saat ngobrol singkat pada suatu pagi dengan tatkala.co di Honeymoon Guest House, Ubud, 6 Juni lalu...
SEBUAH analog yang saya anggap pas untuk menggambarkan budaya korupsi di Indonesia adalah tradisi buang sampah sembarangan. Meski lingkungan jadi kotor, menghilangkan rasa nyaman,...
HALO sahabat mahasiswa super di manapun kalian berada, selamat beraktivitas. Semoga semua hidup berbahagia dan dalam lindungan dosen yang maha buasnya. Sangat super sekali kita mas...
Buta paling buruk adalah buta politik. Dia yang buta politik adalah dia yang tidak mendengar, tidak berbicara, dan tidak berpartisipasi dalam peristiwa politik. Dia tidak tahu bahw...
DUNIA pendidikan, modal utama dalam perkembangan peradaban manusia. Inovasi-inovasi dalam ilmu pengetahuan dan teknologi mutakhir terlahir di dalamnya. Sejarah perubahan besar-bes...
PAWAI pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-38 dibuka Presiden Joko Widodo alias Jokowi, di depan Monumen Bajra Sandi, Denpasar, Sabtu (11/6). Dan betapa senang mendengar Presiden...
Menikah itu sulit, tapi bercerai ternyata jauh lebih sulit. Saat mau menikah, yang penting hanya sedikit kemantapan hati, komitmen untuk sama susah sama senang, izin orang tua, sed...