Upacara kematian bagi umat Hindu di Bali, misalnya upacara ngaben, yang dulu sering dianggap rumit dan mahal, kini tampaknya bisa dilakukan dengan mudah dan murah. Terutama jika hal itu dilakukan di Setra Adat Buleleng, tepatnya di Jalan Gajah Mada Singaraja.
Desa Adat Buleleng kini memiliki tempat petunon, atau tempat kremasi, sekaligus juga mengelola paket pitra yadnya dengan tarif yang relatif murah. Petunon ini berlokasi di sebelah timur laut areal setra, yang dilengkapi empat tempat pembakaran jenasah.
Petunon itu juga dilengkapi satu pelinggih padma, satu buah bale peyadnyan, satu buah bale pewedaan, satu buah bale pesandekan, satu buah ruang sekretariat, serta dua buah kamar mandi masing-masing untuk sulinggih dan umum. Areal parkir cukup luas. Di sekeliling tempat petunon diisi tanaman hias, agar tempat upcara itu mengesankan suasana sejuk.
Bangunan Petunon di Setra Adat Buleleng
Tempat petunon seluas 620 meter persegi itu dibangun sejak Juni 2020 oleh Desa Adat Buleleng bekerjasama dengan Suka-Suka Pengemong Pura Dalem. Dana yang dihabiskan untuk pembangunan petunon itu sebesar Rp 1,2 miliar yang diprakarsai Made Dharma Tanaya yang juga Jro Mangku Pura Dalem Buleleng serta ditambah dana BKK dari Pemerintah Provinsi Bali.
Pada Selasa (29/12/20), tempat petunon itu di-pelaspas dengan upacara yang dipuput oleh Ida Bhagawan Yoga Mimba dari Griya Taman Segara Intaran Kaliuntu.
Dan setelah itu, petunon itu sudah bisa digunakan. Pengelolanya adalah Suka Duka Pura Dalem Desa Adat Buleleng bekerjasama dengan pengelola Setra Adat Buleleng.
Terdapat empat paket pitra yadnya yang bisa dipilih sesuai keinginan dan kemampuan ekonomi. Pertama, mekingsan digeni dengan biaya sebesar Rp. 6.000.000. Kedua, ngaben alit tanpa nyekah dengan harga Rp. 10.000.000. Ketiga, pengabenan yang dilengkapi prosesi nyekah, ngelinggihang, dan nyegara gunung sebesar Rp, 15.000.000. Keempat, pengabenan yang dilengkapi proses nyekah, ngelinggihang, ngingkup, dan nyegara gunung, biayanya sebesar Rp, 17.000.000.
Peket itu layaknya seperti paket perjalanan, namun perjalanan itu adalah perjalanan bagi sang mati agar mendapatkan tempat yang layak di alam surga dan menyatu dengan Ida Sang Hyang Widi.
Jro Mangku Made Dharma Tanaya mengatakan, pembakaran jenazah menggunakan bahan bakar gas agar biaya bisa ditekan seminimal mungkin. “Untuk jangka panjang akan dibangun pembakaran dengan menggunakan listrik,” katanya.
Upacara pemelaspasan petunon di setra Adat Buleleng
Jro Mangku Made Dharma Tanaya (paling kanan)
Non Hindu pun Dilayani
Petunon Desa Adat Buleleng ini bersifat universal. Artinya, semua warga dapat memanfaatkan petunon ini, termasuk umat non Hindu. Bagaimana mengurus warga non Hindu ini, Desa Adat Buleleng sudah memiliki berbagai ketentuan bagi warga di luar krama Desa Adat Buleleng yang termaktub dalam awig-awig.
Kelian Desa Adat Buleleng Nyoman Sutrisna menjelaskan Desa Adat Buleleng selama ini memang memiliki program jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang. Program jangka menengah diantaranya melaksanakan pengabenan massal untuk meringankan beban warga masyarakat. “Untuk mengikuti perkembangan jaman maka desa adat membangun sebuah petunon,” katanya.
Sutrisna mengatakan, Setra Adat Buleleng akan terus ditata sehingga terlihat asri dan nyaman. Apalagi tahun 2021 akan dibangun kembali rumah di atas pohon kelumpang atau kepuh yang sebelumnya dimanfaatkan sebagai tempat peninjauan kapal-kapal Belanda pada masa kolonial. “Rumah penianjauan ini akan dijadikan salah satu obyek wisata religi di wewidangan desa adat Buleleng,” katanya.
Kelian Desa Adat Buleleng Nyoman Sutrisna (tengah) dan Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana (kanan) saat pemelaspasan petunon di Setra Adat Buleleng
Sementara itu, Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana yang hadir dalam upacara pemelaspasan mengharapkan petunon itu benar-benar bisa meringankan beban masyarakat, khususnya masyarakat Bulelen, serta mampu memberikan manfaat besar bagi umat Hindu di Buleleng.
“Karena sekarang ini memang sudah zamannya. Zaman itu kan berubah terus sesuai dengan keperluan dan kepentingan masyarakat. Sepanjang itu membantu umat, sepanjang itu manfaatnya banyak bagi umat, saya sangat setuju. Karena banyak yang dipermudah dan banyak yang dibantu meringankan bebannya. Karena kita lihat seperti sekarang ini upakara mahal. Kalau pihak petunon bisa mempermudah, biaya jauh lebih murah namun upakaranya tetap sama,”katanya.
Pihak yang akan mengelola petunon ini juga diminta untuk jangan pernah mengurangi arti dan makna dari upakara. Serta terus lakukan sosialisasi agar tidak menimbulkan perbedaan persepsi masyarakat. Selama makna dan artinya tetap sama, adanya petunon ini pasti akan sangat membantu dan sangat meringankan beban masyarakat. Di samping itu, hal ini merupakan sebuah pilihan dan dengan tujuan yang sama. "Namun pemandangan kita saja yang berbeda. Jadi harus perbanyak sosialisasi. Kalau bisa lebih ringan lagi (dari sisi harga). Itu lebih baik,” ucap Agus Suradnyana. [T][Editor: Adnyana]
DERU puluhan sepeda motor bergema dari arah utara Kota Singaraja pada Senin, 29 Juni 2026. Satu per satu kendaraan itu bergerak perlahan melintasi Jalan Ngurah Rai menuju Gedung D...
Bali Kembali Diserang, Kali Ini Tanpa Ledakan
TANGGAL 12 Oktober 2002 menjadi salah satu hari paling kelam dalam sejarah Bali. Ledakan bom merenggut ratusan nyawa dan menggunca...
NOTARIS pada hakikatnya merupakan salah satu pilar utama dalam menjaga kepastian hukum, khususnya dalam lalu lintas perdata, investasi, pembentukan badan usaha, hingga berbagai tr...
PEMBACA tak perlu mengukur jarak antara Plaju dan Hawkins, apalagi harus repot-repot mencari tahu apa yang hendak dihidangkan di sana, sebab keniscayaan yang akan pembaca dapati....
HAMPIR saja tim nasional sepak bola Republik Indonesia lolos ke Piala Dunia 2026 yang dihelat di tiga negara, Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Iya, hampir saja. Itu berarti b...
Ketika anak-anak itu bermain riang, ruang Gedung Mario berubah menjadi area interaktif, sangat dinamis dan terkesan lebih hidup. Langit-langit tinggi dan tiang-tiang bangunan ikut...
KEMBALINYA seni Arja di Banjar Bukit Buwung, Kesiman, tidak dapat dipahami semata sebagai upaya revitalisasi kesenian tradisional, melainkan sebagai proses pemulihan roh kebudayaa...
IRONI terbesar abad ke-21 mungkin bukan ketika mesin mulai mampu berbicara. Ironinya justru ketika mesin mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang telah lama berhenti diajukan m...
PADA tahun 1999 sampai 2005 saya sempat membantu Bre Redana, mengkurasi karya-karya seni rupa yang berdialog dengan cerpen. Waktu itu, Bre Redaktur Kompas Minggu.
Bagi saya, it...