Random Note #3 - Dan… Lalu… Rabu Wage Dungulan Terlewati
Senja turun, kunci masuk, sebuah kantung plastik menggantung, kolam yang keruh, mendung yang menggantung, tas punggung, tongkat. Dan… lalu…? Jalan menurun, daun-daun membu...
Anak muda Bali kini umumnya jarang pernah melihat kalender Bali dalam bentuk lontar. Yang dilihat biasanya adalah "versi cetak lontar kalender" yang dipopulerkan oleh Bapak Bambang Gede Rawi, yang bisa kita sebut sebagai tokoh modernisasi kalender Bali. Beliau telah berjasa "memindahkan" isi lontar kalender ke bentuk kertas cetak sehingga bisa diproduksi massal.
Tentang tokoh kalender ini, beberapa sumber menyebutkan, sekitar awal 1940-an Gde Rawi yang menjabat sebagai perbekel di Celuk, Gianyar, terkenal sebagai pakar perhitungan baik buruk hari atau Wariga. Rumahnya menjadi tujuan bagi banyak orang untuk berkonsultasi tentang hari-hari baik untuk upacara dan kegiatan adat lainnya. Namanya sebagai ahli Wariga terkenal, akhirnya tokoh-tokoh adat dan agama se-Kabupaten Gianyar mendesaknya untuk menyusun kalender yang bisa jadi rujukan bersama umat awam. Awalnya ia menolak permintaan tersebut. Namun, dalam rapat-rapat sulinggih Bali-Lombok sekitar tahun 1948-1949, desakan tersebut ditulis dalan bentuk keputusan untuk menugasi dan memberi kepercayaan kepada Gde Rawi untuk menyusun kalender Bali yang bisa menjadi panduan masyarakat Bali. Setahun kemudian kalender hasil rumusannya tersebut dicetak oleh penerbit Pustaka Balimas. Semenjak itu kalender Bambang Gede Rawi tersebar sampai kini.
Lontar-lontar rujukannya tidak banyak diungkit. Ada berbagai rujukan yang dipakai diantaranya Lontar Indik Sasih, Lelanusan, Pawukon, Tenung Sapta Wara, Parindikan Dewasa, Tetubahan, serta berbagai lontar-lontar Wariga lainnya.
Lontar-lontar kalender umumnya berbentuk lontar embat-embatan yang digantung di bale atau dapur masyarakat Bali di masa lalu. Keberadaan kini sudah sangat jarang, umumnya hanya disimpan oleh pewarisnya yang kebanyakan tidak bisa membaca aksara Bali dan buta perhitungan kalender Bali versi lontar.
Dengan lontar-lontar kalender, dan juga pedoman tika (tabel-grafis-diagram terbuat dari kayu atau ulantaga yang berisi pedoman perhitungan kalender Bali), masyarakat Bali tradisional mengatur sedemikian rupa berbagai kegiatannya, dari bertani, beternak, menikah, mulai membangun rumah dan peresmian berbagai bangunan suci dan perumahan, serta berbagai aspek kehidupan masyarakat Bali.


Berikut di bawah ini penjelasan sekilas apa itu kalender Bali dikutip dari kalenderbali.org
Kalender yang berkembang di masyarakat Hindu Bali yang sering disebut dengan Kalender Bali merupakan gabungan dari Kalender Gregorian (Kalender Masehi), Kalender Saka Bali dan Kalender Tika. Kalender Gregorian (Kalender Masehi) adalah kalender yang digunakan secara internasional yang menggunakan perhitungan Tahun (Tarikh) Masehi. Tarikh Masehi termasuk Tarikh Surya (Solar System). Kalender Saka Bali adalah Kalender Saka yang berkembang di Bali dengan menggunakan Tarikh Candra yang disesuaikan dengan Tarikh Surya. Sedangkan Kalender Tika merupakan kalender tradisional Bali yang termasuk non-astronomik, disusun berdasarkan Pawukon/Wuku dan Wewaran.
Kalender Tika tidak memperdulikan posisi astronomik sama sekali, namun penggunaannya bagi Masyarakat Bali tidak dapat dipisahkan dari penggunaan Kalender Saka Bali. Upacara keagamaan (yadnya) seperti piodalan di Pura diselenggarakan selain berdasarkan Pawukon juga menggunakan Pananggal atau Panglong dalam Sistem Kalender Saka Bali. Walaupun demikian, dalam kehidupan sehari-hari Masyarakat Bali tetap menggunakan Kalender Gregorian yang ditetapkan secara internasional.
Kalender Bali menggunakan aturan sebagai berikut:
Senja turun, kunci masuk, sebuah kantung plastik menggantung, kolam yang keruh, mendung yang menggantung, tas punggung, tongkat. Dan… lalu…? Jalan menurun, daun-daun membu...
Orasi ini disampaikan Wayan Juniarta pada peluncuran Buku Antologi Puisi "Saron" di Jatijagat Kampung Puisi (JKP), Renon, Denpasar, Minggu (23/12/2018) malam: Di antara 8,9 ju...
Lagi-lagi Soe Hok Gie. Ya, saya tidak akan pernah merasa bosan untuk terus menuliskan tentang Gie. Sebab, bagi saya, riwayat hidup Soe Hok Gie adalah oase di tengah-tengah gerakan...
Kata para bijak, guru konon ditemukan oleh orang yang siap menjadi murid. Tapi pada kenyataannya banyak calon murid yang mengeluhkan tidak mendapatkan guru. Keluhan ini terung...
Kata-kata yang sering didengar dan kerap menjadi kutipan anak muda, dan viral di dunia maya adalah kata-kata bahasa Bali yang terdengar enak untuk mematahkan lawan bicara, namun c...
Jika anda mendengar nama Prof. Dr. Putu Kerti Nitiasih, M.A apa yang terlintas di benak anda? Seorang profesor yang tegas, galak, atau penuh kasih dan toleran? Atau anda tel...
Lika-liku perjalanan sebuah band adalah bagian histori menapak dunia music, terlepas dari genre apapun yang disajikan. Pergolakan yang dijalankan ibarat bumbu mendewasakan diri. D...
Sebenarnya baru sempat mengikuti kekaryaan Wayan Upadana dua tahun terakhir, dan beberapa bulan lalu mendapat kesempatan untuk menulis pamerannya di Yogyakarta. Kalau dilihat seki...
Topik tentang keseimbangan Bali utara dan Bali selatan tampaknya selalu hot, apa sih penyebabnya? Padahal ada Bali timur, Bali barat dan Bali-Bali lainnya… Kini saya ingin menu...
Buku bagiku seperti makanan. Ketika aku ingin membaca buku baru, rasanya sama seperti aku lapar dan ingin menyantap makanan dengan menu baru. Ketika aku mambaca buku den...