Puisi-puisi Muhammad Daffa # Sajak Kepada Cinta
MELUKIS PETANG DI SEBUAH SAJAK dan kata-kata meredam nyeri kita sebelas musim yang runtuh pasca bahasa hanya angin, memulai narasi langit adalah kegaiban waktu...
Anak muda Bali kini umumnya jarang pernah melihat kalender Bali dalam bentuk lontar. Yang dilihat biasanya adalah "versi cetak lontar kalender" yang dipopulerkan oleh Bapak Bambang Gede Rawi, yang bisa kita sebut sebagai tokoh modernisasi kalender Bali. Beliau telah berjasa "memindahkan" isi lontar kalender ke bentuk kertas cetak sehingga bisa diproduksi massal.
Tentang tokoh kalender ini, beberapa sumber menyebutkan, sekitar awal 1940-an Gde Rawi yang menjabat sebagai perbekel di Celuk, Gianyar, terkenal sebagai pakar perhitungan baik buruk hari atau Wariga. Rumahnya menjadi tujuan bagi banyak orang untuk berkonsultasi tentang hari-hari baik untuk upacara dan kegiatan adat lainnya. Namanya sebagai ahli Wariga terkenal, akhirnya tokoh-tokoh adat dan agama se-Kabupaten Gianyar mendesaknya untuk menyusun kalender yang bisa jadi rujukan bersama umat awam. Awalnya ia menolak permintaan tersebut. Namun, dalam rapat-rapat sulinggih Bali-Lombok sekitar tahun 1948-1949, desakan tersebut ditulis dalan bentuk keputusan untuk menugasi dan memberi kepercayaan kepada Gde Rawi untuk menyusun kalender Bali yang bisa menjadi panduan masyarakat Bali. Setahun kemudian kalender hasil rumusannya tersebut dicetak oleh penerbit Pustaka Balimas. Semenjak itu kalender Bambang Gede Rawi tersebar sampai kini.
Lontar-lontar rujukannya tidak banyak diungkit. Ada berbagai rujukan yang dipakai diantaranya Lontar Indik Sasih, Lelanusan, Pawukon, Tenung Sapta Wara, Parindikan Dewasa, Tetubahan, serta berbagai lontar-lontar Wariga lainnya.
Lontar-lontar kalender umumnya berbentuk lontar embat-embatan yang digantung di bale atau dapur masyarakat Bali di masa lalu. Keberadaan kini sudah sangat jarang, umumnya hanya disimpan oleh pewarisnya yang kebanyakan tidak bisa membaca aksara Bali dan buta perhitungan kalender Bali versi lontar.
Dengan lontar-lontar kalender, dan juga pedoman tika (tabel-grafis-diagram terbuat dari kayu atau ulantaga yang berisi pedoman perhitungan kalender Bali), masyarakat Bali tradisional mengatur sedemikian rupa berbagai kegiatannya, dari bertani, beternak, menikah, mulai membangun rumah dan peresmian berbagai bangunan suci dan perumahan, serta berbagai aspek kehidupan masyarakat Bali.


Berikut di bawah ini penjelasan sekilas apa itu kalender Bali dikutip dari kalenderbali.org
Kalender yang berkembang di masyarakat Hindu Bali yang sering disebut dengan Kalender Bali merupakan gabungan dari Kalender Gregorian (Kalender Masehi), Kalender Saka Bali dan Kalender Tika. Kalender Gregorian (Kalender Masehi) adalah kalender yang digunakan secara internasional yang menggunakan perhitungan Tahun (Tarikh) Masehi. Tarikh Masehi termasuk Tarikh Surya (Solar System). Kalender Saka Bali adalah Kalender Saka yang berkembang di Bali dengan menggunakan Tarikh Candra yang disesuaikan dengan Tarikh Surya. Sedangkan Kalender Tika merupakan kalender tradisional Bali yang termasuk non-astronomik, disusun berdasarkan Pawukon/Wuku dan Wewaran.
Kalender Tika tidak memperdulikan posisi astronomik sama sekali, namun penggunaannya bagi Masyarakat Bali tidak dapat dipisahkan dari penggunaan Kalender Saka Bali. Upacara keagamaan (yadnya) seperti piodalan di Pura diselenggarakan selain berdasarkan Pawukon juga menggunakan Pananggal atau Panglong dalam Sistem Kalender Saka Bali. Walaupun demikian, dalam kehidupan sehari-hari Masyarakat Bali tetap menggunakan Kalender Gregorian yang ditetapkan secara internasional.
Kalender Bali menggunakan aturan sebagai berikut:
MELUKIS PETANG DI SEBUAH SAJAK dan kata-kata meredam nyeri kita sebelas musim yang runtuh pasca bahasa hanya angin, memulai narasi langit adalah kegaiban waktu...
Dua film dokumenter karya remaja Denpasar ditayangkan di ajang Kongres Dunia Organisasi Kota-kota Warisan Dunia (The Organization of World Heritage Cities - OWHC) ke-15 yang digel...
Judul Film: Koki-koki CilikSutradara: Ifa isfansyahProduser : Toha EssaProduksi: MNC PicturesGenre: Drama Anak Indonesia Rilis: Juni 2018 Pemain: Farras Fatik sebagai Bima, Chloe...
Kemajuan teknologi informasi terutama kehadiran media digital telah menggerakkan representasi hingga ketataran simulakrum yang sangat kompleks. Di mana realitas terekonstruksi ata...
Mungkin lebih sering aula Soka Indah Restaurant & Bungalow digunakan untuk acara-acara penting, seperti pernikahan, syukuran, kelulusan, atau acara-acara perayaan lain, yang b...
Dalam urusan mudik Lebaran Idul Fitri, saya termasuk nyantai, agak bertolak belakang dengan kebiasaan saudara senasib lainnya yang sama-sama hidup di perantauan. Saya tidak tahu i...
Hari kelulusan siswa SMA/SMK sudah berlangsung beberapa waktu lalu. Betapa kelulusan itu disambut rasa senang mendalam. Aksi corat-coret baju seragam masih jadi tradisi, sepertiny...
"Si lemah tidak pernah memaafkan. Memaafkan adalah atribut bagi si kuat." (Mahatma Gandhi) Selalu ada misteri dalam hidup. Misteri selalu membawa daya tarik dan senantiasa me...
Pada pagi ini, dalam perjalanan saya mengantar pesanan ayam betutu mertua saya di daerah Teuku Umar Denpasar, saya melihat banyak umat Muslim yang datang berbondong-bondong ke mas...
Ekskavasi arkeologi dilakukan oleh Balai Arkeologi Denpasar, di Tanjung Ser, Desa Pemuteran, Kecamatan Gerokgak, Buleleng, Bali, 23-31 Mei 2019. Puluhan pecahan gerabah dan cangka...