Protokol Penanganan Covid-19 Desa Munduk, Buleleng - [Bisa Ditiru]
Ketika saya menulis tentang pembuatan draft protokol penanganan Covid-19 di desa saya, banyak sekali teman yang men-japri untuk meminta copy-nya dan meminta saya men-share-nya ke...
Anak muda Bali kini umumnya jarang pernah melihat kalender Bali dalam bentuk lontar. Yang dilihat biasanya adalah "versi cetak lontar kalender" yang dipopulerkan oleh Bapak Bambang Gede Rawi, yang bisa kita sebut sebagai tokoh modernisasi kalender Bali. Beliau telah berjasa "memindahkan" isi lontar kalender ke bentuk kertas cetak sehingga bisa diproduksi massal.
Tentang tokoh kalender ini, beberapa sumber menyebutkan, sekitar awal 1940-an Gde Rawi yang menjabat sebagai perbekel di Celuk, Gianyar, terkenal sebagai pakar perhitungan baik buruk hari atau Wariga. Rumahnya menjadi tujuan bagi banyak orang untuk berkonsultasi tentang hari-hari baik untuk upacara dan kegiatan adat lainnya. Namanya sebagai ahli Wariga terkenal, akhirnya tokoh-tokoh adat dan agama se-Kabupaten Gianyar mendesaknya untuk menyusun kalender yang bisa jadi rujukan bersama umat awam. Awalnya ia menolak permintaan tersebut. Namun, dalam rapat-rapat sulinggih Bali-Lombok sekitar tahun 1948-1949, desakan tersebut ditulis dalan bentuk keputusan untuk menugasi dan memberi kepercayaan kepada Gde Rawi untuk menyusun kalender Bali yang bisa menjadi panduan masyarakat Bali. Setahun kemudian kalender hasil rumusannya tersebut dicetak oleh penerbit Pustaka Balimas. Semenjak itu kalender Bambang Gede Rawi tersebar sampai kini.
Lontar-lontar rujukannya tidak banyak diungkit. Ada berbagai rujukan yang dipakai diantaranya Lontar Indik Sasih, Lelanusan, Pawukon, Tenung Sapta Wara, Parindikan Dewasa, Tetubahan, serta berbagai lontar-lontar Wariga lainnya.
Lontar-lontar kalender umumnya berbentuk lontar embat-embatan yang digantung di bale atau dapur masyarakat Bali di masa lalu. Keberadaan kini sudah sangat jarang, umumnya hanya disimpan oleh pewarisnya yang kebanyakan tidak bisa membaca aksara Bali dan buta perhitungan kalender Bali versi lontar.
Dengan lontar-lontar kalender, dan juga pedoman tika (tabel-grafis-diagram terbuat dari kayu atau ulantaga yang berisi pedoman perhitungan kalender Bali), masyarakat Bali tradisional mengatur sedemikian rupa berbagai kegiatannya, dari bertani, beternak, menikah, mulai membangun rumah dan peresmian berbagai bangunan suci dan perumahan, serta berbagai aspek kehidupan masyarakat Bali.


Berikut di bawah ini penjelasan sekilas apa itu kalender Bali dikutip dari kalenderbali.org
Kalender yang berkembang di masyarakat Hindu Bali yang sering disebut dengan Kalender Bali merupakan gabungan dari Kalender Gregorian (Kalender Masehi), Kalender Saka Bali dan Kalender Tika. Kalender Gregorian (Kalender Masehi) adalah kalender yang digunakan secara internasional yang menggunakan perhitungan Tahun (Tarikh) Masehi. Tarikh Masehi termasuk Tarikh Surya (Solar System). Kalender Saka Bali adalah Kalender Saka yang berkembang di Bali dengan menggunakan Tarikh Candra yang disesuaikan dengan Tarikh Surya. Sedangkan Kalender Tika merupakan kalender tradisional Bali yang termasuk non-astronomik, disusun berdasarkan Pawukon/Wuku dan Wewaran.
Kalender Tika tidak memperdulikan posisi astronomik sama sekali, namun penggunaannya bagi Masyarakat Bali tidak dapat dipisahkan dari penggunaan Kalender Saka Bali. Upacara keagamaan (yadnya) seperti piodalan di Pura diselenggarakan selain berdasarkan Pawukon juga menggunakan Pananggal atau Panglong dalam Sistem Kalender Saka Bali. Walaupun demikian, dalam kehidupan sehari-hari Masyarakat Bali tetap menggunakan Kalender Gregorian yang ditetapkan secara internasional.
Kalender Bali menggunakan aturan sebagai berikut:
Ketika saya menulis tentang pembuatan draft protokol penanganan Covid-19 di desa saya, banyak sekali teman yang men-japri untuk meminta copy-nya dan meminta saya men-share-nya ke...
Siapa yang tidak mengenal Superman is Dead alias SID. Band punk rock asal Bali yang sudah mendunia. Karya-karyanya banyak yang hits dan selalu didengarkan di seluruh tanah air...
Cerpen Wayan Martino Di sebuah desa kecil di balik Gunung A, tinggalah seorang pemuda tanggung, belia dalam usia, dewasa dalam sikap hidup. Ia seorang pengumpul kayu bakar, sab...
Oleh: I Wayan Artika – Batungsel, Pupuan, Tabanan Jadi, kalau demikian adanya, apa makna rumah selama ini? Mengapa berdiam di rumah seakan penjara? Semua orang ingin memiliki r...
Nyepi 1942 Saka barangkali menjadi perayaan Nyepi paling berbeda dengan Nyepi tahun-tahun sebelumnya. Bukan hanya karena Nyepi yang jatuh berbarengan dengan Buda Kliwon Pahang –ra...
Hari ini merupakan hari yang membahagiakan bagi yang terhormat Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Bali. Bagaimana tidak bahagia, hari ini mereka menjalani Rapi...
Oleh: Ni Kadek Karina Dewi - SMAN Bali Mandara Mentari mulai menampakkan senyumnya. Cahayanya merambat masuk ke dalam kamar.Kicauan burung kudengar bersahutan sahutan, seperti...
Membaca tulisan penulis muda berbakat asal Bangli yang sekaligus sahabat baik saya, IGA Darma Putra, yang berjudul "Kepada Alit Joule, Sampai Jumpa di Rumah” membuat saya terharu....
Oleh: Ni Luh Novitasari -- Desa Bebetin, Sawan, Buleleng Ini cerita tentang aku. Aku yang lahir di tengah keluarga sederhana,tumbuh dan besar tanpa kedua orang tua. Ibu satu-sa...
Oleh: Kadek Wika Arinata -- SMAN Bali Mandara Ini cerita sekitar tahun 2014-2015, perihal tentang seorang nenek, ibu dan anak. Mimpi’ suatu kata yang begitu familiar ditelin...